Berita Bener Meriah

Pemerintah Akan Kembangkan Bendungan Jelobok Menjadi Objek Wisata Ikonik di Bener Meriah

Bupati Bener Meriah, Tgk H Sarkawi menyampaikan, Bendungan Jelobok akan menjadi objek wisata ikonik bagi Kecamatan Bener Kelipah bahkan mungkin...

Pemerintah Akan Kembangkan Bendungan Jelobok Menjadi Objek Wisata Ikonik di Bener Meriah
For Serambinews.com
Kabag Kesmas, Sahlan Suda Lingga Lc MTh meninjau Bendungan Jelobok di Kecamatan Bener Kelipah, Kabupaten Bener Meriah, Kamis (30/1/2020). 

Pemerintah Akan Kembangkan Bendungan Jelobok Menjadi Objek Wisata Ikonik di Bener Meriah

Laporan Budi Fatria | Bener Meriah

SERAMBINEWS.COM, REDELONG – Bupati Bener Meriah, Tgk H Sarkawi menyampaikan, Bendungan Jelobok akan menjadi objek wisata ikonik bagi Kecamatan Bener Kelipah bahkan mungkin Kabupaten Bener Meriah.

“Pemerintah Daerah pasti akan membantu, seterusnya akan ada program pengembangan yang diarahkan kesana dengan harapan masyarakat mampu berperan aktif dalam menjaganya. Insya allah kita berharap lingkungannya terjaga, sejahtera masyarakat,” kata Tgk Sarkawi.

Bendungan Jelobok di Kecamatan Bener Kelipah, Kabupaten Bener Meriah yang dikelilingi hamparan kebun kopi terdapat mata air yang tidak pernah habis mengalir walaupun di musim kemarau.

Sudah puluh tahun masyarakat Bener Kelipah memanfaatkan sumber air ini sebagai hulu sungai untuk mengairi sawah, untuk air minum dan kebutuhan lainnya. Disamping itu juga bendungan ini sebagai tempat mencari ikan.

KPK Tetapkan Ketua PDIP Sumut Japorman Saragih Jadi Tersangka Suap Gatot, Berikut 14 Tersangka Baru

Personel Satuan Narkoba Polresta Banda Aceh Tangkap Pemasok Sabu untuk Warga Darul Imarah

Rencana Investasi UEA di Aceh, Nova Iriansyah Paparkan Potensi Aceh

Camat Bener Kelipah, Safriadi SPd MPd mengatakan, dahulu sumber air jelobok adalah ikon pemersatu masyarakat, karena saat sebelum bulan puasa dalam istilah Gayo lo megang selalu ada tradisi pesta rakyat menguras air jelobok (Gayo : munemak kulem) dan setiap orang dengan bebas mengambil ikan-ikan hasil tangkapanya.

Disebutkannya, setelah persawahan mulai beralih fungsi menjadi kebun kopi, perlahan-lahan tradisi ini mulai luntur bahkan hilang akibat jalur yang biasanya dijadikan tempat menguras bendungan (Gayo : penyoahen) sudah menjadi lahan perkebunan kopi masyarakat, sehingga tidak memungkin lagi menguras bendungan sumber air jelobok.

“Sudah hampir 15 tahun sumber air Jelobok ini tidak pernah di kuras dan salama itu pula masyarakat memanfaatkan air dengan kualitas yang memprihatinkan, kondisi yang sangat miris dimana masyarakat yang bermukim di dekat sumber mata air, tapi terpaksa menggunakan air dengan kualitas yang tidak layak untuk dikonsumsi, berminyak, bau dan membawa sampah,” ujar Safriadi SPd MPd.

Ketua Banleg DPRA Kembali Temui Kemendagri, Bahas Soal UUPA

Safriadi lebih lanjut menjelasakn, Alhamdulillah inisiasi penerbitan qanun perlindungan sumber air Jelobok mendapat respon positif dari masyarakat sekitar, sehingga Bendungan sumber air Jelobok memiliki aturan yang memungkinkan masyarakat kedua kampung dapat bertindak tegas terhadap orang atau kelompok orang yang melakukan langkah yang berpotensi merusak keasrian bendungan sumber air Jelobok.

Halaman
12
Penulis: Budi Fatria
Editor: Jalimin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved