Berita Banda Aceh

Pemburu Emas di Hutan Geumpang Diyakini ‘Dikendalikan’ Para Pemodal

Direktur Eksekutif Walhi Aceh, Muhammad Nur, menilai para pemburu emas di kawasan hutan Geumpang, Kabupaten Pidie, didominasi orang-orang...

Pemburu Emas di Hutan Geumpang Diyakini ‘Dikendalikan’ Para Pemodal
For Serambinews.com
Direktur Eksekutif Walhi Aceh, Muhammad Nur. 

Pemburu Emas di Hutan Geumpang Diyakini ‘Dikendalikan’ Para Pemodal

Laporan Misran Asri | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Direktur Eksekutif Walhi Aceh, Muhammad Nur menilai, para pemburu emas di kawasan hutan Geumpang, Kabupaten Pidie, didominasi orang-orang lama yang sudah membangun jaringan serta para toke bermodal besar. Sehingga penambang tradisional di sana, diduga hanya sebagian kecil saja.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Eksekutif Walhi Aceh, Muhammad Nur saat menjadi narasumber eksternal pada Program Cakrawala Radio Serambi FM 90,2 Mhz yang mengangkat judul ‘Jangan Cuma Ingat Emas, Waspadai Juga Risikonya’, Kamis (14/11/2019).

“Dulu, ketika kita dengar beko dan orangnya ditangkap, banyak yang merasa kecut untuk melakukan aktivitas penambangannya. Tapi, sekarang, jumlah alat berat yang ada di hutan Geumpang Pidie itu mungkin sudah mencapai puluhan, tapi kok tidak pernah ditertibkan. Jadi, dengan adanya alat berat yang beroperasi di sana, itu menunjukkan para pemburu emas itu bukan orang miskin, tapi para pemodal yang mengeruk isi alam Aceh,” kata Muhammad Nur.

Anggota DPRA Lelang Pin Emas untuk Bantu Pembangunan Masjid Agung Kabupaten Aceh Tamiang

Aceh Besar Buka Penerimaan CPNS, Formasi Guru Paling Banyak, Disusul Tenaga Kesehatan

Bukan Messi, Griezmann Menurun di Barcelona karena Salahnya Sendiri

Ia pun menyinggung penegakan hukum yang dinilai tak berdaya, semakin membuat para pemburu emas semakin leluasa, seiring dengan dibangun tren bahwa aktivitas pemburuan emas itu dilakukan secara tradisional sebagai azas sosial.

Padahal lanjut Muhammad Nur, azas yang sesungguhnya, adalah azas bisnis yang dilakukan oleh para pemain lama dibalik pemburuan emas di hutan Geumpang. Karena bisnis emas memiliki harga tawar tinggi, setelah minyak bumi dan gas, ungkap Direktur Eksekutif Walhi Aceh.

“Kalau ada yang bilang kasihan kalau ditindak, karena mereka penambang tradisional dan sebagainya saya bilang itu bohong. Itu hanya modus,” sebutnya.

Belum lagi masalah penggunaan bahan berbahaya seperti mercuri dan sebagainya yang dampaknya memang tidak dirasakan langsung saat ini. Tapi, efek dari penggunaan bahan berbahaya itu akan terasa beberapa tahun ke depan.

Khabib Nurmagomedov tak Berniat Melukai Lawan di UFC, Kecuali

Ia pun menerangkan aktivitas pemburuan emas tersebut akan terus berlanjut sampai emas di sana betul-betul habis dan hal tersebut juga dikarenakan penegakan hukum yang semakin tak berdaya.

Direktur Eksekutif Walhi Aceh ini mencurigai perangkat negara mulai ‘terlibat’ dalam pemburuan emas di kawasan hutan Geumpang, Pidie.

Pasalnya, penyataan Camat Geumpang, Bismi SE, kepada Serambi, dinilai sebagai bentuk dukungan, pembiaran, dan lemahnya penegakan hukum dengan menyebutkan aktivitas pencarian emas yang dilakukan dengan cara tradisional itu diyakini tidak akan merusak lingkungan.

Program Cakrawala yang dipandu oleh host Eka Nataya, tersebut juga menghadirkan narasumber internal yaitu News Manajer Serambi Indonesia, Bukhari M Ali.(*)

Jika Ahok Jadi Bos Pertamina, Gaji yang Bakal Diterima Rp 3,2 Miliar Per Bulan

Terlalu Cantik, Wanita Suku Apatani Wariskan Tradisi Sumbat Hidung, Bagaimana Cara Mereka Bernapas?

Pria Ini Bacok Tetangganya Hingga Luka Parah, Marah Anak dan Istrinya Dihina

Penulis: Misran Asri
Editor: Jalimin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved