Kamis, 14 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Catatan Banjir Besar Banda Aceh

SEJENAK saya perhatikan foto lawas koleksi Bapak Zulkarnain Jalil bertema “Banjir Tahun 1978” yang dimuat sebuah media online Aceh tanggal 8 Mei.

Tayang:
Editor: bakri
IST
YOPI ILHAMSYAH, Dosen Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Darussalam, Banda Aceh 

Sistem drainase hendaknya kembali ditata dengan baik. Ruang hijau sebagai daerah resapan air turut diperbanyak. Perbanyak vegetasi pinggir jalan dan krueng semacam pohon trembesi dan bambu yang mampu mengikat tanah, menyimpan air dan menyerap karbon dalam jumlah besar guna mengembalikan iklim kota yang telah berubah. Minimnya vegetasi berimbas tingginya curah hujan. Daerah kota yang panas ibarat magnet, menarik awan hujan dan menempelnya di kota. Ini mengapa hujan turun berhari-hari di Banda Aceh karena awan hujan menggantung selama berhari-hari di atas kota. 

Tolok ukur kota yang baik tampak lewat tata kelola sistem saluran termasuk sungai dan drainase beserta ruang hijaunya. Dua hal ini mutlak untuk mewujudkan kota Banda Aceh tangguh iklim. Perilaku warga yang bertanggung jawab menjaga kebersihan lingkungan dari sampah turut menjadi indikator kota yang baik. Hutan di  hulu juga kembali direstorasi.

Banda Aceh dan Aceh secara umum mengalami dua kali puncak musim hujan. Musim hujan pertama jatuh pada bulan November-Desember. Dua banjir besar, yaitu tahun 1978 dan 2000 terjadi pada periode ini. Sedangkan musim hujan kedua jatuh pada April-Mei, seperti yang kita alami pada April dan Mei tahun ini.

Hujan periode April-Mei disebabkan muson Asia. Sirkulasi dari Asia Selatan membawa udara yang mengandung uap air. Ketika mencapai katulistiwa, udara menjadi jenuh dan hujan turun di seantero Aceh.

Catatan kolonial bersumber dari Paul van’t Veer turut menyebutkan periode pertama perang Belanda di Aceh pada 26 Maret hingga 24 April 1873 disertai hujan lebat dan banjir besar. Kondisi ini pula yang membuat Kolonel van Daalen menarik ribuan pasukannya dari palagan Aceh dan pulang ke Batavia. Seorang jurnalis Belanda, Conrad Busken Huet menyindir keputusan militer tersebut lewat artikel berjudul “Moessonkolonel” atau Kolonel Muson (hujan) pada koran yang terbit di Batavia. Kendati banjir Banda Aceh telah melegenda, respons cepat pencegahan banjir ibu kota Provinsi Aceh lewat tindakan seperti tersebut di atas perlu diimplementasikan.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved