Kamis, 11 Juni 2026

Citizen Reporter

Xinaliq, Desa Tertinggi di Eropa

Saya sembilan hari di Xinaliq mendampingi para cinematografer Indonesia yang melakukan syuting film di Azerbaijan.

Tayang:
Editor: Mursal Ismail
For serambinews.com
KUN MISBAHUL MUNAWAR 

Saya sembilan hari di Xinaliq mendampingi para cinematografer Indonesia yang melakukan syuting film di Azerbaijan.

KUN MISBAHUL MUNAWAR, Mahasiswa MBA Khazar University, Baku-Azerbaijan, Penerima Beasiswa Merit Scholarship dan Fam Foundation Uni Eropa, melaporkan dari Azerbaijan

REPORTASE saya kali ini berkisah tentang sebuah desa tertinggi di dataran Benua Eropa yang menarik wisatawan karena aksesibilitas, bahasa khasnya, arsitektur bangunan, dan budayanya yang unik.

Saya sembilan hari di Xinaliq mendampingi para cinematografer Indonesia yang melakukan syuting film di Azerbaijan.

Akses menuju ke desa ini lumayan sulit, berjarak sekitar 220 kilometer dari Baku, ibu kota Azerbaijan.

Untuk sampai ke sini butuh waktu sekitar lima jam, melewati kota kecil Xirdalan dan Quba.

Sesampai di Quba kami mengganti kendaraan dengan yang khusus mampu menjajal jalanan curam khas area pegunungan.

Kena OTT KPK dan Jadi Tersangka, Wahyu Setiawan Resmi Mengundurkan Diri dari KPU

Penjambret Tas Pegawai Kejati Aceh,Ternyata Residivis Narkoba, Ini Kasusnya

Personel Reskrim Polresta Banda Aceh Tangkap Buruh Bangunan Asal Medan, Ini Kejahatan Keduanya

Misbahul Munawar bersama tas Kuwah Tuhee di Baku, Azerbaijan.
Misbahul Munawar bersama tas Kuwah Tuhee di Baku, Azerbaijan. (Kun Misbahul Munawar)

Kami menumpangi mobil SUV tipe 4x4 bermerek Lada, buatan Rusia.

Sepanjang perjalanan menuju desa pemandangannya luar biasa.

Dari ketinggian Gunung Kyzylkaya terlihat aliran Sungai Qudiyalcay tampak meliuk-liuk jernih.

Hamparan perbukitan yang tertutup salju menyejukkan pandangan mata.

Sesudah melewati Gunung Kyzylkaya, degupan adrenalin kami lebih berpacu, karena menerobos di antara ngarai yang menjulang hanya beberapa centimeter saja dari jurang, ditambah salju tebal yang menutup badan jalan.

Sensasi indah berbalut extreme ini menambah daya tarik cerita Xinaliq untuk dikunjungi.

Setelah 40 menit, Lada yang kami tumpangi meliuk-liuk di lereng ngarai dan lembah.

Sampailah kami di desa tujuan.

Desau angin gunung berembus kencang menusuk ke dalam tulang, jejeran pergunungan putih mengelilingi tiap sisi arah memandang, panorama indah dan sejuk.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved