Luar Negeri
Cina Paksa 69.000 Perusahaan Produksi Masker
Pemerintah Cina memaksa 69.000 perusahaan, termasuk para pekerjanya untuk memproduksi masker.
Namun dia memperkirakan pemasok mendapat keuntungan 10 kali lebih banyak dengan memasukkan bahan mentah ke masker daripada popok.
• Donald Trump Ancam Tindak Keras Cina, Jika Serang Demonstran Hong Kong
• Donald Trump Tuduh Cina Sebagai Pembunuh Massal, Virus Corona Ancam Penduduk Dunia
• Palestina Minta Bantuan Cina Tangani Virus Corona
Tetapi, upaya pemerintah Cina itu untuk melawan wabah virus Corona telah membuat usaha lainnya tergopoh-gopoh.
Usaha produksi pempes, tisu basah dan handuk sanitasi yang dibuat dengan bahan baku yang sama mulai kesulitan.
Produsen mengatakan tekstil seperti kain bukan tenunan dialihkan ke masker yang lebih menguntungkan, membuat produsen produk kebersihan lainnya terancam gulung tikar.
Beberapa perusahaan telah dipaksa untuk mengurangi separuh produksi atau menaikan harga, dengan industri menyatakan keprihatinan atas masa depan jalur pasokan.
Virus Corona mendorong Cina ke dalam lubang besar setelah muncul pertama kali di pusat kota Wuhan pada Desember 2019.
Dilansir AFP, Selasa (26/5/2020), para pemimpin Tiongkok memulai upaya besar-besaran untuk menghasilkan masker yang cukup untuk staf medis yang kewalahan dan 1,4 miliar orang di negara itu.
Tetapi semua pekerja pembuat mobil dialihkan ke pabrik masker untuk memenuhi permintaan.
Harga bahan baku yang terus melonjak, tanpa akhir yang cepat terus terlihat ketika pandemi terus mendatangkan malapetaka di seluruh dunia.
"Bukannya kami kekurangan kapasitas produksi, tetapi biaya bahan baku sangat tinggi," kata Huang Tenglong, wakil manajer umum Fujian Time dan Tianhe Industrial Co, produsen pempes dan tisu.
Dia menjelaskan pada Januari 2020, bahan baku untuk pempes sekitar 13.000 yuan atau 1.820 dolar AS per ton atau sekitar Rp 26,8 juta.
“Tetapi, saat ini, naik 10 kali lipat menjadi 140.000 sampai 150.000 yuan," katanya kepada AFP, merujuk pada periode akhir bulan lalu karena permintaan global untuk maskermelonjak.
Lin Yanting, wakil manajer umum DaddyBaby pembuat popok lainnya, mengatakan biaya kain non-anyaman sekitar 50.000-60.000 yuan per ton.
"Popok menggunakan lebih banyak bahan daripada masker tapi ... Saya hanya akan menghasilkan untung jika saya menggunakan untuk masker," katanya.
"Dalam lingkungan ini, banyak produsen kecil tidak dapat bertahan ... Ini mempengaruhi orang yang membuat pembalut wanita, popok, masker, dan produk berbasis kain bukan tenunan lainnya."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/produksi-masker-cina.jpg)