Minggu, 10 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Mengenal Seluk-beluk Kopiah Riman  

Membahas Pidie memang tak ada bosannya, tak ubahnya kita tak bosan melihat keindahan mawar yang sedang mekar

Tayang:
Editor: bakri
IST
IDA FITRI HANDAYANI, Guru SMA 4 Banda Aceh dan Anggota Warung Penulis, melaporkan dari Sigli, Pidie 

Mantan bupati Pidie, Sarjani juga memakai kopiah hasil tangan masyarakat asli Pidie ini.

Bahkan dari pengakuan perajin, Dinas Sosial Aceh pun pernah ikut membantu dalam mengembangkan produksi kopiah riman. Biasanya kopiah riman dipasarkan pada hari pekan (uroe gantoe) dan di sekitar pasar. Terkadang ada konsumen yang langsung ke kediaman perajin agar bisa memesan sesuai motif dan selera pengguna.

Saat ini, kopiah riman sudah dipasarkan ke berbagai daerah, bahkan ke luar Aceh seperti Jawa dan Kalimantan. Tidak jarang pula diekspor ke Malaysia.

Pengusir setan

Kopiah riman yang berbahan dasar pohon aren, konon dipercaya dapat mengusir setan. Artis Ibu Kota, Ruben Onsu, pernah mengatakan dalam Vlog pribadi "The Onsu Family", bahwa ia menggunakan sapu aren yang diletakkan di sudut rumahnya sebagai pengusir teror mistis terhadapnya.

Kepercayaan yang kadang tidak masuk akal itu mulai memudar seiring makin berkembangnya zaman. Namun, sebagai umat Nabi Muhammad, kepercayaan itu jelas menyalahi hukum syariat.

Pohon aren bisa diolah menjadi aneka produk. Yang selalu kita temui, daun aren bisa dijadikan sapu dan serat aren bisa diolah menjadi tas, tali pinggang, kotak tisu, dan bermacam hiasan menarik sesuai kreativitas para perajin.

Prospek

Kopiah yang dibanderol dengan harga 100.000-500.000 rupiah ini memiliki masa depan yang sedikit memilukan. Dalam sebuah kesempatan, saya bertemu Pak Idris yang sehari-hari berprofesi sebagai petani, juga sebagai penjual dan pemasok kopiah riman di Pidie.

Idris bercerita kepada saya tentang kegundahan hatinya tentang masa depan kopiah riman. Kopiah superringan ini ternyata kurang diminati perajin, pasalnya selain proses pembuatannya sulit, juga butuh waktu lama. Artinya, perajin tidak bisa langsung mendapatkan uang dari produk yang ia hasilkan, karena harus menunggu hingga kopiah tersebut laku.

Ada beberapa perajin yang gulung tikar, akhirnya beralih ke profesi lain untuk memenuhi kebutuhan mereka. Ini artinya, bisa jadi sewaktu-waktu kopiah tersebut hilang dari pasaran. Tentu ini sangat disayangkan, sebab ada potensi alam yang hilang yang telah lama menjadi kearifan lokal orang Aceh yang bermukim di Pidie.

Besar sekali harapan perajin untuk mendapatkan fasilitasi dan perhatian semua elemen, karena skill yang sudah mereka miliki dapat mengurangi pengangguran dan merangsang tumbuhnya ekonomi kreatif. Mungkin suatu hari nanti, Pidie bisa dengan bangga memperkenalkan kopiah riman sebagai suvenir khas daerahnya yang bisa ditunjukkan kepada dunia.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved