Opini
Beradaptasi Pada Banjir
Sejak tahun 2002, lebih 95% trend bencana di Indonesia diakibatkan oleh bencana hidrometeorologi (BNPB, 13 April 2018)
Berdasarkan pantauan, terdapat ruas-ruas jalan di sekitar kota yang sangat sedikit bahkan tidak memiliki outlet saluran sebagai jalan air menuju ke drainase. Hal ini menyebabkan waktu tunggu genangan untuk mencapai saluran menjadi lama.
Pada saat kejadian banjir ini, terjadi hambatan matinya operasi pompa Punge dan Lampaseh karena fasilitas Mekanikal Elektrikal (ME) tergenang air banjir. Fasilitas ME ini dapat direstruktur lebih tinggi untuk menghindari terhentinya operasi di masa mendatang.
Persoalan terkait drainase perkotaan perlu perhatian lebih karena menyimpan hambatan antara lain:
Pertemuan saluran pada hampir 99% berbentuk siku-siku. Persimpangan dipastikan akan terjadi kehilangan energi dalam pengalirannya sehingga memperlambat aliran.
Persoalan masyarakat dengan sampah dan mendirikan bangunan liar, seperti tempat berjualan yang banyak terletak di atas drainase yang menghambat dalam OP.
Sering dijumpai utilitas lain yang menghambat aliran karena tersangkutnya sampah.
Bila sangat mendesak, perlu koordinasi dengan PU Bina Marga dapat dilakukan memotong sementara jalan sebagai jalan air. Selanjutnya dapat dibangun gorong-gorong permanen bila wilayah tergenang memang luas dan tinggi genangan. Untuk hal ini tetap perlu memperhatikan jalan lingkar bagi masyarakat.
Kondisi topografi Kota Banda Aceh antara -0,45 m sampai +1,00 m di atas permukaan laut (dpl), dengan rata-rata ketinggian 0,80 m dpl. Bentuk fisiografi relatif datar dengan kemiringan antara 2-8%. Bentuk ini rentan terhadap genangan, khususnya pada saat terjadinya pasang air laut. Karena itu, operator rumah pompa perlu untuk lebih memperhatikan hal ini dalam pengoperasian pompa. Sebaiknya setiap operator dilengkapi dengan fasilitas aplikasi informasi pasang surut yang user friendly (seperti Nautide: pasang surut, angin, ombak, solunar +), agar pengoperasian pompa lebih optimal.
Mengingat flatnya dataran Kota Banda Aceh, menyebabkan laju aliran cenderung lebih lambat. Pembuatan resapan air seperti: rain harvesting, biopori, dan kolam retensi dapat menjadi alternatif, selain memperbanyak ruang terbuka hijau.
Pada kawasan cekungan, saat banjir segera ditempatkan pompa portabel untuk menguras air. Pompa tersebut dapat dibuat permanen bila dinilai luas dan tinggi genangan cukup besar.
Mengingat sumber air berada pada satu DAS, kerjasama Pemkab Aceh Besar dan Pemko Banda Aceh sangat penting dalam mengelola air berlebih ini. Terutama mengenai alih fungsi lahan. Perubahan tata guna lahan akan menaikkan debit puncak banjir.
Terakhir, mindset OP drainase juga tidak hanya terpaku pada pembersihan drainase menyambut bulan-bulan "ber" saja, seperti: September dan Oktober. Untuk ke depan perlu dicermati bahwa wilayah Aceh mulai dari Sabang, sebagian Aceh Besar, pesisir barat selatan Aceh dikenal dengan pola hujan equatorial dengan dua puncak hujan.
Puncak tertinggi di bulan November-Desember, dan puncak hujan dengan intensitas lebih rendah di bulan April-Mei. Analisis puncak hujan ini berdasarkan data rata-rata curah hujan 10 tahun terakhir pos-pos hujan yang ada di setiap kecamatan di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar. Pergeseran mungkin saja terjadi, namun dua puncak hujan tersebut perlu menjadi perhatian. Nyata saat ini kita berada di puncak pertama di awal tahun ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/prof-dr-azmeri-st-mt-guru-besar-pada-bidang.jpg)