Citizen Reporter
Terjebak Covid-19 di Apartemen Amerika Serikat
Bagi saya sendiri, pilihan hanya satu, yakni tinggal di apartemen, sebab kalau saya pulang ke Aceh secara finansial dan keimigrasian akan sangat sulit
Itulah yang saya rasakan sekarang.
Sebelum musibah penyebaran virus ini terjadi, suasana di Kota Lubbock, Texas, Houston, tempat saya tinggal, senantiasa ramai.
Baik itu di apartemen, ruang kuliah, laboratorium, kantin, hingga taman-taman kampus saat jam istirahat penuh mahasiswa.
Terkadang kami bikin acara ngumpul-ngumpul, makan bareng, jalan-jalan, dan aneka aktivitas menyenangkan lainnya.
Kini sungguh sangat berbeda, suasana sedemikian sepi.
Tidak banyak orang yang berlalu lalang, serasa seperti di musim dingin.
Kampus berubah layaknya gedung-gedung hantu, menakutkan.
Untuk makan sehari-hari, saya suka masak sendiri di apartemen.
Sebelum dilanda wabah Covid-19, ketersediaan makanan sangat beragam dan sangat cukup.
Namun, selama pandemi Covid-19 ini ketersediaan makanan sangat-sangat terbatas, terutama untuk kebutuhan karbohidrat dan protein.
Sering kali stok makanan di supermarket habis sehingga harus menunggu lama agar dapat tersedia lagi.
Saat ini terjadi panic buying di mana-mana.
Saya kira sama persis dengan penduduk di negara lain sehingga stok bahan makanan dan lain-lain begitu cepat hilang di rak-rak belanja.
Untuk membeli kebutuhan sehari-hari memang tidak dibatasi, tapi kini justru terbatas ruang gerak karena harus mengikuti protokol social distancing.
Selain itu, tempat tinggal yang sedikit jauh dari market.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/shirra-ulfa-irham-penulis-citizen-reporter.jpg)