Berita Ekonomi dan Bisnis

Selama Oktober 2019, Nilai Impor Gula Aceh Capai Rp 5,9 Miliar

Selama Oktober 2019 nilai impor provinsi Aceh untuk komoditi non migas yang paling besar adalah kelompok komoditi gula dan kembang gula yaitu ...

Selama Oktober 2019, Nilai Impor Gula Aceh Capai Rp 5,9 Miliar
SERAMBINEWS.COM/MAWADDATUL HUSNA
Kepala BPS Aceh, Wahyudin menyampaikan keterangan kepada wartawan terkait perkembangan ekspor impor Aceh, perkembangan Indeks Harga Konsumen serta nilai tukar petani, di Aula BPS setempat, Senin (2/12/2019).  

Selama Oktober 2019, Nilai Impor Gula Aceh Capai Rp 5,9 Miliar

Laporan Mawaddatul Husna | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Selama Oktober 2019 nilai impor provinsi Aceh untuk komoditi non migas yang paling besar adalah kelompok komoditi gula dan kembang gula yaitu sebesar 422.100 USD atau Rp 5,9 miliar dengan nilai kurs terhadap dolar Amerika Rp 14.105.

Apabila dipersentasekan nilai impor gula ini sebanyak 85,98 persen dari total impor non migas dengan jenis komoditi utamanya adalah gula mentah lainnya dalam bentuk padat.

"Impor gula ini dari Malaysia ke Sabang dan itu resmi dari Bea Cukai. Tapi pada dasarnya masih banyak juga impor-impor lainnya yang tidak tercatat, khususnya yang di Sabang yang melalui perahu-perahu," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, Wahyudin kepada wartawan usai menyampaikan Berita Resmi Statistik, di Aula BPS setempat, Senin (2/12/2019)

Menurutnya, baru kali ini jumlah impor gula ke Aceh tinggi hal itu disebabkan harga gula dari Malaysia lebih rendah daripada harga dalam negeri.

"Mungkin dari Malaysia harganya lebih rendah, jadi persaingan harga itu lebih memungkinkan untuk mengimpor gula. Dari dalam negeri sendiri harganya kalah bersaing," ujarnya.

Bertandang Lawan Karo United di Stadion Mini USU Medan Rabu Lusa, PSLS Lhokseumawe Boyong 20 Pemain

Selamatkan PSSB, Asprov PSSI Tunjuk Mustafa A Glanggang Sebagai Caretaker Plt Ketum PSSB Bireuen

Pemerintah Aceh Sampaikan Duka Cita atas Meninggalnya Bupati Aceh Selatan

Selain itu, dikatakan, ketersediaan gula di Indonesia secara keseluruhan masih kurang, karena jumlah pabrik gula di Pulau Jawa juga kurang, sementara jumlah penduduk Indonesia banyak, sehingga masih harus diimpor.

"Agar tidak impor sebenarnya kita masih punya potensi untuk penanaman tebu di daerah-daerah, termasuk pembukaan lahan baru di NTB untuk industri gula, tapi masih belum cukup," tambah Wahyudin.

Sementara di Aceh, menurut Wahyudin, juga ada untuk penanaman tebu yang sudah disurvei pihaknya ke Aceh Tengah dan Bener Meriah. Namun untuk tebu konsumsi bukan untuk pabrik, disamping itu di Aceh juga tidak ada pabrik pengolahan.

Dalam kesempatan itu, Kepala BPS Aceh juga menyampaikan perkembangan indeks harga konsumen. Pada November 2019, Banda Aceh terjadi deflasi sebesar 0,10 persen, Meulaboh deflasi 0,50 persen, sedangkan Lhokseumawe inflasi sebesar 0,02 persen. Secara agregat untuk Aceh gabungan dari toga kota itu pada November 2019 mengalami deflasi sebesar 0,12 persen.

Turunnya harga indeks konsumen ini disumbang oleh kelompok-kelompok pengeluaran bahan makanan deflasi minus 0,81 persen. Pada kelompok ini komoditas yang memberi andil dominan terhadap penurunan indeks adalah tongkol atau ambu-ambu sebesar minus 0,2037 persen, kemudian cabai merah minus 0,0890 persen, cumi-cumi minus 0,0694 persen, serta dencis dan udang basah.

Selain kelompok bahan makanan, juga ada kelompok sandang yang mengalami deflasi minus 0,07 persen.

Komoditas yang memberikan andil terhadap deflasi pada kelompok ini adalah emas perhiasan minus 0,0090 persen dan baju kaos berkerah minus 0,0060 persen.(*)

Masyarakat Trasmigrasi Unjuk Rasa ke Kantor Bupati Aceh Singkil, Ini Tuntutannya

4 Pemuda yang Menggambar Bintang Kejora di Wajah Akhirnya Dibebaskan, Ini Penjelasan Polisi

Windy Cantika Aisyah Raih Medali Emas Angkat Besi SEA Games 2019, Ada Kisah Pilu Dibaliknya

Penulis: Mawaddatul Husna
Editor: Jalimin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved