Breaking News:

SALAM SERAMBI

Lupakan Dulu New Normal karena Belum Waktunya

HARIAN Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin menyiarkan pernyataan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Pesiden (KSP)

FOR SERAMBINEWS.COM
Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, memimpin rapat membahas prosedur operasional standar (POS) mekanisme proses pembelajaran tatap muka dalam fase new normal di Pendopo Gubernur Aceh, Kamis (9/7/2020) 

HARIAN Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin menyiarkan pernyataan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Pesiden (KSP), Brian Prahastuti yang mengakui bahwa istilah ‘new normal’ yang sering digaungkan saat pandemi Covid-19 tidak dapat dipahami dengan baik oleh masyarakat Indonesia.

Menurut Brian, hal itu sukar dipahami dikarenakan mengguna­kan diksi berbahasa asing atau memakai bahasa Inggris. Akibat­nya, masyarakat menganggap normal sebagai keadaan sudah bisa kembali beraktivitas seperti semula.

Hal itu diungkapkan Brian Sriprahastuti di Jakarta, Sabtu (11/7/2020).

Hal senada diutarakan Juru Bicara Percepatan Covid-19 Pu­sat, Achmad Yurianto pada acara launching buku Anggota Komi­si lX dari Fraksi PAN, Saleh Daulay, di Jakarta, Jumat lalu.

Yuri mengakui bahwa masyarakat memang sempat kebingung­an terkait pemakaian kata ‘new normal’. Untuk itu, ia berjan­ji akan segera mengubah diksi tersebut. Diksi pengganti yang ia tawarkan adalah adaptasi kebiasaan baru.

Sebetulnya, istilah yang ditawarkan Yuri ini sudah sering juga kita dengar. Cuma masalahnya kata “adaptasi” pun boleh jadi tetap asing di telinga sebagian warga awam Indonesia, tak ter­kecuali Aceh. Soalnya, kata yang bermakna “penyesuaian diri terhadap lingkungan yang baru” itu pun diserap dari bahasa Ing­gris: adaptation.

Tapi okelah, dibanding kata ‘new normal’, kata adaptasi su­dah lebih lama menjadi kosakata bahasa Indonesia. Dengan de­mikian, menggunakan terma “adaptasi kebiasaan baru” agak­nya lebih tepat dibanding ‘new normal’ karena lebih familier.

Cuma itu tadi, istilah ini sengaja dirancang dan dimunculkan setelah masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dilong­garkan. Akibatnya, pascamunculnya istilah ini langsung diiringi dengan pembukaan kembali berbagai kegiatan ekonomi dan so­sial. Dari Jakarta hingga ke Aceh dan Papua kondisinya menja­di seperti itu. Orang awam menganggap kondisi yang tadinya ter­dampak Covid-19 sudah benar-benar normal, sudah benar-benar aman.

Istilah ini tentu saja menjebak di tengah perkembangan kasus Covid-19 yang terus meninggi dan vaksinnya belum ditemukan.

Karena menganggap kondisi sudah normal, tingkat kewaspa­daan masyarakat terhadap penularan Covid-9 pun jadi menurun. Publik semakin abai. Mereka yang biasanya betah di rumah kini mulai berbondong-bondong menyesaki ruang publik. Tak lagi di­siplin memakai masker dan hand sanitizer.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved