Jumat, 5 Juni 2026

Bank Dunia Sebut Daya Saing Rantai Nilai Global RI Masih Lemah

Bank Dunia dalam laporan terbarunya bertajuk World Development Report 2020 menyebut partisipasi Indonesia dalam sistem rantai nilai global masih lemah

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
(KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYA)
Chief Economist East Asia and Pacific Bank Dunia, Aaditya Mattoo menjelaskan tentang partisipasi RI dalam GVC di Jakarta, Selasa (28/1/2020). 

SERAMBINEWS.COM - Bank Dunia dalam laporan terbarunya bertajuk World Development Report 2020 menyebut partisipasi Indonesia dalam sistem rantai nilai global (global value chain) masih lemah.

Chief Economist East Asia and Pacific Bank Dunia, Aaditya Mattoo mengatakan, pelemahan itu terlihat dari tidak fokusnya pengembangan ekspor di beberapa produk dan tidak efisiennya biaya pelabuhan, yang biasanya menjadi jalur logistik.

Mattoo bilang, keikutsertaan Indonesia dalam rantai nilai global memiliki beberapa segi yang bertolak belakang.

Partisipasi Indonesia dalam mengekspor komoditas mentah sangat tinggi.

Tapi, ekspor bahan jadi masih rendah.

Masjid Agung Abdya Butuh 15 Imam, Anggota DPRK Ikut Daftar, Ini Materi Diuji Prof Azman Ismail Cs

Misalnya, sebagai pengekspor komoditas mentah seperti minyak kelapa sawit dan batu bara, yang digunakan oleh negara-negara lain untuk memproduksi dan mengekspor kosmetik dan minyak pelumas, partisipasi Indonesia tinggi dan berkembang.

"Namun, sebagai importir dari bahan kain dan besi baja, untuk diproduksi kemudian diekspor kembali berupa pakaian jadi dan kendaraan roda empat, partisipasi Indonesia rendah dan semakin melemah," kata Mattoo di Jakarta, Selasa (28/1/2020).

Buktinya, imbuh dia, proporsi ekspor Indonesia untuk produk pakaian jadi, elektronik dan suku cadang mobil ke negara-negara maju menurun, sementara ekspor produk serupa negara-negara tetangga meningkat.

Makanan Ekstrem di China, Daging Babi Digantung Selama 30 Tahun , Harganya Capai Rp 2 Miliar

Aaditya menuturkan, partisipasi ke depan (forward participation) di dalam komoditas-komoditas mentah memang telah menghasilkan pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan, utamanya ketika harga komoditas-komoditas mentah tersebut sedang tinggi.

Namun melemahnya partisipasi ke belakang (backward participation) di industri manufaktur mencerminkan tidak efektifnya upaya menopang kesuksesan yang telah dicapai.

"Sekaligus mencerminkan tidak efektifnya menciptakan industri manufaktur dan jasa tahap yang lebih maju, seperti yang telah dicapai negara-negara tetangga Indonesia," ucap Mattoo.

Ikut Berantas dan Tangkap Pelaku Narkoba, Keuchik Pondok Keumuning Dapat Penghargaan dari Polisi

Inefisiensi biaya pelabuhan

Tingginya biaya logistik di pelabuhan pun menyurutkan Indonesia mengambil manfaat dari rantai nilai global.

Padahal, mengimpor untuk mengekspor kembali merupakan inti dari rantai nilai global.

Mattoo merinci, beban biaya inspeksi pra-pengiriman setara dengan 41 sen per dollar AS dari impor, pemenuhan Standar Nasional Indonesia (SNI) sebanyak 29 sen, dan persetujuan impor sebanyak 13 sen.

Harga Rokok Naik Mulai Februari 2020

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved