Citizen Reporter
Cara Taiwan Cegah Virus Corona
Dengan pencegahan nasional yang terintegrasi ini, di Taiwan hanya 50 orang yang dikonfirmasi positif dan hanya satu orang yang meninggal.
Bahkan penjual di kios-kios terminal sangat pasif dan tidak terdengar panggilan promosi barang-barang yang mereka jual.
Semua orang memakai masker dan minim komunikasi.
• RSUD Teuku Peukan Abdya Belum Miliki Ruang Isolasi Pasien Suspect Corona
Kampus juga menerapkan aturan yang sangat ketat dalam mencegah penyebaran virus ini.
Seluruh mahasiswa yang masuk ke semua gedung dicek suhunya setiap saat, dari pagi sampai malam.
Untuk menandai bahwa mahasiswa sudah dicek suhu, setelah pemeriksaan ditempel stiker kecil di baju dan warna stiker berbeda tiap hari dan antarwaktu.
Penggunaan piring makanan tidak diperbolehkan, restoran memberikan kotak, sumpit sekali pakai, dan tiap orang diberi satu sendok pengambil makanan.
Bisa dibayangkan berapa sendok yang harus disediakan untuk ribuan penghuni kampus.
Pascasebaran virus Covid-19 di Wuhan, Cina, Taiwan pun mulai memantau penumpang yang tiba dari Wuhan.
Petugas kesehatan langsung naik ke pesawat untuk mengukur suhu tubuh penumpang.
Petugas juga memantau orang yang telah melakukan perjalanan dari Wuhan sejak merebaknya virus Covid-19.
Apabila ada masyarakat yang menunjukaan gejala semirip terinfeksi virus corona maka diperintahkan agar melakukan karantina di rumah selama 14 hari untuk dinilai apakah perlu tindakan medis di rumah sakit.
Setelah penyebaran virus semakin mengganas, Taiwan menjadi negara pertama yang melarang penerbangan dari Wuhan.
Pemerintah juga melarang ekspor masker dan memastikan masyarakat mampu membeli dengan harga terjangkau, mendistribusikan 6,5 juta masker ke seluruh sekolah dasar dan menengah, distribusi 84.000 liter sanitizer dan 25.000 unit pengukur suhu badan.
Salah satu kelebihan Taiwan dalam menangulangi Covid-19 adalah penggunaan infrastruktur kesehatan yang terintegrasi, yaitu analisis data besar atau Big Data, termasuk di dalamnya data sejak wabah SARS tahun 2003.
Pengunjung melaporkan riwayat kesehatan dengan kode QR yang selanjutnya digunakan pemerintah untuk mengklasifikasi risiko infeksi penumpang berdasarkan asal negara kunjungan dan riwayat perjalanan selama 14 hari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-farok-afero.jpg)