Pelaku Teroris di Jerman Rasis dan Anti Islam, Anggap Turki dan Israel Layak Dihancurkan
Tobias Rathjen membunuh sembilan orang dengan latar belakang imigran, di antaranya lima orang Turki, dan melukai enam orang lainnya di pusat Hanau
Tersangka Tobias Rathjen selama ini juga mengaku tidak pernah bersama dengan perempuan karena dia merasa selalu dimata-matai oleh agen rahasia.
Peter Neumann, pakar penanggulangan terorisme di King College London mengatakan bahwa teks-teks yang ditulis Tobias Rathjen mengandung "beragam pandangan yang sebagian besar ekstrem."
Namun, berbeda dengan keterangan dari investigasi, co-leader dari Partai Kanan AfD Joerg Meuthen mengatakan bahwa penembakan itu bukan berasal dari pemahaman sayap kiri atau sayap kanan melainkan aksi yang semata-mata dilakukan orang gila.
Adapun para politisi dari seluruh spektrum politik menuduh kepada anti-Islam, anti-imigran yang menormalisasi pidato kebencian dan mengobarkan sentimen anti-asing dalam beberapa tahun belakangan.
Kini, polisi Jerman telah mengidentifikasi sekitar 60 penganut sayap kanan sebagai individu "berbahaya" yang mampu melakukan serangan kekerasan.
Pada Jumat pekan silan, kepolisian Jerman berhasil menangkap 12 anggota dari ekstremis sayap kanan Jerman yang dipercaya telah mengatur serangan skala besar di beberapa masjid.
Sebuah serangan serupa dengan yang terjadi di Selandia Baru tahun lalu.
Di dalam video yang kini telah dihapus oleh YouTube, kata-kata kasar tentang imigran Arab dan Turki dilaporkan telah menyerukan pemusnahan total akan banyaknya ras dan budaya di dunia.
Aksi kekejaman itu memicu banyak serangan teror dari kalangan ekstremis sayap kanan Eropa akan meningkatnya tindakan rasis dan anti-Islam.
Penembakan di Hanau Jerman: Polisi menemukan pelaku meninggal dunia di rumahnya. (YANN SCHREIBER / AFP)
)Sejauh ini Rathjen diyakini melakukan aksinya sendiri tapi kepolisian dan intelejen Jerman berusaha untuk mencari tahu hubungan-hubungan terkait kemampuan Rathjen dalam peningkatan komunitas ekstremis sayap kanan Eropa.
Komando Penanggulangan Teror Scotland Yard dan pejabat-pejabat MI5 juga memantau investigasi yang terjadi sampai ke Inggris.
Juru bicara Senior Whitehall mengungkapkan bahwa sejauh ini belum ada indikasi adanya hubungan antara pelaku penembakan dengan salah satu grup sayap kanan Inggris atau belum diketahui adanya kehadiran pelaku sebelumnya di Inggris.
"Namun selama pantauan di Jerman berlangsung dan ditemukan terjadi kaitan dengan Inggris maka dapat dipastikan resikonya bisa diminimalisir."
Petugas koroner membawa salah satu jenazah korban penembakan di bar shisha Hanau, dekat Frankfurt am Main, barat Jerman, pada 20 Februari 2020. Sebanyak 9 orang tewas dalam insiden yang diduga dilakukan ekstremis sayap kanan, di mana polisi mengidentifikasinya sebagai Tobias R.(AFP/ODD ANDERSEN) (AFP/ODD ANDERSEN)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/pengamanan-di-jerman.jpg)