Rabu, 15 April 2026

Kupi Beungoh

Dahsyat, Aceh Jadi Incaran Uni Emirat Arab, Cina, India, dan Malaysia

UEA menyiapkan Rp 314,9 triliun untuk investasi di Kota Baru hingga Aceh. Uni Emirat Arab menyatakan ketertarikan menanam modal untuk pembangunan Aceh

Penulis: Zainal Arifin M Nur | Editor: Muhammad Hadi
KOLASE SERAMBINEWS.COM
Ilustrasi - Aceh jadi incaran UEA, Cina, India, dan Malaysia 

Oleh: Zainal Arifin M Nur*)

Mantap! Aceh Jadi Magnet Baru Ekonomi Dunia.

Begitulah judul yang diberikan MetroTV pada sebuah program Selamat Pagi Indonesia yang ditayangkan awal Februari 2020. Rekaman tayangan itu kemudian diunggah ke akun Youtube metrotvnews yang memiliki 1,92 juta subscriber. Hingga Rabu 12 Februari, video itu telah mencatat 66.416 kali tayangan dan mendulang 897 komentar.

Video dibuka dengan ulasan presenter Naila Husna yang memaparkan tentang dalam pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan Putra Mahkota Uni Emirat Arab, Mohamed Bin Zayed, pada pertengahan Januari 2020.

Mengiringi video rekaman pertemuan kerja sama yang dihasilkan antara Jokowi dan Mohamed Zayed, Naila mengulas tentang rencana investasi Uni Emirat Arab di Indonesia.

Disebutkan, UEA menyiapkan Rp 314,9 triliun untuk investasi di Kota Baru hingga Aceh. Uni Emirat Arab menyatakan ketertarikan menanam modal untuk pembangunan Aceh. Salah satu alasannya karena Aceh memiliki penduduk muslim terbanyak.

Kedua negara menandatangani 11 perjanjian bisnis antara lain di bidang energi, petrokimia, pelabuhan, telekomunikasi dan riset.

Pemerintah Aceh dan Uni Emirat Arab Akan Bertemu, Bahas Rencana Investasi

Kemudian tayangan beralih ke studio Metro TV.

Diawali pengantar dari presenter bahwa pilihan UEA untuk berinvestasi di Aceh menjadi salah satu bukti bahwa saat ini Aceh telah menjadi magnet ekonomi dunia. Metro TV menghadirkan sejumlah tokoh Aceh untuk membahas topik tersebut.

Ada tiga tokoh yang dihadirkan, politikus Partai NasDem yang menjadi koordinator Kenduri Kebangsaan, Teuku Taufiqul Hadi, tokoh muda nasional asal Aceh Nezar Patria, dan staf khusus Gubernur Aceh, Ir Iskandar MSc.

Informasi yang penulis peroleh, Kenduri Kebangsaan yang digagas oleh Teuku Taufiqul Hadi akan berlangsung di Kabupaten Bireuen, Aceh, tanggal 22 Februari 2020. Penulis belum mendapatkan banyak informasi tentang agenda kegiatan tersebut, namun informasinya Kenduri Kebangsaan ini mendapat dukungan penuh dari Bos Media Group Surya Paloh dan akan dihadiri oleh para anggota DPR/DPD RI asal Aceh, dan para tokoh-tokoh nasional, asal Aceh maupun luar Aceh.

Kembali ke program Selamat Pagi Indonesia, topik yang mereka bahas di Studio Metro TV pada hari itu adalah, ketertarikan Uni Emirat Arab (UEA) untuk berinvestasi di Aceh menjadi bukti bahwa Aceh merupakan magnet ekonomi dunia.

Hanya saja, konflik bersenjata yang berlangsung puluhan tahun di Aceh Aceh membuat potensi ini menguap sia-sia.
Konflik bersenjata membuat Aceh yang berada pada jalur lalu lintas laut dan udara dunia, tetap tertinggal hampir dari semua sisi.
Ketiga tokoh ini pun membahas solusi dan rencana agar Aceh semakin maju dan tetap menjadi magnet ekonomi dunia dari masa ke masa.

Menteri Agama Jenderal TNI Purn Fachrul Razi: Potensi Aceh Luar Biasa

Simak selengkapnya dalam video di bawah ini.

Rencana investasi Uni Emirat Arab (UEA) di Aceh, menjadi pembuka dari topik yang ingin penulis bahas dalam artikel ini. Karena, rencana investasi UEA tersebut tentunya belum bisa menjadi dasar untuk menyatakan bahwa Aceh merupakan magnet ekonomi dunia.

Kenapa? Selain karena hanya satu negara, investasi UEA di Aceh juga masih sebatas rencana dan angka-angka di atas kertas.
Lalu, adakah tolok ukur lain untuk menegaskan Aceh yang kini telah lepas dari konflik, kembali menjadi magnet ekonomi dunia? Mari kita simak minat negara-negara lain terhadap Aceh, terutama India, Cina, dan Malaysia.

Baca berita-berita terkait di topik Investasi UEA di Aceh.

India

Sebelum Uni Emirat Arab (UEA) yang datang dengan janji investasi puluhan triliun rupiah di Aceh, India telah terlebih dahulu menyatakan minatnya untuk “menggarap” Aceh.

“India Pilih Sabang”. Headline Harian Serambi Indonesia edisi 6 Agustus 2019 menegaskan tentang minat India terhadap Aceh.
Selengkapnya baca DI SINI.

Jika membaca berita tersebut, rencana investasi India memang tidak semewah rencana UEA. Tapi jika melihat durasi kunjungan Dubes India, Pradeep Kumar Rawat, untuk Indonesia ke Aceh, sepertinya India memang benar-benar serius untuk berinvestasi di Aceh, khususnya Kota Sabang.

Sebuah sumber di Pemerintah Aceh menyebut, Dubes Pradeep Kumar sudah lima kali datang ke Aceh. Beberapa di antaranya memang sengaja tidak ingin menarik perhatian publik, karena ingin melihat secara riil potensi investasi di Aceh, terutama dari sisi keamanan.

Pradeep Kumar Rawat bahkan datang langsung ke Sabang untuk melihat lokasi rencana pembangunan rumah sakit spesialis di Pulau Weh itu.

Untuk sekedar diketahui, India memiliki sumber daya kesehatan yang mumpuni dan diakui dunia internasional. Banyak dokter negara tersebut merupakan jebolan universitas ternama di Inggris.

Salah satu kelebihan layanan kesehatan India adalah, memiliki teknologi yang bagus dan peralatan medis yang canggih, tapi dengan harga yang terjangkau. Disebut-sebut pengobatan di RS India yang canggih lebih murah daripada layanan di rumah sakit di Kuala Lumpur maupun Penang.

Nah, jika India benar-benar mewujudkan rencana membangun rumah sakit spesialis di Sabang, maka ke depan Sabang diprediksi akan melebihi Penang, karena selain memiliki rumah sakit canggih dengan harga terjangkau, juga memiliki salah satu spot wisata bahari terbaik di dunia.

Menag Minta Aceh Bersiap Sambut Investasi UEA

Selain membangun rumah sakit, India memiliki kepentingan yang lebih besar terhadap Aceh. Saat ini, Pemerintah India sedang jor-joran ingin membangun wilayah Kepulauan Andaman dan Nicobar yang posisinya juga berada di jalur pelayaran dunia.

Jadi, pembangunan rumah sakit India di Sabang, lebih kepada penarik bagi Aceh untuk mau bekerja sama lebih lanjut, yaitu ikut “menyumbang” material untuk kebutuhan pembangunan Andaman dan Nicobar.

Kenapa India butuh Aceh untuk membangun Andaman dan Nicobar? Karena Aceh punya hampir semua material yang dibutuhkan. Sedangkan India, dengan jumlah penduduk yang sudah lebih 1 miliar, mulai kesulitan material alam untuk membangun besar-besaran sebuah wilayah besar.

Maka, jika rencana kerja sama ini berjalan, ke depan kita akan sering melihat kapal-kapal India merapat ke Pelabuhan Malahayati Krueng Raya untuk mengangkut material bangunan hingga sembako.

Cina

Informasi penulis peroleh, rencana kerja sama India dengan Aceh mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Indonesia. Karena, India maupun Indonesia sama-sama ingin memberi pertahatian khusus kepada dua wilayah yang berada di Samudera Hindia ini. Sama seperti Aceh, Andaman dan Nicobar juga selama ini juga masuk kategori daerah tertinggal, karena berbagai faktor.

India dan Indonesia saat ini menyadari letak strategis Andaman dan Nicobar, serta Aceh dalam jalur pelayaran dan perdagangan dunia. Jika sedikit saja abai, maka wilayah ini bisa-bisa akan dikuasai oleh Cina yang sedang memiliki ambisi untuk menguasai sebagian besar jalur perdagangan laut dunia.

Sebenarnya, Cina juga sangat berminat berinvestasi di Aceh. Hanya saja, kultur masyarakat Aceh yang memiliki resistensi dengan mereka, membuat Cina harus berpikir panjang untuk mendekati Aceh. Catatan penulis, salah satu rencana investasi besar Cina di Aceh adalah mengambil alih pabrik semen di Laweung dari PT Semen Indonesia. Tapi rencana ini tampaknya mengalami kegagalan.

Bangun Pabrik Semen Laweung, PT Samana Citra Agung Gandeng Perusahaan Asal Tiongkok

Ini Alasan PT Samana Citra Agung Ajak Perusahaan Tiongkok Bangun Pabrik Semen Laweung

Malaysia

Tidak bisa dipungkiri, Malaysia adalah “sekutu” terdekat Aceh dalam perdagangan. Masjid Acheh dan Rumah Sakit Lam Wah Ee di Pulau Pinang adalah dua bangunan yang memahat bukti kedermawanan sekaligus kejayaan para saudagar Aceh di negeri jiran itu.

Kerja sama yang pernah terjadi antara indatu Aceh dengan Malaysia, kini sedang coba dirintis kembali oleh generasi saat ini.
Penelusuran penulis, saat ini terdapat sejumlah lembaga yang mewadahi para pedagang Aceh di Malaysia.

Empat di antaranya adalah, Ikatan Masyarakat Acheh Malaysia (IMAM) yang berbasis di Yan Kedah, Komunitas Melayu Acheh Malaysia (KMAM) dan Koperasi MASA yang berkantor pusat di Chowkit Kuala Lumpur, serta Persatuan Gabungan Usahawan Acheh Malaysia (GUAM) yang berkantor di Kajang Malaysia.

Informasi penulis himpun, keempat lembaga tersebut saat ini sedang merintis kerja sama perdagangan langsung ke Aceh. Di antara komoditi yang dibidik oleh Malaysia dari Aceh adalah ikan dan sayur-sayuran.

Sama seperti India, Kerajaan Malaysia juga terlihat sangat serius merintis kerja sama dengan Aceh. Kedatangan Tun Daim Zainuddin ke Aceh beberapa waktu lalu, menjadi puncak dari kunjungan sejumlah datuk-datuk Malaysia ke Aceh sebelumnya.

Tun Daim datang ke Aceh dengan pesawat pribadinya.

Salah satu tujuan kunjungan Tun Daim ke Aceh adalah melihat langsung pelabuhan perikanan Lampulo yang sebelumnya telah disebut-sebut akan memasok ikan segar ke Malaysia. Kunjungan Tun Daim ini didampingi oleh Presiden KMAM dan Koperasi MASA KL Berhad, Datuk Mansyur Bin Usman, serta sejumlah pengusaha Malaysia keturunan Aceh.

Tun Dr Abdul Daim Bin Zainuddin adalah adalah politisi, pengusaha, dan mantan Menteri Keuangan Malaysia dari tahun 1984 hingga 1991. Tun Daim yang merupakan sahabat dekat PM Malaysia Tun Mahathir Mohamad, saat ini dipercaya sebagai penasihat utama ekonomi Kerajaan Malaysia.

Warga Aceh di Malaysia menyebut, jika sudah disetujui oleh Tun Daim, maka tak ada lagi pihak di Malaysia yang bisa menghalangi kerja sama perdagangan dengan Aceh. Tinggal sekarang keseriusan di pihak Aceh dan Indonesia.

Selain Tun Daim, pada waktu yang hampir bersamaan, tiga pengusaha dan pejabat Malaysia datang ke Bener Meriah untuk melihat potensi sayur-sayuran, khususnya kubis (kol) di daerah dingin. Pengusaha Malaysia ini ingin memasok kol dari Bener Meriah ke negara mereka, untuk memutus ketergantungan dari Cina.

Amatan penulis, kerja sama antara Kerajaan Malaysia dengan Aceh ini dipengaruhi oleh kuatnya desakan elemen Melayu di Malaysia yang menggelorakan gerakan “buy muslim first” atau utamakan produk muslim. Ada semangat rakyat Melayu Malaysia yang ingin memutus ketergantungan pasokan material dan bahan makanan dari Cina.

Sama seperti India, Malaysia juga berharap dukungan dari Aceh untuk menjalankan misi tersebut. Dengan dukungan Pemerintah Aceh dan para pedagang kedai runcit (kedai Aceh) di Malaysia, warga negara jiran itu merasa sangat yakin untuk melawan dominasi pedagang Cina di negara mereka.

Pengusaha dan Peruncit Aceh di Malaysia Dukung Penuh Program Utamakan Produk Halal

Sambutan Pemerintah Aceh

Dari beragam data dan fakta yang penulis himpun, tampaknya Aceh memang benar-benar menjadi magnet ekonomi di tahun-tahun mendatang. Posisi Aceh yang berada di jalur perdagangan laut dunia (Samudera Hindia dan Selat Malaka) membuat Aceh menjadi rebutan banyak negara. Khusus bagi Malaysia, para pedagang Aceh dianggap memiliki keberanian dan kemampuan untuk bersaing langsung dengan para pedatang Cina.

Lalu bagaimana sambutan Pemerintah Aceh terhadap rencana dan ajakan kerja sama dari negara-negara tersebut? Sejauh ini, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah bersama jajarannya terlihat sedang bekerja keras untuk menyahuti hal tersebut.

Rencana investasi Uni Emirat Arab (UEA) dan India mendapat perhatian sangat serius dari Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

Khusus untuk UEA, beberapa hari setelah mendapat kabar tentang rencana investasi dari negara Arab kaya raya ini, Nova Iriansyah terbang ke Jakarta dan memapaparkan potensi investasi Aceh bidang properti (perumahan), dan perhotelan di wilayah Sabang dan Banda Aceh kepada Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Kemaritiman dan Investasi) Luhut B Panjaitan. Kegiatan ini berlangsung di Kantor Kemenko Kemaritiman dan Investasi di Jakarta, Kamis (30/1/2020) petang.

Informasi penulis peroleh, dalam dua hari ini Plt Gubernur Aceh juga akan kembali bertemu dengan Dubes UEA untuk Indonesia dan sejumlah pihak terkait lainnya untuk memperdalam rencana investasi UEA tersebut.

Sementara untuk India, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah dalam waktu dekat akan terbang ke India untuk bertemu dengan sejumlah pihak terkait, guna mengonkretkan rencana investasi India di Sabang, dan kerja sama antara Andaman-Nikobar dengan Aceh.

Dalam berita “India Pilih Sabang” yang dirilis Serambi Indonesia Agustus 2019, Nova Iriansyah mengatakan, kunjungannya ke India merupakan kunjungan balasan, karena Dubes India sudah beberapa kali datang ke Aceh dalam penjajakan kerja sama.

"Yang terpenting bagi saya, Dubes ini mau kongkret dan cepat, itu bagian yang saya suka, biasanya selama ini mengambang," pungkas Nova Iriansyah.

Investor Prancis Survei Potensi Sumber Daya Alam Aceh Timur

Amatan penulis, rencana kerja sama dengan Malaysia belum mendapatkan porsi yang sama dengan tanggapan terhadap UEA dan India. Padahal, sama seperti UEA dan India, Malaysia sepertinya juga terlihat sangat serius untuk menjalin kerja sama dengan Aceh.

Bahkan, orang sekelas Tun Daim perlu terbang dengan pesawat pribadi untuk melihat langsung potensi yang dimiliki Aceh.

Mungkin ada asalan tertentu yang membuat Plt Gubernur Aceh belum memberikan porsi lebih kepada Malaysia. Atau mungkin beliau menganggap, kerja sama antara Malaysia dan Aceh akan terjalin dengan sendirinya antara para pengusaha Aceh dan Malaysia, tanpa harus Pemerintah Aceh mencampuri terlalu jauh.

Apapun alasannya, penulis berharap keinginan Malaysia untuk menjalin kerja sama dengan Aceh juga mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah Aceh.

Apalagi, Malaysia saat ini sepertinya sangat membutuhkan pertolongan dari Aceh untuk memperkuat ekonomi muslim di negara mereka. Itung-itung kita berbuat baik untuk tetangga. Wallahuaklam.

*) PENULIS adalah wartawan Harian Serambi Indonesia, tinggal di Banda Aceh.

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved