JURNALISME WARGA

Melestarikan Budaya Islami Dalail Khairat

ACEH memiliki banyak budaya yang jarang dimiliki oleh daerah lain. Kekayaan budaya provinsi di ujung barat Pulau Sumatra

Editor: hasyim
IST
AMIRUDDIN (Abu Teuming), Penyuluh Informasi Publik (PIP) Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, aktivis lembaga Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara), dan Sekretaris Jenderal Warung Penulis (WP), melaporkan dari Kota Lhokseumawe 

AMIRUDDIN (Abu Teuming), Penyuluh Agama Islam Kuakec Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, Direktur K-Samara, dan Anggota Bidang Kaderisasi Forum Lingkar Pena (FLP) Banda Aceh, melaporkan dari Aceh Besar

ACEH memiliki banyak budaya yang jarang dimiliki oleh daerah lain. Kekayaan budaya provinsi di ujung barat Pulau Sumatra ini telah dikenal luas hingga ke mancanegara. Budaya yang berkembang di Aceh tidak terlepas dari nilai-nilai Islam, sebab kehidupan masyarakat Aceh sarat dengan keimanan dan ketakwaan.

Salah satu budaya Aceh yang masih dipraktikkan oleh masyarakat adalah dalail khairat. Dalail khairat sebetulnya merupakan nama kitab karangan ulama terkenal di Magrib, Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman Aljazuli. Hidup tahun 807-870 Hijriah. Kitab berusia ratusan tahun ini mengajarkan tata cara berselawat dengan indah kepada Nabi Muhammad. Diyakini pula bahwa muslim yang rajin membaca dalail khairat nanti akan dekat bersama Rasulullah di akhirat.

                                                            Kisah unik

Lahirnya karya ini berawal dari kisah unik. Syaikh al-Jazuli melakukan perjalanan menuju Haramain. Setengah perjalanan, di antara padang pasir, tiba waktu shalat. Ia singgah di kampung Badui untuk menunaikan shalat Zuhur. Ia melihat sebuah sumur besar, tapi tak melihat adanya timba. Segera ia mencari alat agar bisa menimba air. Setelah lelah mencari timba, tiba-tiba seorang bocah menghampirinya.

Si bocah bertanya karena syaikh terlihat seperti orang kesusahan. Syaikh pun menceritakan keinginan untuk berwudu, tapi tiada tempat untuk menimba air. Ia terus mecari timba, sambil bertanya keberadaan timba kepada bocah itu.

Si anak kecil mulai mendekat ke sumur, lalu membisikkan sesuatu ke dalam sumur. Dalam sekejap air sumur itu meluap ke atas. Syaikh al-Jazuli merasa kagum menyaksikan keajaiban itu. Ulama hebat pun bertanya amalannya sehingga dapat meraih kedudukan setinggi itu.

Bocah mungil menjelaskan, semua itu ia peroleh sebab banyak membaca selawat kepada Nabi Muhammad. Yaitu orang (nabi) yang apabila berjalan di padang belantara, binatang-binatang buas akan mengibas-ngibaskan ekornya (menjadi jinak). Setelah mendengar penuturan anak kecil itu, syaikh lantas bernazar untuk menyusun sebuah kitab yang diberi nama “Dalail Khairat”, membahas tentang selawat kepada Nabi Muhammad.

Beberapa tahun kemudian, naskah itu rampung dikerjakan. Kitab legendaris itu berisikan zikir, doa, dan selawat pada Nabi Muhammad. Namun, teks selawat lebih dominan. Selawat yang tertulis dalam kitab klasik ini berbeda dengan selawat lainnya, sebab memiliki nilai sastra tinggi dan menarik dibaca oleh berbagai kalangan. Karenanya, para ulama menobatkannya sebagai kitab selawat paling lengkap dan populer.

Di Aceh, dalail khairat dibaca oleh berbagai kalangan. Tetapi tetap menitikberatkan pada kalangan muda sebagai bagian dari pengaderan. Dalail khairat dibaca bersama-sama atau oleh tim dengan beragam seni dan irama. Seni bacaan dalail khairat tersebut membuat masyarakat Aceh, khususnya pemuda, tertarik mengikuti kegiatan amal tersebut dan terus melestrikannya.

Dahulu, hampir setiap kampung mengadakan dalail khairat di meunasah dan masjid. Semasa kecil, saya dan santri lainnya diundang ke meunasah sebagai anggota tetap dailail khairat. Mereka sengaja memilih santri kompeten di dayah/balai pengajian agar mengikuti latihan seminggu sekali.

Jadwal kegiatan dalail khairat bervariasi, sesuai kesepakatan tim. Lumrahnya seminggu sekali, diadakan pada malam hari. Ada yang mengadakannya pada malam Jumat, sebab dianggap memiliki keutamaan membaca selawat pada malam dan hari Jumat.

Dalail khairat biasanya dibimbing oleh teungku. Dalam bahasa mereka disebut syaikh. Syaikh ini membimbing cara baca dan seni irama, sehingga bacaannya terdengar serentak dan merdu.

Selain di meunasah, dalail khairat menjadi amalan rutin kaum santri di dayah-dayah tradisional seluruh Aceh. Bagi santri, ada manfaat tambahan bagi yang mengikuti dalail khairat, yaitu membatu mereka agar lancar membaca kitab Arab gundul, atau disebut juga praktik ilmu nahu dan saraf. Kecepatan mata akan terlatih, sebab pada bait-bait tertentu harus dibaca cepat, benar, dengan tetap memperhatikan tajwid.

Sering pula masyarakat Aceh mengadakan kenduri dengan mengundang tim dalail khairat ke rumahnya. Harapannya mendapat berkah dan rida Allah atas lantunan dan bacaan dalail khairat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved