Senin, 4 Mei 2026

Citizen Reporter

Cara Warga Atlanta Amerika Serikat Menghormati Para Pahlawan Covid-19

Hingga 29 Maret 2020, tercatat 2.446 kasus positif Covid-19 di Georgia, di mana 809 di antaranya ditemukan di Atlanta dan sekitarnya.

Tayang:
Editor: Mursal Ismail
FOR SERAMBINEWS.COM
ILHAM M SIDDIQ, pelajar asal Aceh di Georgia Institute of Technology, Atlanta, GA, melaporkan dari Atlanta, Georgia, Amerika Serikat 

Hingga 29 Maret 2020, tercatat 2.446 kasus positif Covid-19 di Georgia, di mana 809 di antaranya ditemukan di Atlanta dan sekitarnya.

ILHAM M SIDDIQ, pelajar asal Aceh di Georgia Institute of Technology, Atlanta, GA, melaporkan dari Atlanta, Georgia, Amerika Serikat

ATLANTA merupakan ibu kota sekaligus kota terbesar di negara bagian Georgia, Amerika Serikat.

Hingga 29 Maret 2020, tercatat 2.446 kasus positif Covid-19 di Georgia, di mana 809 di antaranya ditemukan di Atlanta dan sekitarnya.

Saat ini seluruh tempat umum di kota ini ditutup, kecuali beberapa fasilitas dasar seperti supermarket, apotek, dan kantor polisi.

Seluruh masyarakat diperintahkan untuk tetap di rumah dan menerapkan dengan ketat social distancing.

Di tengah berbagai dinamika penanganan wabah Covid-19 di Atlanta, ada hal-hal menarik yang patut menjadi inspirasi untuk kita di Aceh.

Pemkab Pijay Telah Mempersiapkan 35 Kamar Isolasi Pasien Covid-19, Ini Jumlah Dana yang Digunakan

5 Fakta Foto Oknum Polisi Ciuman Tanpa Busana Sesama Pria, Viral di Facebook hingga Penyebar Diburu

Dinda Puspita, Finalis Putri Kebudayaan Aceh 2020, Berikut Profil Gadis Cantik Asal Langsa Ini

Salah satunya adalah dukungan moral dan penghormatan yang tinggi oleh penduduk kota untuk seluruh tenaga medis yang mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan ribuan nyawa lain yang terinfeksi virus corona.

Sebagai penghargaan untuk para dokter dan perawat, setiap hari pada pukul 20.00 waktu setempat, seluruh penduduk kota ke luar ke beranda atau berdiri di jendela masing-masing, sebagian sambil memegang terompet, alat-alat musik, bahkan panci, dan centong.

Lalu dengan serentak semua penduduk bertepuk tangan, bersiul, memukul alat music dan berbagai benda, sambil mengucapkan, “Thank you, health workers!” (Terima kasih para tenaga medis).

Riuh rendah suara-suara tersebut menggema di seluruh kota, menciptakan suasana yang penuh haru dan rasa solidaritas.

Aksi yang berlangsung hingga 10 menit ini pada akhirnya bukan hanya memotivasi para petugas medis, tapi juga membantu mengurangi rasa takut dan cemas di tengah masyarakat dalam masa krisis Covid-19 saat ini.

Di lain waktu, saya tertegun saat seorang kerabat yang berprofesi perawat di salah satu daerah di Aceh bercerita bahwa ia dan keluarganya malah mengalami hal yang sebaliknya.

Mereka justru terkena stigma sebagai pembawa wabah Covid-19 karena karakteristik pekerjaannya yang terus berdekatan dengan pasien.

Akibatnya, kerabat saya ini beserta keluarganya mulai merasa dikucilkan oleh tetangga. Hal ini tentu sangat mengganggu perasaannya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved