Breaking News:

Kupi Beungoh

Belajar di Rumah Menimbulkan Persoalan Baru, Pemerintah Perlu Segera Menyusun Formulanya

Aturan yang mengharuskan siswa belajar di rumah atau home learning berbasis online, memunculkan persoalan baru.

SERAMBINEWS.COM/Handover
Husen, S.Sy., M.Ag, Guru MIN 9 Aceh Selatan. 

Oleh Husen, S.Sy., M.Ag*)

SERANGAN wabah COVID-19 atau virus corona yang mengepung Indonesia saat ini tampaknya belum mampu diredam.

Bahkan negara-negara canggih dan maju, juga kebingungan dalam mengatasi dan mengantisipasi virus corona jenis baru ini.

Penyebarannya yang masif dan relatif cepat membuat orang-orang ciut dan tidak leluasa dalam beraktivitas.

Semua orang terpaksa harus berdiam diri di rumah demi memutus rantai penularan COVID-19.

Lalu muncul gagasan dari Pemerintah untuk mengurangi aktivitas bersifat keramaian.

Sehingga muncul pula istilah work from home (WFH) atau bekerja di rumah, dan juga tidak kalah menariknya bagi pelajar dengan istilah study at home/home learning atau belajar di rumah.

Pemberlakuan belajar di rumah bagi siswa atau pelajar baik tingkatan SD-sederajat sampai dengan perguruan tinggi merupakan intruksi dari pemerintah.

Hal ini sejalan dengan Surat Edaran Mendikbud Nomor 2 Tahun 2020 tentang Pencegahan dan Penanganan COVID-19 di lingkungan Kemendikbud dan Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan COVID-19 pada Satuan Pendidikan. (kemdikbud.go.id).

Alhamdulillah, Lagi Satu Pasien Positif Covid-19 Sembuh di RSUDZA Banda Aceh

Jumlah ODP dan OTG di Kota Langsa Terus Menurun

Memunculkan Persoalan Baru

Sebagai tindak lanjut kebijakan tersebut, maka sekolah-sekolah atau madrasah diliburkan.

Namun, bukan berarti siswa libur seperti liburnya semester atau hari libur.

Siswa diharuskan untuk belajar di rumah atau home learning berbasis online.

Aturan tersebut kemudian memunculkan persoalan baru.

Terutama bagi orangtua siswa, khawatir anaknya dapat menyalahgunakan fungsi HP untuk main game atau hal lain dengan alasan membuat tugas sekolah.

Karena tidak mungkin orangtua dapat mengontrol dengan penuh anaknya.

Tugas yang begitu banyak setiap mata pelajaran, bahkan melebihi tugas pada saat jam sekolah.

Sebagaimana pemberitaan tentang banyaknya pengaduan orangtua kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang mengeluhkan anak-anak mereka justru stres karena mendapatkan berbagai tugas setiap hari dari gurunya, selama diliburkan akibat virus corona atau COVID-19.

Penulis mengutip laporan dari KPAI sampai tanggal 19/03/2020, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bagian pengaduan online sudah menerima 51 pengaduan sejumlah siswa dari berbagai daerah yang mengeluhkan beratnya penugasan dari guru yang harus dikerjakan dengan deadline yang sempit (kpai.go.id).

Sehingga memunculkan kalimat baru yang beredar di medsos, munculnya istilah dari anak-anak “mati bukan karena corona, tapi karena tugas sekolah”.

Di samping itu, beban guru atau pengajar juga tidak kalahnya dari siswa, guru diwajibkan membuat soal untuk siswa, berkomunikasi dengan siswa via online.

Guru disibukkan dengan administrasi guru, perangkat pembelajaran, RPP, dan lain sebagainya, bahkan guru dituntut untuk lebih administratif.

Padahal guru tidak berlatar belakang lulusan jurusan ilmu administrasi atau manajemen.

Sehingga mengiring kondisi guru pada istilah guru sebagai pendidik sudah pudar, bahkan hilang.

Hanya tinggal guru sebagai pengajar.

Hal ini disebabkan dari upaya mengarahkan guru pada penyelesaian administrasi keguruan sebagai laporan bagi atasan. 

Lalu apa yang harus dilakukan pada saat kondisi seperti saat ini.

Dengan kondisi negeri dilanda wabah virus corona.

Ujian Nasional SMA/MA di Aceh Ditiadakan, Masa Belajar di Rumah Diperpanjang Hingga 30 Mei

Corona Mencemaskan, Aplikasi Zoom dapat Digunakan untuk Siswa dan Guru Belajar di Rumah

Apa yang Seharusnya Dilakukan?

Keseluruhan problem tersebut, dapat disikapi dan diatasi oleh pemerintah dengan mengambil kebijakan segera menyusun formula baru untuk sistem belajar di rumah yang lebih efektif dan berkualitas.

Seharusnya pihak pemerintah segera menyusun formula atau grand desain tentang mekanisme belajar di rumah agar lebih efektif dan memiliki kualitas yang sama dengan belajar di sekolah.

Ada indikator yang paling utama yang harus dihasilkan bagi pelajar sebagai outputnya, yaitu adanya perubahan karakter dan kepribadian yang lebih baik dan mandiri yang harus dimiliki siswa.

Sehingga kegiatan ini tidak hanya sekedar untuk mengisi kekosongan saja akibat COVID-19 atau virus corona yang melanda Indonesia.

Padahal menurut hemat penulis, kebijakan yang diambil oleh pemerintah sudah sangat tepat untuk memerintahkan siswa belajar di rumah.

Oleh karenanya, penulis menawarkan dan mengingatkan aspek yang tidak boleh dialpakan dalam pemberian tugas bagi siswa.

Siswa tidak hanya diberikan tugas yang bersifat eksak atau mata pelajaran di sekolah yang begitu banyak.

Menurut penulis, tugas pelajaran yang sangat banyak ini hanya sekedar siswa mampu menguasai materi pelajaran.

Bukan siswa yang ahli dan mahir dengan materi tersebut.

Beban pelajaran yang sangat banyak dan rumit, akan membuat psikis siswa tertekan.

Apalagi, jika aplikasi pesan di handphone yang mereka gunakan untuk belajar, malah diwarnai dengan informasi-informasi hoaks tentang virus dan segala macam.

Kondisi ini, tentu akan membuat jiwa mereka semakin tertekan.

Maka selayaknya adalah hadirkan kebahagian dan kegembiraan bagi mereka, bukan malah menambahkan beban baginya.

Menurut hemat penulis yang juga berprofesi sebagai seorang guru, membaca psikis siswa saat ini, mereka membutukan ketenangan, pencerahan, dan energi positif.

Agar itu dapat dihasilkan, maka guru bisa bekerja sama dengan wali murid, dokter, psikolog, ustadz/zah atau Tgk untuk memberikan pencerahan kepada mereka.

Misalkan, setiap harinya siswa ada agenda ibadah amaliah yang harus dikerjakan untuk meningkatkan kualitas keimanan kepada Allah SWT.

Mendidik siswa untuk lebih dekat dengan agama sehingga menghadirkan ketenangan.

Kemudian guru dapat meminta penjelasan dari dokter atau pakar kesehatan, tentang tata cara pola hidup sehat dan menghindari dari penyakit virus corona dan penyakit lainnya.

Dengan menshare informasi tertulis maupun video agar siswa mudah memahaminya.

Guru bisa menggunakan grup whatsapp, email, google clasroom atau aplikasi media belajar lainnya rekomendasi Kemendikbud.

Mengarahkan siswa lebih banyak mendengarkan motivasi, ceramah atau tausyiah, muhasabah diri (intropeksi diri), membaca sirah nabawiyah, kisah-kisah yang menguggah jiwa, mengenal tokoh-tokoh inspiratif untuk dicontoh, mengajarkan jiwa sosial, sikap peduli, rasa memiliki tanggung jawab, agar siswa terinspirasi dan meningkatkan kualitas mental spiritual, kecerdasan emosional disamping kecerdasan intelektual.

Keseluruhan agenda ini menurut hemat penulis merupakan indikator keberhasilan terhadap perubahan karakter dan kepribadian yang lebih baik pada diri siswa.

*) PENULIS adalah guru MIN 9 Aceh Selatan. Email: husenaffan.92@gmail.com HP: 085206977168

KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis.

Editor: Zaenal
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved