Ancaman Meningkat, Taiwan Luncurkan Deretan Mesin Perang Canggih untuk Hadapi Agresivitas China

Taiwan diperkirakan akan menugaskan kapal patroli lepas pantai seberat 4.000 ton di awal tahun depan untuk memperkuat wilayahnya di Laut China Selatan

Newsweek
Taiwan Luncurkan Deretan Mesin Perang Canggih untuk Hadapi Agresivitas China 

SERAMBINEWS.COM - Taiwan sedang berada di depan mulut Si Naga Asia China.

Bahkan, China sudah menyatakan akan mengambil kembali Taiwan dengan cara kekerasan bersenjata.

Tentu pernyataan Beijing ini menjadi pelecut Taiwan agar segera menata pertahanan sekuat mungkin karena militer China terlalu digdaya.

Taiwan diperkirakan akan menugaskan kapal patroli lepas pantai seberat 4.000 ton di awal tahun depan untuk memperkuat wilayahnya di Laut China Selatan yang disengketakan.

Wilayah ini telah menjadi hot spot di tengah meningkatnya konfrontasi di wilayah tersebut antara China daratan dengan Amerika Serikat.

Melansir South China Morning Post, Taiwan juga akan memulai produksi pesawat pelatihan lanjutan pada awal tahun depan setelah menyelesaikan uji terbang pada akhir bulan ini.

Tanda Tangannya Dipalsukan, Warga Lapor Keuchik ke Polres Aceh Selatan, Begini Kata Keuchik

Berakhirnya Pelarian Mantan Sekretaris MA Nurhadi dan Menantunya, Buron Kelas Kakap Ditangkap KPK

Sedang Lakukan Video Call, Pria Ini Tewas Ditikam Anaknya, Disaksikan Puluhan Orang Secara Online

Taiwan berusaha meningkatkan pelatihan pilot angkatan udara dalam menghadapi permusuhan dari China daratan yang kian memanas.

Menurut para ahli, pesawat udara dan laut yang dikembangkan di dalam negeri dapat dengan cepat diubah menjadi sistem pertahanan selama masa perang untuk membantu melindungi pulau itu.

Beijing menganggap Taiwan sebagai provinsi yang harus dikembalikan ke daratan, dengan paksa jika perlu.

Mereka telah mengadakan serangkaian latihan perang di sekitar Taiwan dan menangguhkan pertukaran lintas-selat resmi sejak Tsai Ing-wen, dari Partai Progresif Demokratik yang berpihak pada kemerdekaan, terpilih sebagai presiden pada tahun 2016 dan menolak untuk menerima prinsip satu-China.

Halaman
12
Editor: Amirullah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved