Jurnalisme Warga
Pocut Meurah Intan, Pahlawan asal Pidie yang Terlupakan
Setiap perempuan memiliki kelebihan dan kekuatan yang berbeda dalam mengatasi setiap hambatan dan tantangan yang ada
Destinasi wisata
Pocut Meurah Intan salah satu pejuang yang dijuluki Singa Betina dari Aceh. Karena keteguhan pendiriannya dalam menentang Belanda sehingga ia mendapat label sebagai most wanted person (orang yang paling dicari). Sekarang namanya diabadikan sebagai nama Taman Hutan Raya (Tahura) Pocut Meurah Intan di Seulawah, Aceh Besar, pengganti nama kawasan hutan Seulawah Agam tahun 2001.
Lokasi taman yang berada di pinggir jalan ini kini menjadi oase berlibur bagi siapa saja. Suhu di hutan ini sangatlah sejuk sehingga pengunjung betah berlama-lama di sini. Jaraknya hanya sekitar 77 km dari Kota Banda Aceh ke arah utara. Posisinya persis diapit oleh Kota Sare dan Scout Camp Seulawah yang berada di bawah wilayah administratif Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar dan Kabupaten Pidie.
Letaknya di kaki Gunung Seulawah bisa menjadi alternatif wisata alam. Selain itu, tempat ini juga kerap dijadikan lokasi outbound. Di sini tersedia fasilitas flying fox, jembatan tali, dan beberapa fasilitas lainnya.
Di dalamnya terdapat pula berbagai jenis flora yang didominasi oleh pinus dan akasia yang luasnya 250 hektare (ha) serta padang alang-alang seluas 5.000 ha.
Tapi kini banyak yang telah berubah di kawasan ini. Setiap tahun pohon pinus bertumbangan ke tanah, berbanding terbalik dengan pertumbuhannya. Sepertinya ada tangan jahil yang sengaja mengelupas kulit hingga kambiumnya, sehingga pohon pinus ini meranggas, lalu mati, setelah itu ditebang. Sungguh sebuah kejahatan yang terencana secara sistematis. Pelakunya selalu luput dari hukum karena di negeri ini belum ada larangan penebangan kayu mati. Itu beda regulasi kita dengan Amerika Serikat.
Selain itu, kebakaran hutan, aksi pembalak liar, dan konversi lahan selama proses rekonstruksi dituding banyak pihak sebagai penyebab hancurnya ekosisitem di kawasan ini.
Dan kembali ke sosok Pocut Meurah Intan. Hari ini kita hanya bisa dengar dan baca kisah Pocut Meurah Intan dari buku sejarah. Belum ada monumen yang berisi epik singkat tentang kepahlawanannya di Aceh, bahkan di kawasan Tahura sendiri.
Sangat besar harapan kita suatu hari nanti ada monumen yang bisa dikenang untuk anak cucu kita tentang pahlawan hebat dari Aceh ini. Sudah sepatutnya kita sebagai generasi penerus bisa mencontoh semangat perjuangannya. Hari ini kita tidak dituntut untuk berperang dengan senjata, melainkan berperang melawan kebodohan.
Untuk perempuan-perempuan Aceh, tetaplah semangat dalam berkarya dan berjuang di mana pun kita berada, sebab waktu terus berputar. Manfaatkan yang tersisa, terus positif, dan produktif supaya lahirmu tak sia-sia. Mengutip kata pahlawan kita, Cut Nyak Dien, “Kewajiban berusaha adalah miliki kita, hasil adalah milik Allah.”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ida-fitri-handayani-guru-sma-4-banda-aceh.jpg)