Jurnalisme Warga

Derai Tangis Santriwati di Dayah Putri Muslimat  

MENTARI mulai terik saat saya bersama Ummi Azizah memasuki kompleks dayah itu. Jarum jam menunjukkan pukul 11.30 menjelang siang

Derai Tangis Santriwati di Dayah Putri Muslimat   
IST
AIDIL RIDHWAN, Lc, alumnus Al Ahgaff University, Tarim, Yaman, mengabdi di Dayah Ummul Ayman, melaporkan dari Samalanga

OLEH AIDIL RIDHWAN, Lc, alumnus Al Ahgaff University, Tarim, Yaman, mengabdi di Dayah Ummul Ayman, melaporkan dari Samalanga

MENTARI mulai terik saat saya bersama Ummi Azizah memasuki kompleks dayah itu.  Jarum jam menunjukkan pukul 11.30 menjelang siang. Sejak tadi pagi, matahari seperti enggan menampakkan dirinya. Seakan ia sedang bersedih. Di parkiran dayah itu, puluhan motor dan beberapa unit mobil beragam merek (jenama) berjejer rapi.

Ya, itulah Kompleks Dayah Putri Muslimat. Dayah khusus untuk wanita, merupakan salah satu instansi pendidikan yang mengombinasikan ilmu dunia-akhirat yang sangat berpengaruh di Kecamatan Samalanga,  Kabupaten Bireuen. Lokasinya tepat berseberangan jalan dengan Dayah Ummul Ayman (Pimpinan  Waled Nu). Pagi itu, Sabtu (21/12/ 2019), Dayah Putri Muslimat berduka atas meninggalnya Ummi Hj Ainiyah binti Tgk Nyak Abbas. Beliau merupakan istri dari alm Tgk  Jalaluddin bin Hanafiah (Guree Jalal, pendiri Yayasan Al- Hanafiah Pondok Pesantren Putri Muslimat Samalanga).

Ummi Ainiyah berpulang menghadap-Nya pada pukul 7.45 pagi di kompleks dayah. Di sisi lain, Ummi Ainiyah juga merupakan ibu mertua dari guru kami, Tgk H Nuruzzahri Yahya (Waled Nu).  Memasuki gerbang utama dayah, melewati areal parkir, terlihat Dayah Putri Muslimat memiliki dua posko utama: sebelah utara dan selatan. Menuju  ke arah rumah pimpinan dan masjid, kami melewati posko sebelah utara. Di sana, beberapa petugas menyambut kedatangan kami dengan hangat.

"Boleh masuk, boleh," ujar salah seorang petugas menjawab pertanyaan Ummi Azizah terkait kebolehan masuk bagi tamu lelaki. Melewati posko utama tersebut, di jejeran bangunan asrama itu puluhan santriwati sedang berdiri. Beberapa di antara mereka hanya duduk terdiam. Tak ada kegiatan

apa-apa. Mereka hanya terpaku. Dua-tiga orang saja yang mengobrol. Ekspresi kesedihan begitu nyata. Di arah depan, terlihat satu bangunan kokoh. Itulah masjid, tempat ibadah para dewan guru dan santriwati. Pada hari-hari biasa, selain untuk shalat, masjid itu juga difungsikan sebagai tempat mengaji berhalakah-halakah banyaknya. Khusus pada bulan Ramadhan, bangunan tersebut dijadikan pangkalan (basecamp) bagi warga suluk.

Sedangkan di ruas jalan dari posko menuju masjid itu, ada beberapa tenda. Di bawahnya, beberapa tamu lelaki sedang duduk-duduk. Wajah mereka memerah. Sembari mengobrol, sesekali diusapnya bulir-bulir yang mengalir di pipi mereka. Kesedihan menyergap saya dan Ummi. Ummi Azizah meminta izin untuk masuk ke  dalam rumah. Saya memilih masuk ke dalam masjid.

Di dalam bangunan berlantai dua itu puluhan teungku berpeci sedang melantunkan zikir dan tahlilan (shamadiah). Prosesi itu dipimpin langsung oleh Guru Mulia, Tgk H Usman (Abu Kuta Krueng). Bacaan-bacaan tersebut  untuk mengingat Allah dan mengenang Rasulullah saw, sembari mengiringi kepergian

Ummi Ainiyah. Sementara di luar, sebelah utara  masjid, perlahan, jasad mulia Ummi diturunkan ke dalam liang lahat itu. Prosesi pemakaman disaksikan langsung oleh anak, menantu, cucu, dan cicit Ummi. Mereka adalah orang-orang mulia.  Seluruh santriwati dan para tamu juga melihat langsung prosesi sakral itu.

Iringan zikir semakin membuncah. Wajah-wajah cahaya penuntut ilmu bekasan air wudu itu memerah oleh tangisan. Bulir-bulir kristal memancar  dari mata, membuat celah mengenai pipi. Berkali-kali mereka  mengusapnya. Tangisan pun tak bisa dibendung. Selesai pemakaman, acara dilanjut dengan talkin yang

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved