Jurnalisme Warga
HCI, Lembaga Training Motivasi yang Menarik
KALI ini saya coba menceritakan tentang salah satu partner entrepreneur Pematik, yakni Heart Communication Istitute (HCI)
OLEH M. ANZAIKHAN, S.Fil.I., M. Ag., Direktur Pematik (Pusat Entrepreneur) Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry, Darussalam, melaporkan dari Banda Aceh
KALI ini saya coba menceritakan tentang salah satu partner entrepreneur Pematik, yakni Heart Communication Istitute (HCI). Ini merupakan lembaga training di Banda Aceh yang bergerak dalam upaya pengembangan potensi diri. Lembaga ini menawarkan jasa pelatihan seperti outbond dan hipnotic public speaking sehingga sebuah acara yang awalnya sederhana akan terkemas menjadi sesuatu yang luar biasa.
Selain itu, HCI yang didirikan oleh Wahyu Rezeki tersebut juga menyediakan jasa konsultasi dalam mengembangkan karakter sumber daya manusia (SDM) seperti pelatihan mental berbicara di hadapan publik, membuat para audiens terpukau (seolah dihipnotis), bahkan mengajarkan filosofi kehidupan yang terintegrasi dengan corak milenial, tapi tak keluar dari bingkai keislaman.
Perkembangan globalisasi yang berdampak pada perubahan karakter di era milenial ini mau tidak mau membuat daya saing akan meningkat. Nah, jika generasi muda cuek terhadap realitas tersebut, maka bersiaplah untuk tertinggal.
Mengahadapi tantangan ini HCI menawarkan beberapa program skill pengembangan diri, seperti public speaking, menulis, videografi, sinematografi, dan motivasi. Media pembelajaran yang ditawarkan berbentuk pelatihan di ruang (house training) dan juga di alam lepas (outbound).
Bisa dibilang, HCI adalah sebuah badan solutif yang awalnya bertitik tolak dari manajemen komunikasi dan strategi komunikasi. Artinya, bagaimana berbicara itu dikelola dengan baik, bukan hanya sebatas menyampaikan kata-kata, tapi juga dapat menyentuh wilayah rasa (perasaan). Senada dengan tagline HCI itu sendiri, “Berbicara bukan soal eksplorasi kata, melainkan transfer rasa.”
Program HCI yang paling edukatif adalah melatih peserta berbicara di depan umum secara percaya diri (PD), melatih berbicara yang mengubah dan menggugah, serta pelatihan agar pembicara dapat menarik dan menyita perhatian audiens.
Visi HCI adalah menjadi lembaga pusat pelatihan (training) dan outbound secara profesional dan berkarakter, komunikatif, dan kreatif, khususnya dalam bidang pengembangan dan akselerasi diri (motivator dan inspirator).
Berangkat dari itu, HCI memiliki misi berupa: menanamkan fondasi iman dan takwa dalam kehidupan secara aplikatif, membangun motivasi pemuda dan masyarakat dalam mengembangkan dirinya untuk kebutuhan SDM berkualitas, kecakapan berkomunikasi dan menemukan semangat tujuan hidupnya, membangun jiwa leadership di dalam diri, dan peka terhadap lingkungan masyarakat, di samping menjadi pusat konsultasi terbaik untuk masyarakat dan umat.
Sejarah HCI diawali dari kegalauan para founder melihat menjamurnya pengangguran di usia muda. Lapangan kerja potensial sangat sempit, yang sering dibuka adalah model pekerjaan yang penuh tekanan dan target seperti marketing, debt collector, atau bidang ansuransi. Terkait wirausaha juga tak jauh berbeda, pada umumnya para entrepreneur memiliki konsep: kenali pasar dulu sebelum membuka usaha, jangan membuka usaha (meskipun hobi) baru kemudian sibuk cari-cari pasar. Jika begitu adanya, secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa bisnis dan pekerjaan bukanlah sesuatu yang menyenangkan.
Berangkat dari renungan singkat tersebut, Wahyu Rezeki bersama anggotanya menggagas sebuah terobosan, yakni menjadikan pengalaman diri untuk menemukan hobi yang bisa dijadikan profesi hidup. Itu artinya, bekerja dengan cara menyenangkan, tapi juga menghasilkan pundi-pundi uang. Pada tahun 2017 terbentuklah HCI ini dengan segala keterbatasannya, meskipun awalnya masih menumpang sekretariat pada kantor lain, tidak menjadikannya berkecil hati untuk menjadi eksis dan populer seperti sekarang.
Menjadikan sebuah inspirasi, ternyata tidak ada istilah pengangguran bagi mereka yang serius berikhtiar walaupun berawal dari kombinasi antara hobi, pembelajaran, dan pengalaman.
HCI sudah menjadi bukti bahwa bekerja itu seharusnya menyenangkan. Memang benar, konsep entrepreneur pada umumnya membuka usaha karena pasar potensial bukan hobi. Namun, di sisi lain memilih usaha karena hobi akan lebih istiqamah, karena itu adalah tindakan yang disukai. Jika sudah suka, motivasi bekerja dan berinovasi akan mendobrak segala aspek untuk maju, bahkan jika belum sukses, orang yang berbisnis karena hobi tidak mudah putus asa, karena setiap tindakan yang dilakukan dalam usahanya adalah kebahagiaan meskipun belum menghasilkan keuntungan.
Sebagai contoh, hobi mengajar. Seseorang yang suka melakukan ini biasanya membuka usaha bimbel atau terkait pendidikan. Andaipun belum menghasilkan uang yang layak, orang tersebut tetap berbahagia karena saat mengajar dia merasa senang meskipun tidak dibayar. Sikap tulus ini yang kemudian membuatnya terus bertahan sehingga ada masanya ketika usaha bimbelnya berhasil dan memperoleh keuntungan besar.
Begitu juga yang terjadi pada HCI, setiap pekerjaan yang mereka lakukan tidak peduli dibayar berapa pun (bahkan tak dibayar juga ada), mereka tetap memberikan materi dengan menarik dan dengan raut wajah yang penuh kebahagiaan. Sekali lagi, itu karena mereka menikmati pekerjaan dan bahagia dengan profesi tersebut.
Sebagai usaha yang tidak langsung besar (merintis), HCI juga awalnya memiliki kendala berbagai aspek. Dulu, mereka yang sibuk mencari pelanggan ke sana kemari hingga ke pelosok kampung. Sekarang, justru jadwal HCI sudah cukup padat, bahkan mereka sering menolak atau menggeser jadwal permintaan karena sudah ada jadwal lain yang tak kalah pentingnya. Populernya HCI saat ini tidak terlepas dari kerja keras para elemen di dalamnya. Lebih jelasnya, karena HCI itu sendiri adalah lemabaga motivasi yang menarik. Tolok ukur mereka bukan semata-mata uang, melainkan kebahagiaan bersama.
Fenomena itu bisa saya lihat ketika HCI mengisi kegiatan pada acara Pematik (seminar membuka usaha tanpa modal) di Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry beberapa bulan lalu.
Selain dengan Pematik, HCI juga menjalin kerja sama dengan beragam instansi, baik dalam lingkungan pemerintah, lembaga sosial, event training, bahkan juga kerap mengisi motivasi keagamaan di sekolah-sekolah seperti peringatan maulid Nabi Muhammad saw, Isra Mikraj, serta acara kreatif lainnya.
Kelompok sosial-masyarakat yang dimitrai juga beragam, mulai dari guru PAUD, TPQ, sekolah umum hingga pondok pesantren. Jam terbang HCI juga tergolong padat, pernah bekerja sama dengan beragam PAUD di Aceh, Dharma Wanita Banda Aceh, PKK Banda Aceh, Dinas Pemberdayaan dan Perlindungan Anak Banda Aceh, LPJK Aceh, Pondok Pesantren Al-Barokah Simalungun, Sumatera Utara, dan beberapa instansi, lembaga, dan organisasi lainnya. Bahkan awal mulanya HCI pernah eksis di Semarang dan beberapa kabupaten di Jawa Tengah.
Harapan HCI sebagaimana yang dipaparkan oleh Wahyu Rezeki (ketua saat ini), adalah sebagai wadah untuk anak-anak Aceh dalam mengembangkan skill dan potensi diri. Juga bersedia bermitra dengan lembaga mana pun selama itu memiliki iktikad yang baik.
Bagi yang ingin bergabung, HCI terbuka buat siapa saja, khususnya mereka yang ingin menyamakan persepsi, yakni berbuat untuk umat dan masyarakat dalam melatih kecakapan kapasitas diri dalam bidang public speaking dan komunikasi yang efektif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/m-anzaikhan-sfili-mag-dosen-fakultas-ushuluddin-dan-filsafat-uin-ar-raniry.jpg)