Kamis, 14 Mei 2026

Opini

Beradaptasi Pada Banjir  

Sejak tahun 2002, lebih 95% trend bencana di Indonesia diakibatkan oleh bencana hidrometeorologi (BNPB, 13 April 2018)

Tayang:
Editor: bakri
IST
Prof. Dr. Azmeri, ST. MT. Guru Besar pada Bidang Hidroteknik Jurusan Teknik Sipil Fakutas Teknik Universitas Syiah Kuala 

Oleh Prof. Dr. Azmeri, ST. MT. Guru Besar pada Bidang Hidroteknik Jurusan Teknik Sipil Fakutas Teknik Universitas Syiah Kuala

Sejak tahun 2002, lebih 95% trend bencana di Indonesia diakibatkan oleh bencana hidrometeorologi (BNPB, 13 April 2018) yang muncul akibat parameter hidrometeorologi. Bencana banjir termasuk ke dalam bencana hidrometeorologi. Tak dipungkiri lagi kejadian banjir telah berulang kali terjadi di Provinsi Aceh.

Masyarakat mengalami kerugian yang tidak sedikit akibat banjir. Bila penanganan untuk mengurangi dampak banjir tidak ditangani secara serius, maka dipastikan meningkatkan penderitaan masyarakat, apalagi di tengah bencana Covid-19 ini.

Masyarakat Banda Aceh dan Aceh Besar terkaget saat hujan nyaris tanpa henti mengakibatkan dua wilayah yang terletak pada satu Daerah Aliran Sungai (DAS) ini dilanda banjir pada tanggal 8 dan 9 Mei lalu dengan durasi yang panjang. Hujan masih mengguyur pada 10 Mei sore hari dengan intensitas yang tinggi.

Manusia sesungguhnya adalah makhluk yang diciptakan untuk dapat belajar dan beradaptasi. Sebagaimana layaknya seorang dokter menentukan resep untuk pasiennya, perlu untuk menegakkan diagnosa penyakit yang dialami si pasien. Seiring dengan itu maka kejadian banjir dalam tiga hari tersebut mestinya membuat kita belajar mengetahui penyebab banjir dan menentukan langkah yang tepat untuk mengurangi risikonya di masa mendatang.

Mari kita sejenak memandang daerah kita ini sebagai satu hamparan DAS. Kawasan dalam satu DAS saling terkait dan mempengaruhi dari hulu ke hilir. Berdasarkan data hujan yang diperoleh dari beberapa stasiun hujan pada tanggal 8 Mei di sekitar Banda Aceh dan Aceh Besar hampir secara keselurahan bernilai di atas 100 mm.

Beberapa stasiun mencatat nilai <150 mm, bahkan terdapat catatan hujan setinggi 287 mm pada stasiun Pulo Aceh. Hujan dengan intensitas 100-150 mm tergolong dalam hujan sangat lebat (ekstrim). Konon lagi bila bernilai di atasnya.

Hal ini adalah diagnosa pertama sebagai gambaran bahwa Kota Banda Aceh dan Aceh Besar dilanda hujan dengan intensitas ekstrim. Berdasarkan hasil analisis singkat penulis, nilai hujan ekstrim ini mendekati nilai hujan rencana untuk R1000 tahun (dalam Kajian Fungsi Floodway terhadap Desain Awal). Debit yang diperoleh dengan hujan ekstrim ini bernilai 1.766 m3/detik.

Berdasarkan pantauan, pada saat kejadian banjir fungsi floodway mengalirkan debit dalam kondisi terkendali. Namun sumbangan air yang besar juga diperoleh dari anak-anak sungai Krueng Aceh, seperti Krueng Tanjong, Krueng Lueng Paga, Krueng Daroy, dan Krueng Doy. Pada intinya, kejadian banjir ini mirip dengan kejadian banjir pada tahun 2000. Banda Aceh diterjang banjir dari arah anak sungai dan hujan lebat di atas Kota Banda Aceh. Kejadian banjir kali ini diperparah dengan kondisi "Full Moon" bertepatan 15 Ramadhan 1441 H, dimana pasang sedang tinggi.

Serangan dari hulu dan hilir mengakibatkan Kota Banda Aceh seakan lumpuh dalam 2-3 hari itu. Dua penyebab ini kita sadari adalah given from Allah. Pemberian Allah tidak dapat kita hindari. Berdasarkan hasil pantauan lokasi terdapat beberapa titik masalah pada sistem drainase, mulai dari saluran minor dan mayor, sampai ke sistem pompa. Namun kita memiliki kekuatan untuk mengurangi risiko banjir dalam penentuan kegiatan yang tepat, berupa penanganan sistem drainase yang baik.

Berdasarkan kejadian banjir, penulis merangkum beberapa poin yang dapat dijadikan perhatian untuk mengurangi dampak banjir:

Sesungguhnya telah tersedia master plan drainase Banda Aceh. Saat ini perlu untuk dilakukan updating, terutama untuk kondisi dan arah aliran air dalam saluran.

Masing-masing sistem drainase ditangani sesuai tupoksi:

Saluran pengumpul dan tersier di pemukiman, dapat segera memberikan instruksi kepada aparat desa untuk pembersihan pada titik bermasalah.

Saluran sekunder dan primer, kepada dinas terkait untuk segera identifikasi titik-titik sumbatan, sedimentasi, bottle neck saluran untuk segera dibersihkan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved