Breaking News:

Salam

Covid-19 Bukan Aib, Jadi Jujur Sajalah

HARIAN Serambi Indonesia edisi Jumat kemarin mengangkat judul headline di halaman 1: Warga Harus Jujur soal Covid-19

DOK SERAMBINEWS.COM
Wakil Ketua MPU Aceh, Tgk H Faisal Ali 

HARIAN Serambi Indonesia edisi Jumat kemarin mengangkat judul headline di halaman 1: Warga Harus Jujur soal Covid-19. Judul ini dicuplik dari pesan utama Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Tgk Faisal Ali alias Lem Faisal.

Pesan itu muncul sebagai bentuk kegelisahan Tgk Faisal Ali dalam menyikapi fakta terbaru di tengah masyarakat Aceh belakangan ini. Bahwa jumlah orang yang terinfeksi Covid-19 di provinsi ini terus bertambah, termasuk dokter, perawat, dan laboran. Salah satu penyebabnya adalah karena masih banyak warga yang kurang jujur saat ditanya tentang riwayat perjalanannya juga tentang siapa saja kontak eratnya belakangan ini.

Dulu hal-hal seperti ini kita baca dan cermati hanya terjadi di luar Aceh. Belakangan, setelah kita dapati fakta bahwabanyak dokter, terutama perawat di instalasi gawat darurat (IGD) di sebuah rumah sakit milik pemerintah di Banda Aceh, kita mulai yakin bahwa ada pasien  ang tidak jujur tentang riwayat perjalanan dan interaksi sosialnya kepada petugas kesehatan. Inilah yang disorot dan disesalkan pihak MPU Aceh.

Munculnya pernyataan Wakil Ketua MPU itu juga dipicu oleh sebuah fakta bahwa ada keluarga di Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar yang mengambil paksa jenazah ayah mereka yang meninggal karena Covid-19 di Rumah Sakit Umum dr Zainoel Abidin Banda Aceh, lalu mereka  ardu kifayahkan secara normal, tidak mengikuti protokol pemulasaraan dan pemakaman jenazah korban Covid-19.

Alasan keluarga itu, seperti diungkapkan Direktur RSUZA Banda Aceh, semata-mata karena mereka tidak percaya pada adanya Covid-19 dan kalaupun ada mereka tidak takut. Nah, dua realitas ini tentu saja tak boleh dianggap sebagai persoalan sepele. Soal kejujuran, misalnya,  emua pihak dituntut berlaku jujur kepada petugas kesehatan. Bukan saja jujur dalam memberikan data perjalanan, melainkan juga jujur dalam pengakuan data pergaulan dan interaksi dengan para pihak, ya minimal dalam 14 hari terakhir. Kejujuran ini bukan saja sangat bermanfaat bagi diri  ita sendiri, tetapi juga demi kemaslahatan orang lain, terutama para tenaga medis yang berada di garda terdepan dalam perang melawan pandemi virus yang mematikan ini. Rasanya tidak ada alasan kita tidak jujur dalam memberikan data perjalanan dan interaksi sosial kita karena  alaupun kita ternyata positif Covid-19, toh Covid itu bukanlah aib. Jadi, untuk apa malu mengakui di mana atau dari siapa kemungkinan kita pertama kali terpapar.

Semakin jujur dan terbuka kita menyampaikan riwayat perjalanan maupun data pergaulan kita, maka akan sangat menolong gugus tugas penanganan Covid-19 di daerah kita untuk melakukan tracing kasus. Pendeknya, lebih besar manfaat daripada mudaratnya bila kita jujur dalam memberikan data perjalanan dan interaksi sosial kita. Oleh karenanya, jujurlah kepada petugas  esehatan, petugas bandara dan pelabuhan, penjaga perbatasan, termasuk kepada kepala desa tempat kita bermukim.

Jika kita baru pulang dari daerah terjangkit Covid-19, maka selain disiplin melakukan isolasi mandiri juga harus proaktif melapor kepada Kepala desa (keuchik) tentang riwayat perjalanan kita. Yang tak kalah pentingnya adalah jika di rumah kita ada satu orang atau lebih yang positif Covid-19, keluarga tersebut harusnya segera melakukan isolasi mandiri, melapor ke puskesmas terdekat agar cepat dijemput atau ditangani. Jangan justru, karena merasa badan masih fit lalu tetap pergi ke kantor, ke pasar, nongkrong di warung, atau berwara-wiri di keramaian.

Ingat, di Aceh sudah banyak sekali terjadi penularan lokal (local transmission) virus corona, jangan lagi Anda menambah daftar korban atau sebagai penyebabnya. Di sisi lain, orang-orang yang tidak percaya bahwa Covid- 19 ituada, harus kita dekati dan yakinkan secara persuasif, logis, faktual, dan argumentatif bahwa Covid-19 itu memang ada. Dia bukan rekayasa, juga bukan konspirasi global. Covid-19 justru merupakan pandemi global. Virus ini akan lebih cepat menginfeksi orang yang bersikap cuek dan semberono di ruang publik, misalnya karena ia antipakai masker, ogah cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, juga tak mau jaga jarak. Nah, hendaknya Anda dan keluarga Anda tidak termasuk ke dalam barisan orang-orang dungu tapi sok paten seperti ini.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved