Opini
Pegawai Visioner; Perspektif Islam
Saya awali tulisan ini dengan sebuah ilustrasi menarik untuk memetakan konsep pegawai/pekerja visioner: Seorang ulama sufi pernah menemui
Oleh Dr.Munawar A. Djalil, MA, Pegiat Dakwah, PNS Pemerintah Aceh, tinggal di Blang Beringin, Cot Masjid, Banda Aceh
Saya awali tulisan ini dengan sebuah ilustrasi menarik untuk memetakan konsep pegawai/pekerja visioner: Seorang ulama sufi pernah menemui tiga orang tukang batu. Ia bertanya kepada ketiga orang tukang batu tersebut. Apa yang tengah Anda kerjakan? "Saya sedang memecah batu," kata orang pertama.
Pertanyaan yang serupa diajukan kepada tukang batu kedua, dan dia menjawab, "Saya sedang bekerja untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarga saya". Adapun tukang batu terakhir menjawab dengan,"Saya sedang mendirikan masjid yang megah".
Ilustrasi ini dapat digunakan untuk mempersepsi tugas yang dijalani seorang pegawai/pekerja muslim dan jawaban yang diberikannya menjadi ukuran visi yang dimilikinya. Apakah kita bekerja untuk kerja atau untuk kepentingan kita dan keluarga atau untuk tujuan yang lebih besar, membangun suatu bangunan besar dan bermanfaat besar. Visi yang dimiliki seorang pegawai punya peranan yang sangat besar terhadap sikap, prilaku, prestasi, dan gaya hidup.
Sebagaimana diketahui bahwa manusia dan kerja adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Bahkan menurut Islam keadaan dan keberadaan manusia ditentukan oleh aktivitas kerjanya, sebagaimana firman Allah: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah apa yang ada pada dirinya." (Ar-ra'du ayat 11). Berangkat dari petunjuk Allah tersebut maka sangat relevan kalau Islam berbicara tentang semangat kerja bagi seorang muslim.
Dalam Islam didapati ada suatu "nuktah" yang sangat fundamental menyangkut semangat kerja itu, yaitu bahwa kerja atau amal adalah bentuk keberadaan (mode of existence) manusia artinya manusia ada karena ada kerja dan kerja itulah yang membuat atau mengisi eksistensi kemanusiaan. Karenanya sungguh sangat beralasan Nabi menjelaskan bahwa Allah mencintai hambanya yang bekerja.
Allah sendiri menuntun manusia agar senantiasa bekerja, malah setelah selesai dengan pekerjaan yang satu mesti dilanjutkan dengan pekerjaan yang lain (Al-Insyirah ayat 7). Ini bermakna bahwa manusia dituntut agar terus menerus bekerja tidak berpangku tangan dan bermalas-malasan dalam menempuh kehidupan dunia.
Dalam hal kerja perlu diingat bahwa Allah hanya akan menerima kerja hambanya bila dikerjakan dengan ikhlas, yaitu dengan mengharap ridha-Nya. Nabi Muhammad Saw mengingatkan agar umatnya bekerja dengan sepenuh hati, memiliki visi masa depan yang jelas dan mengejar kesempurnaan (perfectness), Allah mencintai hambanya yang memiliki kesempurnaan dalam bekerja dan memiliki tujuan ke depan. Karena Islam adalah sebuah agama di samping mementingkan kesadaran sejarah (masa lalu) juga menekankan agar para penganutnya memandang masa depan, seraya melakukan persiapan-persiapan untuk menghadapinya.
Sehubungan dengan itu terdapat tiga konsep Islam dalam menyikapi masa depan. Pertama, petunjuk Allah agar manusia beriman dan bersiap menghadapi masa depan (Al-hasyr; 18). Kedua, konsep dunia (dekat/taktis) dan akhirat (jauh/strategis) dan penegasan bahwa kehidupan masa depan lebih penting dan strategis (Adh-dhuha ayat 4)). Ketiga, petunjuk bahwa hidup seseorang harus lebih baik di masa depan dibanding masa kini dan masa yang lewat.
Sebagai konsekuensi dari keyakinan bahwa hidup seorang muslim harus dipandu oleh agamanya, maka seorang pegawai muslim, apapun profesinya haruslah bersifat visioner memiliki pandangan jauh ke depan, terutama berkaitan dengan penanganan tugas-tugasnya. Hari-hari ini ketika corona begitu mewabah membuat semua manusia begitu khawatir dengan keselamatan mereka. Keadaan ini, menuntut para dokter, perawat dan praktisi kesehatan dengan segenap kemampuannya harus berada di garda terdepan untuk melawan wabah tersebut.
Maka dokter, perawat dan praktisi kesehatan yang visioner akan menempatkan aktivitasnya bukan hanya untuk kepentingan kerja itu serta diri dan keluarganya, melainkan bagian dari upaya memberikan secercah harapan agar kehidupan manusia kembali normal dan berlangsung baik seperti sedia kala. Sikap visioner tersebut akan bermanfaat bagi dokter, perawat, dan praktisi kesehatan muslim. Sebab visi tersebut akan mengarahkannya menjadikan tiap detik dalam hidupnya sebagai manifestasi ibadah kepada Allah Swt sebagaimana firman Allah: "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahku." (Adz-dzariyat, ayat 56).
Allah membimbing manusia agar memiliki visi yang menjulang tinggi tak terbatas pada dimensi keduniawian yang fana ini, tetapi menembus dimensi ukhrawi yang abadi agar dalam diri manusia tumbuh dan berkembang nuansa amal shaleh dan ketakwaan dalam menangani setiap kerja yang dipercayakan kepadanya. Dalam tataran impelementasinya sikap visioner baru bisa tumbuh dalam diri seseorang apabila ia memiliki obsesi dan cita-cita yang tinggi (Himmah `Aliyah). Sebab, obsesi dan cita-cita tersebut akan senantiasa memunculkan energi baru untuk menatap masa depan dengan penuh kagairahan dan mengharap ridha Allah. (Al-baqarah ; 207).
Visi yang dimiliki pegawai muslim juga dapat mempengaruhi gaya hidup. Gaya hidup menjadi salah satu ciri khas masyarakat modern. Gaya hidup islami menjadi model dan sekaligus sebagai kontrol bagi pribadi para pegawai dalam menjalankan tugasnya sehari-hari. Gaya hidup yang dimaksudkan adalah mencakup sikapnya terhadap kehidupan dan kerjanya. Sikapnya dalam hal-hal rutin menyangkut kepribadian dan caranya menangani pekerjaan yang ditugaskan kepadanya.
Karakter utama seorang pegawai muslim adalah visi kekhalifahannya yang tinggi, ia memandang dirinya sebagai khalifah Allah yang dipercayakan memimpin bumi ini ke arah yang lebih baik. Berdasarkan prinsip ini maka ia melihat kerjanya sebagai keharusan dalam tugas kekhalifahan tersebut yang kelak akan dipertanggungjawabkannya di depan mahkamah Allah Swt. Dengan demikian kerja adalah tugas yang seakan sakral dan tidak bisa ditangani secara main-main. Memang dunia diibaratkan sebagai panggung sandiwara, tetapi aktivitas di dalamnya adalah sebagai sesuatu yang sangat serius.
Secara umum hal-hal rutin yang menyangkut pribadi seorang pegawai muslim yaitu, tidur, mandi, buang air, berpakaian, makan, minum, menjalankan tugas dan istirahat. Dari hal rutin tersebut seorang pegawai muslim dapat menerapkan gaya hidupnya yang islami, sebab Islam memberikan petunjuk tentang nilai-nilai yang harus ditegakkan di dalamnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dr-munawar-a-djalil-ma_20171026_110909.jpg)