Rabu, 8 April 2026

Luar Negeri

Palestina Krisis Berat, Teriak Bantuan, Belum Ada Negara Arab yang Gubris

Pemerintahan Palestina di Tepi Barat sedang menghadapi krisis ekonomi terberat. Tak tahan menghadapi pukulan itu yang dilancarkan oleh Israel

Editor: M Nur Pakar
AFP/JAAFAR ASHTIYEH
Seorang demonstran berjalan dekat kobaran api saat bentrok dengan pasukan Israel di Desa Kfar Qaddum, Tepi Barat, Palestina, Jumat (12/6/2020). 

sERAMBINEWS.COM, RAMALLAH - Pemerintahan Palestina di Tepi Barat sedang menghadapi krisis ekonomi terberat.

Tak tahan menghadapi pukulan itu yang dilancarkan oleh Israel, Palestina berteriak minta bantuan ke negara-negara Arab.

Tetapi, belum ada satupun negara tetangganya yang kaya raya menggubris teriakan rakyat Palestina.

Seorang pejabat senior Palestina, Sabtu (13/6/2020) mengaku telah meminta bantuan dari negara-negara Arab.

Dikatakan, Palestina membutuhkan pinjaman bulanan sebesr 100 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,4 miliar per bulan.

Pejabat itu mengatakan pinjaman itu untuk mengatasi krisis keuangan yang semakin parah.

Saeb Erekat, Sekretaris Jenderal Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Sabtu (13/6/2020) mengatakan hal itu kepada radio resmi, Voice of Palestine.

Erekat menjelaskan permintaan pinjaman itu sejalan dengan keputusan Liga Arab sebelumnya untuk memastikan jaringan keuangan Arab aman ke Palestina.

Palestina Minta Bantuan ke 40 negara

Hasil Penggalangan, Relawan Pemuda Peduli Palestina Beureunuen Serahkan Donasi Rp 15 Juta

OKI Undang Seluruh Negara Anggota, Bahas Rencana Israel Caplok Wilayah Palestina

Seorang pedagang meletakkan buah semangka di atas kepalanya di jalan masuk Kota Jericho, Tepi Barat, Palestina, Jumat (12/6/2020).
Seorang pedagang meletakkan buah semangka di atas kepalanya di jalan masuk Kota Jericho, Tepi Barat, Palestina, Jumat (12/6/2020). (AFP/HAZEM BADER)

"Penting untuk memberikan bantuan keuangan dari Arab untuk mendukung perbendaharaan Palestina," ujarnya.

Dia mengatakan dalam mengatasi situasi dan tantangan yang sulit saat ini, hanya satu-satunya opsi, negara Arab harus memberi bantuan lunak.

Awal bulan ini, Otoritas Palestina menolak uang dari pendapatan pajak yang dikumpulkan Israel dari perdagangan Palestina.

Perdagangan biasanya dilakukan di titik persimpangan di bawah kendali Israel.

Ini adalah bagian dari keputusan kepemimpinan Palestina untuk menghilangkan semua perjanjian dengan Israel.

Termasuk sektor keamanan dan ekonomi, sebagai tanggapan atas rencana yang terakhir untuk mencaplok tanah Palestina di Tepi Barat.

Namun, pemerintah Palestina menghadapi krisis keuangan parah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved