Komunitas

Escape Hill Tanoh Anoi-Lhoong, Pelajaran dari Bencana

“Jika di puncak gunung dibangun fasilitas pengungsian, selain berfungsi sebagai bukit penyelamatan atau escape hill juga menjadi destinasi wisata."

Dok Gampong/For Serambinews.com
Masyarakat Gampong Meunasah Krueng Kala (Tanoh Anoi), Kecamatan Lhoong, Aceh Besar membersihkan/merehab jalur evakuasi (escape hill) menuju ke puncak bukit sebagai titik kumpul saat bencana tsunami terjadi. 

MEUNASAH Krueng Kala atau yang juga dikenal Tanoh Anoi adalah sebuah desa (gampong) di Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar. Gampong yang berjarak sekitar 51 kilometer arah barat Banda Aceh ini merupakan salah satu kawasan permukiman paling hancur akibat tsunami 2004. Kini, seiring perjalanan waktu, Tanoh Anoi yang pernah dibina oleh IOM (International Organization for Migration)—dilanjutkan oleh BPBD Aceh Besar—menjadi salah satu Desa Tangguh Bencana (Destana) di Aceh. “Kesadaran masyarakat Meunasah Krueng Kala tentang pentingnya kesiapsiagaan sebagai bagian dari pengurangan risiko bencana termasuk cukup baik,” kata Safrizal, salah seorang staf IOM yang pernah mendampingi masyarakat setempat hingga mengakhiri program pada 2016.

SERAMBINEWS.COM - Gempa dan tsunami 2004 bukan hanya tercatat sebagai bencana paling dahsyat sepanjang peradaban moderen tetapi juga telah mengubah paradigma penanggulangan bencana dari reaktif, tanggap darurat, sentralisasi, dan hanya tanggung jawab pemerintah ke paradigma baru yaitu preventif terencana, pengurangan risiko, desentralisasi, dan tanggung jawab bersama.

Seorang aktivis kebencanaan yang kini bergabung di Forum Pengurangan Risiko Bencana (Forum PRB) Aceh, Safrizal menilai, paradigma baru yang mengedepankan preventif (pencegahan) berorientasi pada pengurangan risiko perlu terus penguatan agar tercipta tatanan masyarakat yang tanggap dan tangguh menghadapi bencana.

Kawasan puncak bukit di ujung tangga jalur evakuasi masih berupa hutan dan batu cadas yang diharapkan oleh Relawan Penanggulangan Bencana Gampong Meunasah Krueng Kala (Tanoh Anoi), Kecamatan Lhoong, Aceh Besar bisa dilengkapi fasilitas pendukung untuk pengungsian.
Kawasan puncak bukit di ujung tangga jalur evakuasi masih berupa hutan dan batu cadas yang diharapkan oleh Relawan Penanggulangan Bencana Gampong Meunasah Krueng Kala (Tanoh Anoi), Kecamatan Lhoong, Aceh Besar bisa dilengkapi fasilitas pendukung untuk pengungsian. (For Serambinews.com)

Untuk skala lokal, Aceh, menurut Safrizal kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengetahuan tentang berbagai potensi bencana dan cara mengurangi risikonya sudah mulai terbangun.

Pemkab Aceh Besar dan BPBA Pulihkan Ekonomi Korban Bencana di Lhoong

Jantho Baru Ditetapkan Sebagai Gampong Tangguh Bencana

Namun, kata Safrizal, kesadaran (partisipasi) masyarakat yang sudah mulai terbangun itu perlu intervensi terus menerus dari pemerintah dan berbagai pihak lainnya, termasuk dunia usaha.

Salah satu contoh baik yang sudah terbangun, menurut Safrizal adalah di Kabupaten Aceh Besar, yaitu di Gampong Meunasah Krueng Kala (Tanoh Anoe), Kecamatan Lhoong.

Seorang warga setempat, Safriadi AR yang kini menjabat sebagai Plt Keuchik Krueng Kala mengisahkan, bencana gempa dan tsunami 2004 menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi mereka.

“Tanoh Anoi dan desa-desa pesisir lainnya di Kecamatan Lhoong hancur dan nyaris tak berbekas,” kata Safriadi sebagaimana dikutip Safrizal.

VIDEO - Komunitas Offroad di Aceh Jajal Hutan Aceh Besar, Lintasi Padang Savana Hingga Pentagon

“Lheuh tsunami hanya bak pu’uk yang tinggai sibak (setelah tsunami, hanya sebatang mangga hutan yang tersisa),” ujarnya. “Pohon itu pun akhirnya ikut mati,” lanjut Safriadi.

Seiring perjalanan waktu, masyarakat gampong yang tersisa kembali bangkit membangun permukiman mereka, bersama pemerintah dan berbagai lembaga donor, termasuk IOM.

Halaman
123
Penulis: Nasir Nurdin
Editor: Nasir Nurdin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved