SALAM SERAMBI

Sudah Bolos Merokok Pula, Siswa Pantas Ditindak

HARIAN Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin, an­tara lain, memberitakan ulah sejumlah siswa di Blang­pidie, ibu kota Kabupaten Aceh Barat Daya

Sudah Bolos Merokok Pula, Siswa Pantas Ditindak
SERAMBINEWS.COM/FOR SERAMBINEWS
Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di salah satu kecamatan di kabupaten Abdya kena razia karena bolos saat jam belajar, dan kedapatan merokok, Jumat (20/9/2019). 

HARIAN Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin, an­tara lain, memberitakan ulah sejumlah siswa di Blang­pidie, ibu kota Kabupaten Aceh Barat Daya yang bolos pada jam sekolah dan berkeliaran di luar. Mereka juga di­pergoki sedang pesta rokok.

Ulah mereka terungkap saat dirazia oleh petugas Sa­tuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah (Satpol PP dan WH) Aceh Barat Daya saat bolos pada jam bela­jar, Jumat (8/11/2019) di kompleks perkantoran pem­kab setempat.

Dalam razia yang dipimpin oleh Sekretaris Satpol PP dan WH Aceh Barat Daya, Nazaruddin MM, itu para sis­wa yang kepergok sedang merokok langsung lari pontang-panting menghindar dari sergapan petugas.

Begitupun, petugas berhasil mengamankan dua siswa yang tak sempat lari. Mereka ditemukan dalam keadaan masih berseragam Pramuka dan di jari mereka masing-masing ada rokok yang sudah tersulut.

Setelah diamankan sebentar, kedua siswa yang bo­los itu kemudian diserahkan kepada orang tua masing-masing untuk dibina.

Upaya ini merupakan tindak lanjut dari permintaan Wa­kil Bupati Aceh Barat Daya agar Satpol PP aktif mengatasi anak sekolah yang berkeliaran pada jam belajar. Apala­gi kalau mereka melakukan hal-hal yang tidak terpuji saat bolos, misalnya merokok, main judi online, nonton video porno, atau bahkan mengonsumsi narkoba.

Pembaca yang budiman. Kisah yang tersaji dalam pem­beritaan Serambi Indonesia ini bukanlah peristiwa besar dan baru, mengingat hal serupa kerap terjadi di hampir seluruh kabupaten/kota di Aceh. Namun, kalau kita te­rus abai dan menganggap hal ini persoalan kecil atau se­pele, maka jangan heran kalau peristiwa serupa akan te­rus terulang. Ada kalanya anak orang lain yang kedapatan merokok saat bolos sekolah dan di lain waktu jangan ka­get kalau pelakunya adalah anak kita sendiri.

Rokok memang sesuatu yang masih debatable. Tapi anak sekolah yang belum punya penghasilan lalu mero­kok, itu sungguh hal yang sulit diterima akal sehat.

Bukan saja mereka secara sadar meracuni hidupnya, tapi juga memaksakan diri untuk memperoleh rokok de­ngan cara-cara tidak terhormat. Misalnya, meminta kepa­da teman, diam-diam mencuri rokok ayahnya di rumah, atau bahkan menahan diri tak jajan di kantin sekolah lalu uangnya dibelikan rokok.

Kebiasaan seperti ini bila terus terpupuk dengan kon­sisten, maka yang kita tuai kelak adalah generasi pero­kok. Bagi Aceh, perokok adalah komunitas yang, maaf, tercitrakan buruk. Secara nasional, hanya di Aceh pero­koknya luar biasa bernafsu. Mereka rata-rata mengisap rokok 19,5 batang per hari. Lebih dari 70 persen perokok berat di Aceh adalah orang miskin.

Ini sebab, BPS bersama Bank Indonesia, bahkan Bap­peda, selalu mengklaim bahwa konsumsi rokok di Aceh berkorelasi dengan kemiskinan. Orang miskin yang mero­kok tak sempat menabung, karena uang ekstranya diha­biskan untuk rokok.

Di sisi lain, Badan Narkotika Nasional (BNN) Provin­si Aceh sudah lama mendapat fakta bahwa rokok adalah pintu gerbang jadi narkobais. Jangan kaget bahwa jumlah pelajar dan mahasiswa di Aceh saat ini yang terpapar nar­koba sudah mencapai 69.066 orang. Angka ini lebih ting­gi dari jumlah pekerja/pegawai di Aceh yang positif narko­ba, hanya sekitar 48.000 orang.

Artinya, pelajar dan mahasiswa yang umumnya belum punya penghasilan tetap, tapi justru paling banyak me­ngonsumsi narkoba. Kalau kita biarkan mereka terus me­rokok dan bolos sekolah, mau jadi apa mereka kelak? Tak mungkinlah Aceh yang termiskin di Sumatra kita se­rahkan estafet kepemimpinannya kepada generasi pen­candu rokok dan sudah rusak karena narkoba.

Maka, kalau sekarang dipergoki ada siswa yang bolos dan petentang-petenteng merokok di ruang publik, tindak saja! Panggil orang tuanya agar serius melakukan pembinaan. Se­mua ini demi kebaikanmasa depan mereka dan kemaslahatan bersama. Kalau kita tak tegas memerangi rokok dan narkoba, juga siswa malas, jangan pernah berharap Aceh Hebat.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved