Kamis, 30 April 2026

Luar Negeri

China Menguji Hukum Internasional, Dari Daratan Sampai Lautan Akan Dikuasai

Suasana di Ladakh dan kematian 20 tentara India yang berani telah membuat hubungan kedua negara itu berantakan.

Tayang:
Editor: M Nur Pakar
AFP/SAM PANTHAKY
Pendukung Vishwa Hindu Parishad (VHP), sayap kanan Hindu bersiap membakar foto Presiden Cina, Xi Jinping di Ahmedabad, India, Sabtu (20/6/2020). 

SERAMBINEWS.COM, AMSTERDAM - Suasana di Ladakh dan kematian 20 tentara India yang berani telah membuat hubungan kedua negara itu berantakan.

Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA) melakukan tindakan biadab, membunuh tentara India dengan besi bertabur paku.

Posisi lama India tentang pentingnya hubungan diplomatik yang sehat dengan China dimanfaatkan untuk membuat kemajuan di Lembah Galwan sejak awal Mei 2020.

Tentara India yang sedang berpatroli secara tiba-tiba diserang ratusan tentara China yang menyebabkan insiden mengerikan pada Senin (15/6/2020) malam.

Dilansir HindustanTimes, Sabtu (20/6/2020), beberapa negara telah memperluas solidaritas dengan India.

Bahkan menyatakan kekhawatiran atas kebuntuan dengan China.

Amerika Serikat dan Jerman menegaskan kembali hubungan kuat dengan India di masa-masa sulit ini.

Menurut sebuah analisis yang dilakukan oleh sebuah lembaga think tank Eropa, insiden 15 Juni 2020 mewakili contoh ekstrem dari meningkatnya pertikaian China dengan tetangganya.

India Hapus Seluruh Aplikasi China dari Ponsel

China Bangun Bendungan Raksasa, Tutup Aliran Sungai Galwan ke India

India Putuskan Hubungan dengan Perusahaan Kereta Api dan Telekomunikasi China

China telah memperluas pengaruhnya di Asia Tenggara ingin menggangu India, negara yang memiliki senjata nuklir, sama seperti dirinya.

“Serangan 15 Juni 2020 oleh pasukan Tiongkok terhadap tentara India di Lembah Galwan yang terpencil menjadi contoh ekstrem tindakan ekstrem China.”

Aktivis India bersama Tibet yang tinggal di pengasingan meneriakkan slogan anti-China di Siliguri, Tibet, Sabtu (20/6/2020).
Aktivis India bersama Tibet yang tinggal di pengasingan meneriakkan slogan anti-China di Siliguri, Tibet, Sabtu (20/6/2020). (AFP/Diptendu DUTTA)

Terletak di pinggiran barat Garis Kontrol Aktual (LAC), ketegangan kedua negara terus meningkat.

China tidak ingin mundur, sedangkan India meminta Tiongkok mengakhiri konflik di Lembah Galwan.

Hal itu disampaikan oleh Lembaga Eropa untuk Studi Asia Selatan (EFSAS) dalam sebuah laporan, Sabtu (20/6/2020).

Mereka lebih lanjut mengatakan:

“Itu merupakan serangan yang disengaja, direncanakan sebelumnya, dan jelas-jelas biadab.”

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved