Minggu, 12 April 2026

Jurnalisme Warga

Keubeu Weng, Teknologi Tradisional Pengolah Air Tebu

Diakui atau tidak, Pidie yang sebelum era kemerdekaan bernama Poli atau Pedir memiliki beragam kebudayaan yang unik

Editor: bakri
IST
MUHAMMAD SYAWAL DJAMIL, Guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Pidie Raya, melaporkan dari Sigli 

OLEH MUHAMMAD SYAWAL DJAMIL, Guru Sekolah Sukma Bangsa Pidie dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Pidie Raya, melaporkan dari Sigli

Diakui atau tidak, Pidie yang sebelum era kemerdekaan bernama Poli atau Pedir memiliki beragam kebudayaan yang unik dan tentunya menjadi suatu keunggulan tersendiri dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya di Aceh.

Kebudayaan di Pidie ada yang berbentuk seni seperti tarian seudati dan lainnya, tapi ada juga yang berbentuk benda, semisal langai, yok creuh, keubeu weng, dan lain-lain.

Langai dan yok creuh merupakan alat pertanian tradisional yang digunakan para petani di Pidie atau Aceh secara keseluruhan untuk mengolah lahan pertaniannya. Penggunaan langai dan yok creuh biasanya dibantu oleh hewan ternak yang dianggap bertenaga semisal kerbau atau sapi.

Sebelum masuknya teknologi pertanian yang lebih modern, seperti traktor, di Pidie acap kali dijumpai orang yang menggarap lahan pertaniannya menggunakan langai dan yok creuh. Oleh manusia, kerbau atau sapi selain dijadikan hewan ternak yang sewaktu-waktu dijual bila ada keperluan mendesak atau untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, kerbau juga banyak dimanfaatkan untuk menunjang aktivitas manusia sebagai pemiliknya.

Mengolah manisan

Kita sering lihat kerbau dan sapi dimanfaatkan tenaganya di bidang pertanian untuk menggarap dan juga dipergunakan pada bidang transportasi, misalnya untuk mengangkut barang. Nah, di Pidie, kerbau tidak hanya dimanfaatkan energinya pada dua bidang tersebut, melainkan juga pada bidang lain, yakni untuk mengolah air tebu hingga menjadi manisan.

Air tebu memang banyak manfaatnya, selain bisa diolah menjadi gula. Air tebu juga bisa diolah menjadi manisan (Aceh: meulisan). Manisan adalah hasil olahan dari tebu yang dibuat mengental dengan cara dimasak dalam durasi yang lama. Manisan ini sering digunakan masyarakat sebagai bumbu pelengkap pada berbagai makanan, seperti pada rujak, kue kering, dan sebagainya.

Manisan memiliki warna merah kehitaman yang agak pekat dengan tekstur lengket nan kuat. Rasa manisnya pun lebih tinggi dibandingkan gula. Makanya pada makanan yang membutuhkan rasa manis, seperti rujak, masyarakat di desa lebih mengutamakan manisan ketimbang gula.

Aktivitas produksi manisan di Pidie sudah berjalan dalam tempo waktu yang cukup lama. Konon, berjalannya aktivitas ini tak lain karena kreatifnya orang Pidie dalam mengelola teknologi tradisional dengan memanfaatkan energi hewan ternaknya, yakni kerbau.

Masyarakat Pidie menamakan teknologi tradisional ini keubeu weng. Penamaan ini tak luput dari cara kerja alat pengolah air tebu yang baru beroperasi hanya ketika kerbau jalan memutar secara berpola. Ya, sesuai dengan diksinya pula, keubeu weng terdiri atas dua suku kata: keubeu yang bermakna kerbau dan weng yang bermakna memutar.

Dalam proses pengoperasian teknologi ini, kerbau yang dijadikan sebagai penggerak alat pengolahan ini matanya lebih dulu ditutup dengan kain gelap. Tujuannya supaya kerbau tidak terganggu konsentrasinya dalam menjalankan tugas yang diembankan sang pemilik. Kemudian di lehernya dikaitkan alat khusus yang sudah dirakit sedemikian rupa yang pabila dijalankan dengan cara memutar maka akan membuat tebu mengeluarkan airnya.

Sementara kerbau berjalan memutar secara berpola setelah mendengar aba-aba atau instruksi dari sang pemiliknya. Ia baru berhenti bila mendengar bunyi atau suara tertentu, semisal bunyi telapak kaki orang yang berjalan mendekatinya atau bunyi kendaraan bermotor yang melintas di dekatnya. Acap kali sang pemilik usaha manisan memilih tempat yang jauh dari kebisingan atau lalu lintas kendaraan bermotor, dengan maksud agar kerbau bekerja lebih efektif dalam ‘meuweng’ tebu.

Selama ini eksistensi keubeu weng  memang sudah mulai tak terdengarkan lagi, bahkan sudah banyak pula yang mulai meninggalkan profesi pengolahan air tebu menjadi manisan dengan alat yang dikenal keubeue weng ini. Hanya orang-orang tertentu yang usianya sudah sepuh yang masih setia bergelut dengan keubeu weng ini.

Sedangkan yang muda-muda terkesan tak tertarik pada dengan profesi mengoperasikan keubeu weng. Generasi muda sekarang--mungkin karena terkontaminasi pengaruh global–lebih tertarik kepada sesuatu yang instan yang bahkan membuat mereka hanya menjadi konsumen belaka.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved