Opini
Berjuang di Tengah Keterbatasan
Konologi terkait kasus Covid-19 pertama di Aceh memang memilukan. Namun dari kasus tersebut kita bisa semakin tegas dalam proyek mitigasi
Jika kita lihat dalam pemberitaan atau youtube, pola lockdown di negara seperti Cina, India, atau Italia dilakukan dengan konsentrasi dan represi militer di ruang publik secara maksimal. Tak jarang warga diusir dengan kasar atau dipukul jika melanggar "jam keluar". Di beberapa negara memberlakukan denda besar seperti di Perancis dan kota-kota terdampak di Amerika Serikat. Dengan pengalaman traumatis masyarakat Aceh atas darurat militer tentu pilihan seperti ini penting untuk dikaji secara mendalam.
Apalagi, ketika kasus Covid-19 pertama muncul, mulai tersebar rumor bahwa pasar akan dibekukan, sehingga menyebabkan masyarakat seperti hari mak meugang: membeli dan menimbun pasokan bahan pokok di rumahnya. Tindakan ini tentu membuka ruang pada spekulan untuk menahan barang dari gudangnya, dan baru melepas ketika harga sudah seperti emas.
Memang seperti dijelaskan Presiden Joko Widodo, kebijakan lockdown bukan wewenang daerah. Hanya pemerintah pusat yang berhak menentukan kebijakan krusial tersebut. Namun, di tingkat lokal, kita bisa melakukan hal-hal lain yang bisa mereduksi penyebaran virus, yaitu isolasi atau karantina terbatas.
Plt Gubernur Aceh bisa mengambil sikap safety dengan isolasi terbatas. Selama ini kebijakan sinergis antara pemerintah dan dunia pendidikan sudah terjadi, misalnya dengan memberlakukan bekerja dan belajar dari rumah (work and learn from home). Saya sebagai rektor sudah sejak 16 Maret lalu memberlakukan rapat dan koordinasi via media daring, baik dengan whatsapp group atau media conference virtual interaktif dengan google meet atau zoom cloud meeting. Koordinasi antarpimpinan pun bisa berjalan dengan baik dan juga jenaka.
Bahkan pembelajaran daring pun telah dilakukan oleh para akademia baik untuk perkuliahan dan konsultasi skripsi atau tesis. Pilihan ini tentu berat, apalagi bagi dosen dan mahasiswa yang selama ini hanya memanfaatkan media digital untuk keperluan rekreasi atau informasi ringan. Seperti dikatakan filsuf Aristoteles, akar dari semua proses pendidikan memang pahit, tapi buah yang dihasikan akan manis. Lagipula, proses pembelajaran daring juga menjadi indikator akreditasi perguruan tinggi. Untuk masa darurat sekarang ini, pilihan pembelajaran daring terpaksa menjadi pilihan utama.
Kembali pada konsep lockdown jika akan dilakukan, maka jadikan sebagai pilihan parsial dan relaksasif. Tentu definisi ini tidak dipakai, tapi menggunakan istilah lain yaitu pembatasan, isolasi, atau karantina terbatas seperti menghindari adanya kerumunan massa dan kepadatan pada suatu lokasi. Kebijakan isolasi terbatas ini juga mendidik masyarakat yang terdampak untuk bisa menyelesaikan masalah yang dihadapinya secara lokal dan partisipatif.
Mungkin malah akan muncul inisiatif pertanian, perkebunan, dan teknologi ramah lingkungan berbasis kampung, sehingga masyarakat semakin mandiri. Kampus pun harus membuka ruang kecendiakaannya pada model pemberdayaan dan advokasi masyarakat berbasis karakter bencana wabah seperti Covid-19 ini. Kita harus berjuang dengan waktu yang tersisa dalam hidup ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/herman-fithra.jpg)