Selasa, 12 Mei 2026

Jurnalisme Warga

Pocut Meurah Intan, Pahlawan asal Pidie yang Terlupakan

Setiap perempuan memiliki kelebihan dan kekuatan yang berbeda dalam mengatasi setiap hambatan dan tantangan yang ada

Tayang:
Editor: bakri
IST
IDA FITRI HAHDAYANI, Guru SMA 4 Banda Aceh dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Pidie 

OLEH IDA FITRI HAHDAYANI, Guru SMA 4 Banda Aceh dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Pidie

SEJARAH peradaban Islam tidak pernah luput dari kiprah dan peran kaum perempuan. Mereka memiliki kontribusi besar dalam membangun dan mengukuhkan tatanan masyarakat Islam. Bahkan, tercatat empat perempuan yang mendapat gelar perempuan termulia di dunia oleh baginda Rasul. Siapa sajakah mereka? Nabi Muhammad saw bersabda: Perempuan termulia di dunia ada empat, yaitu Maryam binti ‘Imran, Asiah istri Fir’aun, Khadijah binti Khuwailid, dan Fatimah binti Muhammad.

Setiap perempuan memiliki kelebihan dan kekuatan yang berbeda dalam mengatasi setiap hambatan dan tantangan yang ada. Bahkan dalam setiap pilihan yang dibuat, perempuan bisa menjadi sosok yang sangat istimewa. Kita juga harus menyadari bahwa sepak terjang perempuan tidak hanya terbatas pada urusan rumah tangga (domestik), tetapi juga ilmu pengetahuan hingga militer.

Meski tidak banyak yang diabadikan oleh penulis sejarah, tapi banyak pejuang hebat dahulu berasal dari kaum perempuan, salah satunya adalah Pocut Meurah Intan.

Kisahnya

Pocut Meurah Intan dikenal juga dengan panggilan Pocut Meurah Biheu, karena ia lahir di Biheu, Kemukiman Kale, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie, pada tahun 1873. Pocut adalah nama panggilan khusus bagi perempuan keturunan bangsawan dari kalangan kesultanan Aceh.

Berdasarkan referensi dari berbagai sumber, Biheue adalah sebuah kenegerian yang pada masa Kesultanan Aceh berada di bawah wilayah Sagi XXII Mukim, Aceh Besar. Setelah krisis politik pada akhir abad ke-19, Pocut Meurah Intan menikah dengan Tuanku Abdul Majid, putra dari Tuanku Abbas bin Sultan Alaidin Jauhar Alam Syah. Tuanku Abdul Majid saat itu bekerja sebagai pejabat kesultanan yang ditugaskan untuk mengutip bea cukai di pelabuhan Kuala Batee.

Dari perkawinan dengan Tuanku Abdul Majid, Pocut Meurah Intan memperoleh tiga putra, yaitu Tuanku Muhammad, Tuanku Budiman, dan Tuanku Nurdin.

Setelah berpisah dengan suaminya yang telah menyerah kepada Belanda, Pocut Meurah Intan mengajak ketiga putranya untuk tetap berperang. Ketika pasukan Marsose menjelajahi Wilayah XII Mukim Pidie dan sekitarnya, Pocut Meurah Intan melakukan perlawanan secara bergerilya. Sejarah mencatat, ia berhasil membunuh 18 tentara marsose hanya dengan sebilah rencong!

Pada 11 November 1902 ia dikepung oleh serdadu khusus Belanda dari korps Marchausse di Padang Tiji. Sebelum tertangkap Pocut masih sempat melakukan perlawanan yang amat mengagumkan pihak Belanda.

Namun, karena serangan bertubi-tubi Pocut Meurah Intan terluka parah, dua tetakan di kepala, dua di bahu, dan satu urat keningnya putus. Pertahanannya semakin melemah, ia terbaring di tanah penuh darah dan lumpur, tapi ia tetap tidak menyerah. Rencong masih tergenggam kuat di tangannya.

Pimpinan korps Marchausse memberi gelar Heldhafting (yang gagah berani) kepada Pocut Meurah Intan. Karena dikhawatirkan terus menggelorakan perang jihad, akhirnya Pocut Meurah Intan dibuang ke Blora di Pulau Jawa pada tahun 1905.

Pocut Meurah Intan yang sedang sakit parah pernah ditawari bantuan oleh pihak Belanda dan beliau menolak. Namun, beliau akhirnya pasrah dan menerima bantuan itu. Proses penyembuhannya berjalan lama, ia menjadi pincang selama hidupnya.

Sosok pejuang Aceh ini ditahan bersama dua putranya, Tuanku Nurdin dan Tuanku Budiman yang juga dibuang ke Blora berdasarkan Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda tanggal 6 Mei 1905 Nomor 24. Kemudian, Pocut Meurah Intan mengembuskan napas terakhir pada 19 September 1937 di Blora, Jawa Tengah, dan dimakamkan di sana, tepatnya di Desa Temurejo, sekitar 5 km arah utara alun-alun Kota Blora.

Sebenarnya, pada tahun 2001 Pemerintah Aceh pernah berencana memindahkan jasad Pocut Meurah Intan ke Aceh, tapi rencana itu batal karena berdasarkan wasiat Pocut Meurah Intan kepada sahabatnya, Raden Mas Ngabehi Dono Muhammad, bahwa beliau lebih suka dimakamkan di Blora.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved