JURNALISME WARGA

Danau Bungara, Geliat Wisata di Tengah Kepungan Sawit

Sebagai kawasan yang sarat dengan jejak sejarah dan keragaman budaya, Kabupaten Aceh Singkil yang merupakan salah satu kabupaten

Danau Bungara, Geliat Wisata di Tengah Kepungan Sawit
IST
MUHAJIR AL-FAIRUSY, Peneliti Etnografi Kabupaten Singkil, melaporkan dari Singkil

MUHAJIR AL-FAIRUSY, Peneliti Etnografi Kabupaten Singkil, melaporkan dari Singkil

Sebagai kawasan yang sarat dengan jejak sejarah dan keragaman budaya, Kabupaten Aceh Singkil yang merupakan salah satu kabupaten yang berada di perbatasan Aceh-Sumatera Utara ikut menyimpan sejumlah pesona wisata alam yang eksotis. Mulai dari destinasi bahari Kepulauan Banyak, hamparan hutan bakau dan rawa Singkil, hingga beberapa danau yang tersebar di kawasan ini.

Salah satu danau yang kini mulai ramai dikunjungi warga di Aceh Singkil adalah Danau Bungara. Letaknya di Kecamatan Kuta Baharu yang bersebelahan dengan Kecamatan Singkohor. Dua kecamatan yang mayoritas didiami oleh  kalak Singkel (orang Singkil).

Sehari setelah menyeberangi Pulau Banyak menuju Singkil, saya bersama salah seorang duta wisata kabupaten tersebut dan dua pemuda penggerak di sana yang pernah menjadi pembina paguyuban mahasiswa Singkil-Yogjakarta berkunjung ke Danau Bungara. Tujuan awal kami adalah untuk melihat proses pembibitan dan budi daya ikan air tawar di sana. Butuh waktu hampir dua jam perjalanan darat dari Singkil menuju Danau Bungara.

Tiba di Rimo, perjalanan diarahkan menuju ke Kecamatan Singkohor dan Kota Baharu sebagai lokasi keberadaan Danau Bungara. Perjalanan dari Rimo ke Danau Bungara sedikit menantang, akibat kondisi jalan yang masih membutuhkan perhatian ekstra dari pemerintah. Jalan menuju ke Danau Bungara sebagian besar memang masih melewati kepungan perkebunan sawit milik perusahaan. Alasan ini pula yang kerap menjadi rumor bahwa pemerintah setempat masih enggan membangun infrastruktur publik ini secara serius. Di satu sisi jalan memang amat dibutuhkan masyarakat di sana, tapi di sisi lain justru dianggap menguntungkan pihak korporasi yang kerap mengangkut hasil perkebunan dengan armada-armada besar mereka.

Mengenai Danau Bungara, menurut Wanhar Lingga, salah seorang pengelola wisata di sana, merupakan danau kedua terbesar di Aceh setelah Danau Lut Tawar di Aceh Tengah. Luasnya mencapai 85,6 hektare berdasarkan hasil survei Disbudpar setempat. Danau ini dikelilingi oleh empat kampung. Karena itu, sebagian masyarakat yang menetap di kawasan danau menggantungkan mata pencahariannya pada sektor perikanan sebagai nelayan di danau tersebut.

 Memiliki kedalaman hingga delapan meter, danau ini diperkaya dengan ragam jenis ikan ait tawar. Saat sore hari kami berkeliling danau menggunakan sampan lokal yang disebut bungki pelempoh leja. Jika diterjemahkan berarti perahu pelepas lelah.

Tampak jelas aktivitas penduduk yang lalu lalang menangkap ikan di danau menggunakan alat tangkap tradisional berupa bubu dan jaring.

Tak sekadar eksotis, danau ini juga memiliki legenda turun-temurun dari penduduk setempat. Ada keyakian warga sekitar bahwa danau ini memiliki terowongan yang terhubung ke pantai Gosong Telaga di Kecamatan Singkil Utara. Berdasarkan cerita warga, pernah ada perahu warga yang dibuat dari sebuah bukit dekat danau, selanjutnya jatuh ke danau dan tenggelam. Tak lama kemudian perahu kecil tersebut ditemukan warga di kawasan anak laut pantai Gosong Telaga. Selain itu, di danau ini kerap ditemui beberapa jenis ikan laut yang habitatnya di laut. Fenomena ini kian menguatkan keyakinan warga bahwa danau ini memiliki jalur (kanal) ke laut, meskipun tak pernah diketahui di mana letaknya.

Pada masa Belanda, keberadaan Danau Bungara difungsikan sebagai wadah untuk mengalirkan pohon-pohon kapur ke aliran Sungai Souraya, sungai terbesar yang membentang dari Gayo Lues hingga ke muara Singkil, untuk diekspor ke luar melalu laut Singkil. Dari catatan sejarah, khusus untuk kawasan residen Tapanuli termasuk Singkil, Belanda bahkan sengaja membuat kapal khusus pengangkutan Singkil-Belanda. Sebuah foto lama yang kini diarsip oleh KITLV tampak sebuah kapal tua tahun 1916 terpahat kata Singkel di badan kapal dengan keterangan di bawah Singkel te Nederlands Indie, guna mengangkut material dari kawasan ini untuk diekspor ke luar. Sebagaimana diketahui dari catatan sejarah, Singkel/Singkil merupakan wilayah penting bagi Belanda para era kolonial.

Kini, Danau Bungara tak lagi sekadar wadah memburu ikan, tempat ini mulai bertransformasi lewat sentuhan masyarakat setempat yang melihat potensi besar wisata di sana. Pembangunan spot-spot penunjang wisata terus dibangun oleh masyarakat tempatan. Mulai dari pengadaan transportasi keliling danau, jembatan kayu berupa dermaga yang akan difungsikan sebagai tempat swafoto bagi pengunjung hingga keberadaan warung makan tempat pengunjung melepas penat. Khusus untuk kuliner dan cara menyantap makanan, pelaku wisata di sana sengaja menyediakan menu khas produk hasil alam danau bungara, berupa ikan air tawar seperti nila, gurami, dan ikan mas yang dibakar. Untuk tempat makan, pengunjung juga dapat menikmati langsung di tengah danau di atas perahu sambil berkeliling danau yang permukaannya sesekali bergelombang akibat terjangan angin.

Dari informasi pengelola, pengunjung biasanya paling ramai pada hari Sabtu dan Minggu, mengingat kedua hari tersebut hari libur. Adapun untuk hari-hari biasa, pengunjung masih terbatas. “Seiring laju pengembangan wisata di danau ini, pemerintah juga diharapkan dapat membantu proses perbaikan jalan menuju ke Danau Bungara sebagaimana impian masyarakat,” ujar Wanhar Lingga.

Jika harapan Wanhar Lingga terwujud, hal ini tentu akan membantu laju perbaikan ekonomi lokal masyarakat, selain upaya memperkenalkan spot  wisata baru di kawasan Aceh Singkil.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved