Jurnalisme Warga

Catatan Banjir Besar Banda Aceh

SEJENAK saya perhatikan foto lawas koleksi Bapak Zulkarnain Jalil bertema “Banjir Tahun 1978” yang dimuat sebuah media online Aceh tanggal 8 Mei.

Editor: bakri
IST
YOPI ILHAMSYAH, Dosen Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Darussalam, Banda Aceh 

OLEH YOPI ILHAMSYAH, Dosen Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Darussalam, Banda Aceh

SEJENAK saya perhatikan foto lawas koleksi Bapak Zulkarnain Jalil bertema “Banjir Tahun 1978” yang dimuat sebuah media online Aceh tanggal 8 Mei. Beliau yang kala itu berumur 11 tahun (kelas 5 SD) bersama keluarga mengungsi ke Masjid Raya Baiturrahman. Penasaran, saya mencari tahu peristiwa yang merendam Banda Aceh pada tahun 1978.

Penelusuran saya menemukan berita lawas yang dihimpun Majalah Tempo Januari 1979. Di luar dugaan, ternyata kejadian banjir kala itu cukup dahsyat. Diberitakan air bah bahkan mampu mengelupas aspal jalan di Banda Aceh sepanjang 20 kilometer (km). Tanggul Krueng Aceh jebol hingga ratusan meter. Banjir memutus sebuah jembatan di Peuniti. Wali Kota, Drs Jakfar Ahmad mencatat total kerugian mencapai 300 juta rupiah.

Peristiwa lebih dahsyat terjadi di Aceh Besar yang mencatat kerugian lebih dari 1,4 miliar rupiah, meliputi 6.000 hektare sawah tergenang dengan separuh areal rusak parah. Sepanjang 100 km jalan provinsi dan kabupaten rusak. Rumah yang hanyut mencapai 25 unit, berikut hewan ternak dalam jumlah besar. Sejumlah wilayah terisolasi imbas ambruknya jembatan hingga 14 unit.

Kondisi ini ditengarai akibat hutan di pegunungan Aceh Besar, tempat Krueng Aceh berhulu mengalami deforestasi. Curah hujan tinggi yang mengguyur Banda Aceh dua pekan menjelang pergantian tahun berdampak meluapnya Krueng Aceh sekaligus menggenangi Banda Aceh.

Air berwarna kuning pekat seperti terlihat dalam foto Bapak Zulkarnain Jalil merendam kota hingga puluhan centimeter. Pada banjir 1978, Banda Aceh terendam akibat luapan Krueng Aceh. Namun, tidak demikian dengan Krueng Daroy. Dugaan terkait kondisi hutan yang telah rusak di hulu Gunung Seulawah menguat di balik musibah ini. Sebuah sumber menyebutkan angka seluas 64.000 hektare. Warga Indrapuri mengatakan lumpur kental berwarna kuning kemerahan yang mengendap selepas surut menyerupai tanah yang dijumpai di Seulawah.

Selang 22 tahun kemudian, banjir besar kembali terjadi. Kala itu pada awal milenium, tepatnya tanggal 21-23 November 2000. Saya yang tinggal di Seutui, Banda Aceh, turut terendam air bah setinggi lutut orang dewasa oleh luapan Krueng Daroy.

Mengutip berita lawas Serambi, rumah penduduk dan bangunan lain yang tergenang mencapai lebih dari 100 unit. Warga mengungsi mencapai ribuan jiwa. Ibu kota Aceh lumpuh karena hampir seluruh wilayah administratifnya tergenang air, kecuali beberapa wilayah di Ulee Kareng.

Saking luasnya kawasan terdampak banjir di Banda Aceh saat itu sampai-sampai pelantikan Abdullah Puteh dan Azwar Abubakar masing-masing sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh dialihkan dari Gedung DPRA ke Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar, karena saat itu Gedung DPRA digenangi air.

Kawasan Aceh Besar yang berdekatan dengan Banda Aceh juga ikut terdampak. Tercatat puluhan areal persawahan terendam. Banyak hewan ternak tenggelam. Penampang Krueng Aceh dipenuhi air bah, meluap hingga kopelma Darussalam.

Kawasan terparah melanda Peuniti Banda Aceh. Curah hujan (CH) yang saya peroleh dari BMKG Blang Bintang masing-masing mencatat nilai sebesar 129, 141, 185 milimeter (mm) pada tanggal 21, 22, 23 November 2000. Secara klimatologis (untuk mengamati keadaan normal), nilai CH rata-rata pada puncak musim hujan November yang saya olah dari data CH rentang 1982-2018 adalah sebesar 250 mm. Ini berarti akumulasi CH selama tiga hari telah melebihi keadaan rata-rata (normal). Hujan ekstrem berdampak volume air yang turun dari langit sangat besar. Kapasitas sungai berpenampang kecil seperti Krueng Daroy jadi kelebihan muatan. Demikian juga saluran air di pemukiman warga serta gorong-gorong ruas jalan Banda Aceh. Keadaan diperparah dengan sampah yang menyumbat sistem drainase tersebut.

Dua puluh tahun kemudian, tepatnya 7-8 Mei 2020 banjir besar kembali melanda Banda Aceh. Hujan deras berlangsung dua hari berturut-turut menjadi pemicunya. Catatan CH oleh Muhajir, forecaster senior BMKG Indrapuri, hujan yang turun di Luengbata sebesar 152 mm, Ulee Kareng 152 mm, Meuraxa 107 mm, dan Jaya Baru 125 mm. Hujan tersebut sebagai yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir pada periode April-Mei.

Untuk CH 152 mm dengan luas Banda Aceh 61,36 km persegi, volume air yang dihasilkan sebanyak 9,3 miliar liter. Sangat masif, kan? 

Tanpa disertai sistem drainase yang baik Banda Aceh dapat kembali terendam air hujan. Pengamatan saya, Krueng Aceh dipenuhi air. Krueng Daroy dan sub-DAS (Daerah Aliran Sungai) lain termasuk saluran irigasi meluap menimbulkan genangan di sejumlah bantaran. Jelang musim hujan, sejumlah krueng termasuk Krueng Aceh dan irigasi harus dinormalisasi. Krueng-krueng ini telah mengalami penyempitan penampang akibat alih fungsi lahan menjadi pertokoan, perkebunan/sawah, dan perumahan.

Aktivitas penebangan hutan di hulu serta penggalian batu dan tanah di perbukitan/pegunungan menyebabkan sejumlah krueng yang berhilir di Banda Aceh mendangkal akibat sedimentasi. Coba kita perhatikan bukit-bukit yang telah digali di Peukan Bada. Dari Lampisang, perhatikan barisan bukit dari rangkaian Pegunungan Bukit Barisan yang telah digali. Banjir dan longsor hanya tinggal menunggu waktu!

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved