Jurnalisme Warga
Mengenal Seluk-beluk Kopiah Riman
Membahas Pidie memang tak ada bosannya, tak ubahnya kita tak bosan melihat keindahan mawar yang sedang mekar
OLEH IDA FITRI HANDAYANI, Guru SMA 4 Banda Aceh dan Anggota Warung Penulis, melaporkan dari Sigli, Pidie
PIDIE. Siapa yang tak kenal dengan daerah sarat sejarah ini? Banyak tokoh penting Aceh lahir di kabupaten tertua itu. Letaknya di antara Kabupaten Aceh Besar dan Pidie Jaya, dengan pusat pemerintahannya di Sigli.
Membahas Pidie memang tak ada bosannya, tak ubahnya kita tak bosan melihat keindahan mawar yang sedang mekar. Banyak kekayaan alam dan keunikan budaya yang dimiliki daerah yang dipimpin Abusyik saat ini. Baik sejarah maupun kehidupan ekonominya.
Selain dikenal sebagai pusat produksi emping melinjo, muloh teupeh, dan lainnya, ada hal unik yang harus publik tahu terkait daerah kelahiran Doktor Hasan Tiro, deklarator Gerakan Aceh Merdeka ini, yakni sebagai satu-satunya wilayah yang memproduksi suvenir menarik yang dinamakan kopiah (kupiah) riman.
Kopiah atau disebut juga peci riman, merupakan produk lokal yang sudah mulai banyak dikenal oleh masyarakat. Nama riman dipakai karena kopiah tersebut terbuat dari pohon riman. (Dibaca riman, bukan reman)
Pohon riman, jenis tumbuhan yang sangat langka, kalaupun ada pastilah dalam jumlah yang sangat sedikit. Karena sulitnya mendapatkan pohon ini, akhirnya perajin mencari alternatif dengan menggunakan pohon aren untuk diolah menjadi kopiah riman. Sebabnya, kedua tumbuhan ini mempunyai serat yang hampir sama persis.
Kopiah riman merupakan produksi rumahan yang hanya dapat ditemukan di Kampong Adan, Kecamatan Mutiara, Kabupaten Pidie. Jika Anda dari pusat kota Sigli, lebih kurang 15 km jarak yang harus ditempuh untuk tiba di Adan.
Kopiah riman juga dikenal sebagai kopiah bangsawan Aceh. Dominan dipakai oleh kaum pria Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda. Namun, hanya segelintir masyarakat zaman now yang masih tertarik memakainya.
Cara membuatnya
Kopiah riman memiliki desain yang sangat unik dan beragam motif. Di antaranya pinto Aceh, pucok rebong, bungong tron, dan lain-lain. Walaupun bentuknya terkesan sederhana, tapi untuk membuat kopiah riman memerlukan kemampuan khusus, ketelatenan, dan kesabaran. Untuk menyelesaikan satu kopiah riman kadang butuh waktu 15 hari, bahkan hingga sebulan.
Proses pembuatannya terbilang rumit, karena masih menggunakan cara tradisional. Kopiah yang terbuat dari serat pohon aren ini diproses dari pembuatan benang, pelepah pohon aren yang ditumbuk-tumbuk hingga ampas seratnya terbuang. Kemudian didiamkan sampai berubah warna. Setelah serat pelepah pohon aren berubah warna, selanjutnya dipisahkan antara yang halus dan yang kasar, sebelum proses pewarnaan.
Proses perwarnaan dilakukan dengan cara serat-serat pelepah pohon aren direbus dalam belanga yang di dalamnya telah dilapisi daun keladi. Setelah serat-serat tadi dimasukan dalam belanga berisi air yang dicampur dengan daun peuno, daun bunga tanjung, dan putik kelapa, kemudian direbus sekitar sepuluh jam. Memang, ini proses yang lama, makanya dituntut kesabaran.
Setelah direbus, kemudian dicuci dengan air remasan daun peuno, lalu dijemur. Proses terakhir, barulah serat-serat tersebut dirajut menjadi kopiah riman dengan jarum.
Pemasaran
Kopiah unik ini sudah diketahui keberadaannya oleh publik, juga sudah banyak diminati konsumen. Di antara tokoh Aceh yang paling doyan memakai kopiah ini adalah Prof Ibrahim Hasan saat ia Gubernur Aceh, juga Haji Harun Keuchik Leumik, pengusaha emas di Banda Aceh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ida-fitri-handayani-guru-sma-4-banda-aceh.jpg)