Breaking News:

UPDATE CORONA DI ACEH

Memahami Corona Sebagai Takdir Allah  

Indonesia sekarang berada pada tahap awal kehadiran dan penyebaran virus corona (Covid-19) yang sudah mewabah di bumi ini

Editor: bakri
Memahami Corona Sebagai Takdir Allah   
Prof. Dr. Al Yasa` Abubakar, Guru besar Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Oleh Prof. Dr. Al Yasa` Abubakar,  Guru besar Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh 

Indonesia sekarang berada pada tahap awal kehadiran dan penyebaran virus corona (Covid-19) yang sudah mewabah di bumi ini. Dari berbagai bacaan terutama di media sosial, dapat penulis simpulkan (mohon koreksi sekiranya salah), virus ini masuk ke dalam tubuh melalui mulut, hidung atau mata, sedang orang yang sudah tertular memindahkannya ke orang lain melalui percikan/cairan/partikel yang dia keluarkan dari mulut (air liur, dahak) ketika berbicara atau batuk, dan dari hidung (ingus) ketika bersin atau membuang ingus.

Virus yang ada dalam cairan yang terkeluarkan ini, akan melekat pada semua benda yang terpercik dan akan hidup selama beberapa jam, ada yang mengatakan sampai 12 jam. Penyebaran terjadi ketika virus yang melekat pada berbagai benda tersebut tersentuh tangan seseorang, lalu tangan tersebut disentuhkan ke wajah sendiri  (secara disengaja atau tidak) dan melalui sentuhan inilah virus masuk ke tubuh seseorang.

Jadi, kalau kita sanggup menjaga diri sehingga tidak berdekatan (apalagi bersentuhan) dengan orang yang sudah tertular dan sanggup menjaga diri dari menyentuh benda yang sudah tercemar, maka kuat dugaan kita tidak akan tertular. Karena bersentuhan tidak mungkin kita hindari secara total, maka dianjurkan mencuci tangan memakai sabun atau cairan yang disediakan untuk itu, setiap tersentuh benda asing sebelum menyentuh wajah, atau secara rutin setiap satu jam ketika berada di luar rumah. Sabun dan alat pembersih khusus, menurut penelitian ilmiah dapat membunuh virus tersebut.

Menurut para sarjana dan peneliti, sentuhan tangan atas benda yang sudah tercemar viruslah (yang umurnya sampai beberapa jam) yang menjadi media penyebaran utama corona. Setelah virus masuk dia akan menggangu sistem tubuh dan kalau sanggup bertahan sampai tiga minggu, maka secara teoritis dia akan selamat. Sebaliknya kalau tubuh kita tidak sanggup bertahan dalam waktu tersebut, maka besar kemungkinan akan diantar ke kuburun. Konon orang yang sudah tertular tetapi selamat (barrier), akan tetap berbahaya bagi orang lain karena dia akan tetap dapat menularkannya kepada orang lain, yang mungkin sekali tanpa dia sadari (karena merasa sehat, merasa tidak tertular, tidka melihat gejala sakit pada dirinya).

Pemerintah Pusat, Pemerinah Aceh dan MUI telah mengeluarkan instruksi dan imbauan agar kita melakukan social distancing (menjaga jarak dengan orang lain). Pemerintah dan MUI mengajak kita semua sebagai penduduk untuk menyelamatkan diri dan masyarakat dari gempuran corona, dengan cara mencegah penyebarannya. Pencegahan ini cukup dilakukan dengan sebuah kegiatan saja, tetapi mesti dilakukan bersama-sama dengan disiplin dan kesungguhan yang relatif tinggi.

Inti pemintaan ini hanya satu buah saja, agar semua kita saling menjaga jarak aman (sekitar satu meter) dengan orang yang ada di sekitar kita. Agar pekerjaan ini betul-betul efektif maka kita juga sangat diharapkan tidak menyentuh benda apapun di sekitar kita yang diduga telah tercemar dengan virus corona dan mencuci tangan secara rutin dengan sabun atau cairan khusus yang disediakan untuk itu sekiranya kita berada di tempat umum.

Seperti terbaca, permintaan ini sederhana saja dan insya Allah mayoritas kita sanggup melaksanakannya asalkan ada kesadaran dan kemauan yang kuat, walaupun mesti kita akui ada kesukaran psikologis yang perlu kita atasi terlebih dahulu. Kesukaran yang kita hadapi, kita tidak tahu siapa orang yang sudah tertular yang ada di sekitar kita dan benda apa yang sudah tercemar dengan percikan air liur atau ingus orang yang sudah tertular.

Secara budaya atau etika pergaulan, kita merasa risih kalau menolak bersalaman dan juga merasa risih untuk tidak mau berdekatan dengan teman atau tamu. Secara umum rasa risih ini demikian tinggi, sehingga dapat mengalahkan rasa kuatir akan tertular virus corona, makhluk yang tidak kasat mata, yang ditakdirkan Allah untuk membawa penyakit berbahaya.

Mungkin karena keadaan ini sebagian orang meremehkan instruksi di atas dan menganggapnya berlebihan. Sampai ada yang berkata, umur dan sebab kematian kita sudah ditentukan Allah, apakah karena corona atau bukan. Izrail tidak pernah keliru mendatangi orang yang akan dicabut nyawanya. Menurut mereka ini, jangan takut berlebihan pada corona. Jangan tinggalkan salat fardu berjamaah di masjid dan jangan takut bersalaman. Pernyataaan ini mengandung sedikit kebenaran, tetapi belum sempurna. Kalau tidak dilengkapi, pernyataan di atas akan menimbulkan kesalahan yang fatal tentang takdir Allah SWT.

Sebagai umat Islam, pertama sekali kita yakin (dan mesti yakin) bahwa yang terjadi di atas alam (yang baik, yang buruk, yang kita rencakan atau tidak kita rencakan) semuanya merupakan takdir dan ketentuan Allah SWT. Kalau hal ini tidak kita yakini maka iman kita tidak sempurna, bahkan rusak. Kedua, kita juga mesti yakin bahwa takdir Allah tidak akan diketahui manusia sebelum terjadi. Kalau ada orang yang mengaku dapat atau telah mengetahui takdir sebelum terjadi (misalnya tukang ramal), maka menurut Islam dia berbohong bahkan melakukan dosa besar karena mengaku mengetahui ilmu yang menjadi rahasia Allah.

Ketiga, karena tidak mengetahui takdir maka kita diberi kebebasan bahkan disuruh untuk memilih yang terbaik bagi masa depan kita, merencanakannya dan mengusahakannya agar tercapai. Untuk memungkinkan dan memudahkan kita membuat rencana dan setelah itu melaksanakannya, Allah menurunkan sunnatullah (hukum alam, hukum sebab akibat) yang menjadikan alam ini teratur dan pengetahuan ilmiah dapat berkembang.

Berdasarkan sunnatullah, yang kita ketahui dari pengalaman atau penelitian ilmiah, maka kita sebagai orang awam dan lebih-lebih lagi para ilmuwan, dapat memperkirakan apa yang akan terjadi dan berdasarkan itu dapat membuat perencanaan yang baik. Melakukan sesuatu yang melawan sunnatullah dianggap sebagai perbuatan mencelakakan diri sendiri, yang dalam tingkat fatal merupakan perbuatan bunuh diri.

Sebagai contoh, Allah memberikan sifat membakar kepada api sebagai sunnatullah. Orang yang melemparkan dirinya ke dalam api dengan keyakinan tidak akan terbakar sekiranya tidak dikehendaki Allah akan dianggap konyol karena dia melawan sunnatullah. Dia dianggap salah memahami takdir atau keliru memilih takdir. Dia mesti bertanggung jawab atas pilihan dan perbuatannya itu. Sekiranya mati maka dia dianggap melakukan dosa besar yaitu bunuh diri. 

Dalam hadis disebutkan bahwa seorang muslim akan dianggap beruntung kalau masa depannya lebih baik dari masa lalunya. Untuk itu dia mesti membuat rencana yang baik dan mengerjakannya secara baik pula agar masa depannya menjadi baik. Covid-19 adalah bencana. Untuk mengatasinya agar selamat, kita mesti membuat rencana yang baik dan menjalankannya secara baik pula. Sunnatullah untuk melawan wabah ini menurut para sarjana dan peneliti adalah berupaya menghindarinya, yang bagi kita sebagai penduduk biasa berusaha mengamalkan ketentuan social distancing dan mematuhinya dengan ketat.

Rencana dan kegiatan yang akan kita buat mesti disesuaikan dengan sunnatullah ini. Kalau tidak kita lakukan, berarti kita memilih takdir yang keliru, dan sekiranya berakibat fatal (kematian) maka kita dapat dianggap melakukan perbuatan konyol mecelakakan diri sendiri, yang pada tahap tertentu dapat dianggap sebagai dosa besar yaitu bunuh diri. Wallahu a`lam bish-shawab.  

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved