Selasa, 21 April 2026

Berita Aceh Barat Daya

Harga Gabah di Abdya Terus Melorot, Di Tingkat Petani Rp 4.800 Per Kg  

Harga GKP (Gabah Kering Panen) tingkat petani di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), cenderung terus melorot

Penulis: Zainun Yusuf | Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM/ZAINUN YUSUF
Areal tanaman padi di Kabupaten Abdya MT Gadu 2019 seluas 10.289 ha, sebagian memasuki panen raya. Penanganan pasca panen menggunakan mesin pemotong padi (combine harvester). Seperti kegiatan panen raya dalam temu lapang dipusatkan di Desa Pisang, Kecamatan Setia, Selasa (10/12/2019) lalu. Tingkat produksi sementara mencapai 7,8 ton GKP (gabah kering panen) per ha. 

Keterangan diperoleh Serambinews.com, harga gabah di Abdya akan meningkat, minimal bisa bertahan (stabil), jika ada pedagang dari luar daerah menampung gabah melalui agen pengepul setempat.  

Gabah produksi Abdya selanjutnya dibawa ke luar daerah, antara lain ke Medan dan Padang atau beberapa daerah di Aceh yang belum melaksanakan panen raya.

Sudah 30 Tahun Menikah dan Punya Anak Cucu, Pasangan ini Baru Tahu Kalau Mereka Saudara Kandung

Sebagai catatan, areal tanaman padi MT Gadu 2019 di Kabupaten Abdya, seluas 10.289 hektare (ha), sebagian besar memasuki panen raya.

Panen raya dilaksanakan Bupati Abdya, Akmal Ibrahim SH dalam kegiatan temu lapang yang dipusatkan di areal sawah Desa Pisang, Kecamatan Setia, Selasa (10/12/2019) lalu.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan (Distanpan) Abdya, drh Nasruddin, saat itu melaporkan panen raya dimulai di hamparan sawah Kecamatan Susoh, Blangpidie, Setia dan Jeumpa. Kecamatan lainnya menyusul. 

Dari umbinan (sampel produksi) yang diambil dari areal sawah yang memasuki panen raya tingkat produksi sementara diketahui mencapai 7,8 ton Gabah Kering Panen (GKP) per ha.

Sedangkan harga gabah memasuki panen raya kali ini, menurut Nasruddin masih menguntungkan petani, yaitu pada kisaran harga Rp 5.200 sampai Rp 5.300 per kilogram GKP.

Warga Miskin di Nicah Mutiara Pidie Terima Bantuan Sembako

Akan tetapi kenyataan beberapa hari kemudian, harga gabah beransur-ansur turun.

Sedangkan petani buru-buru menjual gabah karena terdesak kebutuhan biaya penanganan pascapanen.

Beberapa petani menjelaskan, peristiwa turun harga gabah saat panen raya sering terjadi yang diduga merupakan spekulasi pedagang.

Tujuannya untuk mendapat keuntungan lebih besar dengan memanfaatkan momentum panen raya.

Ketika stok gabah tersedia dalam jumlah banyak di petani, para agen pengumpul mengurangi jumlah pembelian dengan beragam alasan.

Seperti alasan kekurangan modal dan gudang tempat pengeringan gabah sudah penuh.

“Ada pula agen menampung gabah, tapi harganya baru dibayar satu pekan ke depan,” kata salah seorang petani di Susoh.

Karena terdesak kebutuhan biaya penanganan pascapanen, maka tidak ada pilihan lain bagi sebagian petani, kecuali menjual gabah dengan tingkat harga agak miring. 

Fakta-fakta Menarik Dewan Pengawas KPK, Artidjo Alkostar Dianggap Musuh Koruptor

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved