Breaking News:

Studi di AS Sebut Pria Botak Berisiko Lebih Tinggi Terkena Covid-19, Begini Penjelasannya

ebuah studi terbaru mendapati pria botak lebih berisiko lebih tinggi terkena Covid-19.

Editor: Amirullah
Shutterstock
Ilustrasi 

Namun, mereka menunjuk pada faktor-faktor seperti gaya hidup, merokok, dan perbedaan sistem imunitas di antara kedua jenis kelamin.

Tetapi, semakin mereka percaya pada faktor-faktor tersebut bisa terjadi karena androgen (hormon seks pria seperti testosteron) mungkin berperan tidak hanya dalam kerontokan rambut, melainkan dalam meningkatkan kemampuan virus corona untuk menyerang sel.

Hal ini meningkatkan kemungkinan bahwa perawatan yang menekan hormon-hormon ini, seperti yang digunakan untuk kebotakan serta penyakit seperti kanker prostat, dapat digunakan untuk memperlambat virus, dan memberi pasien waktu untuk melawannya.

"Kami pikir androgen atau hormon pria jelas merupakan pintu gerbang bagi virus untuk memasuki sel kita," ujar Profesor Wambier.

Obat kanker prostat

Di sisi lain, seorang ahli onkologi di UC Los Angeles, Matthew Rettig melakukan percobaan terhadap 200 veteran di Los Angeles, Seattle, dan New York menggunakan obat kanker prostat.

Percobaan mengikuti dua studi kecil di Spanyol yang dipimpin oleh Profesor Wambier.

Studi tersebut mengungkapkan, muncul pola ketidakproposionalan jumlah pria dengan pola kebotakan yang tengah dirawat di rumah sakit dengan Covid-19.

Dalam sebuah penelitian, 79 persen pria yang menderita Covid-19 di tiga rumah sakit di Madrid merupakan pria botak.

Penelitian terhadap 122 pasien, yang diterbitkan dalam Journal of American Academy of Dermatology menemukan 71 persen pasien tersebut botak.

Halaman
1234
Sumber: TribunnewsWiki
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved