Breaking News:

Salam

Tindak Tegas Penjarah dan Penadah Karang

MAKIN beragam saja kejahatan terhadap lingkungan di Aceh. Setelah marak kasus perambahan hutan (illegal logging) dan penggunaan merkuri

SERAMBI/DEDE ROSADI
Bunga terumbu karang yang akan diselundupkan dari Pulau Banyak ke Medan, berhasil digagalkan Tim Dinas Perikanan dan Polairud Polres Aceh Singkil, di Dermaga Jembatan Tinggi, Pulo Sarok, Jumat (12/6/2020) malam. 

MAKIN beragam saja kejahatan terhadap lingkungan di Aceh. Setelah marak kasus perambahan hutan (illegal logging) dan penggunaan merkuri di sejumlah pertambangan emas ilegal, kini masyarakat Aceh dikejutkan oleh kejahatan baru. Yakni, penjarahan terumbu karang di perairan Pulau Banyak, Aceh Singkil, sebagaimana diberitakan Harian Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin.

Bukan sekadar dijarah dengan cara dicabut paksa dari pangkal atau kerangkanya, bunga atau terumbu karang itu pun diselundupkan ke Medan, Sumatera Utara. Berkat informasi dari masyarakat, Polairud akhirnya berhasil menggagalkan upaya penyelundupan biota laut yang estetis dan bernilai ekonomis itu. Boat yang mengangkutnya dari Pulau Banyak dicegat Polairud Polres Aceh Singkil di Dermaga Tinggi Pulau Sarok Singkil.

Dari penyergapan itu terungkap tiga hal. Pertama, pelaku yang menjarah terumbu karang itu ternyata orang lokal, berinisial Hen, warga Pulau Baguk, Kecamatan Aceh Singkil. Hasil jarahannya dikirim ke Medan karena ada dua penadah, Wiliam dan Abduh yang menampung di sana. Kedua, modus yang dilakukan adalah dengan memasukkan karang hidup tersebut ke dalam plastik berisi air laut, dikemas rapi, lalu dimasukkan dalam kardus. Terkesan seperti berisi minyak makan dalam kemasan.

Ketiga, biasanya setiba di Dermaga Tinggi Pulau Sarok Singkil ada kurir yang menjemput karang selundupan itu untuk dibawa naik minibus L-300 ke Medan. Tapi kali ini sang penjemput tak datang ke dermaga. Diperkirakan, informasi tentang penyitaan itu sudah bocor duluan. Yang belum terungkap adalah berapa harga setiap bungkus dari 147 paket bunga karang tersebut. Kedua, akan dimanfaatkan untuk apa terumbu karang itu sesampai di Medan. Ketiga, siapa Wiliam dan Abduh serta sudah berapalama bisnis ilegal ini mereka geluti.  Semua ini harus diungkap secepatnya oleh Polres Aceh Singkil. Jujur saja, ini kasus baru bagi jajaran Polres Aceh Singkil, tapi sungguh tidak sukar untuk membongkarnya jika memang ada kemauan, ada good will. Dasar untuk bertindak pun sudah sangat jelas bahwa pelaku patut diduga melanggar Pasal 87 Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan juncto Undang- Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil.

Untuk diketahui, pencurian dan perdagangan terumbu karang termasuk kejahatan serius. Terutama karena besarnya dampak yang ditimbulkannya baik terhadap ekosistem laut maupun kehidupan manusia. Terumbu karang merupakan hewan penghuni laut yang sangat berperan penting dalam kehidupan, mengingat karang memiliki peranan ekologi, fisik, dan ekonomi. Karang memiliki peranan dalam menjaga ekosistem di bumi ini seperti sebagai tempat berpijah, berlindung, dan mencari makan bagi biota laut. Sedangkan dari segi peranan fisik, terumbu karang berguna sebagai ‘barrier’ untuk menghalangi gelombang dan ombak dari laut lepas sehingga mampu mengurangi abrasi pantai.

Di sisi lain, karang ini terbentuk dari ribuan organisme kecil yang disebut polip. Butuh waktu ratusan tahun untuk terumbu karang tumbuh besar. Oleh karenanya, sangat kita sesalkan ketika ada tangan-tangan jahil yang merenggutnya dari dasar laut untuk diperdagangkan ke luar Aceh, tanpa memberi income sepeser pun bagi pendapatan daerah. Lebih parah lagi bahwa sindikat ini memanfaatkan keluguan nelayan lokal untuk secara terus-menerus menjarah terumbu karang di Pulau Baguk yang merupakan salah satu destinasi marina andalan pariwisata Aceh Singkil.

Nah, untuk semua dosa besar terhadap lingkungan dan ekosistem laut yang sudah mereka lakukan itu tak ada jalan lain, kecuali menindak mereka secara tegas. Mulai dari yang mencuri, mengangkut, maupun yang menjadi penadah tumbuh karang itu harus ditangkap dan diadili. Bahwa ada pelakuyang berada di wilayah hukum Sumatera Utara itu juga bukan kendala besar untuk meringkus mereka dan diboyong ke Singkil untuk diadili. Rakyat ingin segera melihat bahwa para penjahat lingkungan ini diadili dan dihukum berat agar menimbulkan efek jera bagi pelaku maupun calon pelaku lainnya. Semoga.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved