Breaking News:

SALAM SERAMBI

Saatnya Belajar Serius dari Banjir Mei 2020

WALI KOTA Banda Aceh dan Bupati Aceh Besar sama-sama kaget ketika hujan dua hari yang nyaris tanpa jeda

SERAMBINEWS.COM/ MUHAMMAD NAZAR
Ruas jalan prorokol di dekat Masjid Alfalah Sigli, Pidie, Sabtu (9/5/2020), terendam banjir. 

WALI KOTA Banda Aceh dan Bupati Aceh Besar sama-sama kaget ketika hujan dua hari yang nyaris tanpa jeda mengakibatkan dua wilayah yang beririsan ini dilanda banjir pada 8 dan 9 Mei lalu.

Bahkan hingga Minggu (10/5/2020) kemarin sebagian kecil wilayah Kota Banda Aceh dan Aceh Besar masih belum juga surut genangan banjirnya. Apalagi pada sore hari hujan deras kembali mengguyur. Malah ada kawasan yang belum bisa dimasuki kecuali dengan sampan atau perahu karet.

Seperti halnya Bupati Aceh Besar dan Wali Kota Banda Aceh, masyarakat di dua daerah ini pun sama kaget dan paniknya ketika permukiman mereka mendadak menjadi danau bahkan “sungai” akibat direndam banjir genangan. Sungguh jauh dari bayangan

warga di kawasan Keutapang, Aceh Besar, misalnya ketika sekitar 900 orang di antara mereka harus mengungsi ke masjid atau ke gedung sekolah dua lantai pada bulan puasa ini.

Rumah-rumah mereka tak mungkin lagi didiami karena terendam air antara 1 hingga 1,3 meter. Mereka terpaksa sahur dan berbuka dengan makanan dan lauk apa adanya karena mendadak hidup di pengungsian. Para ibu hamil pun gundah luar biasa lantara berada di pengungsian yang fasilitasnya serbaminim dalam kondisi berbadan dua. Belum lagi ada di antara ibu hamil itu yang harus melayani anak dan suaminya seperti tuntutan saat di rumah meski statusnya sebagai pengungsi.

Sebagaimana diberitakan Harian Serambi Indonesia kemarin, standar gizi juga menjadi salah satu soalan di pengungsian. Karena kondisinya darurat, pengelola dapur umum hanya sempat dan sanggup menyediakan paket minimalis untuk disantap bersama saat sahur, yakni tempe dan ikan tongkol goreng plus mi instan. Aduhai.

Di sisi lain, banjir kali ini juga menimbulkan kepiluan yang luar biasa bagi dua keluarga yang anak mereka meninggal akibat banjir. Salah satunya adalah Syahril Ramadan, bocah 7 tahun, warga Gampong Kueh, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar yang meninggal dunia akibat tenggelam di sawah yang tergenang banjir pada Sabtu (9/5/2020) sekitar pukul 13.00 WIB.

Kepiluan mendalam juga dirasakan Bakhtiar (47), warga Desa Blang Dalam, Kecamatan Makmur, Bireuen, karena anaknya bernama Nafiza Zahwa, 3 tahun, terseret arus sungai di desa itu pada Jumat (8/5/2020) sekitar pukul 17.00 WIB. Saat jasadnya ditemukan sudah tak lagi bernyawa.

Nah, semua rentetan kejadian tersebab banjir ini hendaknya menjadi iktibar bagi semua kita sesuai posisi dan kedudukan kita masing-masing.

Bagi pemerintah kabupaten dan kota, banjir di bulan Mei ini hendaknya makin menyadarkan penguasa bahwa meskipun di luar musim penghujan yang namanya banjir, bahkan banjir bandang, bisa saja terjadi di wilayahnya.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved