Jumat, 24 April 2026

Opini

Beribadah di Tengah Wabah Covid-19  

Wabah Covid-19 kelihatannya masih akan meluas. Belum terlihat tanda bahwa kita mampu mengendalikan penyebarannya secepat

Editor: bakri

Untuk memudahkan, pengurus BKM dapat menulis pengumuman di pintu masuk, agar jamaah berdiri/duduk jarang-jarang, di tempat yang dia rasa aman dan nyaman, walaupun hanya sendirian pada satu shaf. Kita mesti ingat berdiri atau duduk berdekatan di dalam masjid (dan juga di luar masjid) sangat berpotensi menyebarkan virus. Menjarangkan shaf merupakan tindakan sangat penting untuk mencegah peyebaan virus (di samping menjaga kebersihan lantai masjid).

Sekiranya ada masjid/meunasah yang untuk sementara menghentikan kegiatan shalat berjamaah termasuk shalat Jumat dan kegiatan-kegiatan pengajian, hendaknya jangan disalahkan apalagi dicela. Seperti isi fatwa di atas, kalau keadaan semakin parah-sesuai dengan arahan Pemerintah, maka BKM atau pengurus masjid tidak boleh (haram) melakukan shalat Jumat, shalat berjamaah, dan kegiatan keagamaan yang melibatkan orang banyak. Dalam hadis disebutkan, ketika turun hujan sehingga becek, Nabi di dalam azan tidak memanggil orang shalat ke masjid, tetapi menyuruhnya shalat di rumah/kemah. Nabi menyuruh mu'azzin menukar lafaz Hayya `ala-sh Shalah dengan lafaz Sallu fi buyutikum (ada beberapa lafaz hadis tentang lafaz pengganti ini). Jadi Nabi pernah meminta/melarang orang ke masjid untuk berjamaah ketika keadaan tidak kondusif.

Kedua, bagi tenaga medis yang merawat pasien corona. Seperti taushiah MPU, dia tetap mesti menunaikan shalat wajib pada waktunya (hormat waktu). Untuk itu Alquran dan hadis Nabi memberi beberapa kemudahan sehingga ins sya Allah semua petugas sanggup melaksanakannya. Mereka boleh bertayamum walupun hanya dengan isyarat sebagai ganti wudhuk. Begitu juga boleh mengabaikan syarat suci pakaian dan suci badan.

Dia boleh mengerjakan shalat dengan pakaian APD menurut apa adanya. Apabila pekerjaan banyak atau mendesak, dia boleh menjamak shalat Zuhur dengan Ashar, atau Maghrib dengan Isya (tapi tidak boleh diqashar). Ketika keadaan sangat mendesak, boleh mengerjakan shalat sambil bergerak dan bekerja (cukup dengan isyarat dan boleh diqashar, shalat khauf, al-Baqarah 239 dan an-Nisa' 101).

Kita mesti selalu ingat, keadaan sekarang sedang tidak normal (darurat, bencana). Wabah ini mesti kita tanggulangi dengan sungguh-sungguh dan salah satu cara utamanya, tidak berdekatan dan tidak bersentuhan dengan mereka yang sudah tertular. Mari kita laksanakan ibadah sesuai perintah dan jangan ragu-ragu menggunakan kelapangan yang diberikan agama. MUI dan MPU telah memberikan tuntunan. Jangan kita ajak/paksa masyarakat mengamalkan pemahaman sempit yang dapat mengancam jiwa. Menurut agama haram mencelakakan diri atau orang lain. Saya rasa semua kita sudah tahu tentang ketentuan ini. Wallah a`lam bish-shawab.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved