Siaga Bencana
Didukung Sensor dan WRS, Aceh Mampu Deteksi Gempa Kecil dan Sangat Lokal
"Tahun ini juga dipasang lima sensor gempabumi accelerograph di Aceh yang berfungsi untuk mencatat pergerakan tanah akibat aktivitas lempeng bumi."
Penulis: Nasir Nurdin | Editor: Nasir Nurdin
"Tahun ini BMKG juga akan memasang lima sensor gempabumi accelerograph di Aceh yang berfungsi untuk mencatat pergerakan tanah akibat aktivitas lempeng bumi."
Laporan Nasir Nurdin | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dilaporkan semakin intens memasang peralatan monitoring dan pendeteksi gempabumi termasuk potensi gempabumi di wilayah Aceh.
“Dengan peralatan yang kini ditempatkan di berbagai wilayah Aceh memungkinkan bagi BMKG untuk mendeteksi gempa kecil dan sangat lokal sekalipun,” kata Kepala Stasiun Geofisika Aceh Besar di Mata Ie, Djati Cipto Kuncoro S.Si.
Djati menyampaikan itu terkait adanya gempa berkekuatan M=3,5 yang mengguncang Sabang, 2 Agustus 2020 pukul 13.05 WIB.
“Banyak yang tidak merasakan, namun tetap terdeteksi dari 13 sensor yang ada di Aceh—termasuk di Sabang. Sensor-sensor itu dibangun pada 2019,” kata Djati.
• BREAKING NEWS - Hari Ini Tiga Pasien Corona di Aceh Meninggal, Kasus Baru Tambah 21 Lagi
• Aset Kampung Kesehatan Turut Musnah Dalam Kebakaran di Aceh Tamiang
Terkait dengan fenomena gempa tektonik pada Minggu siang (2/8/2020) pukul 13.05 WIB yang dirasakan oleh sedikit orang di Sabang, menurut Djati episenternya pada koordinat 5,98 LU dan 95,03 BT, atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 33 km baratlaut Kota Sabang, Aceh pada kedalaman 11 km.
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa itu termasuk jenis gempa dangkal akibat aktifitas sesar aktif, sistem sesar Sumatera pada segmen Seulimuem.
Skala Intensitas gempa Sabang pada Minggu siang adalah II MMI. Itu artinya getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang.
Terbaca sensor
Kepala Stasiun Geofisika Aceh Besar menjelaskan, berapa pun skala intensitas gempa akan sangat penting untuk analisa dan penelitian, termasuk potensi gempa susulan yang bisa saja terjadi.
Untuk kepentingan itu, pada 2019 lalu BMKG membangun 194 shelter sensor gempabumi dan menempatkan peralatan sensor gempa di seluruh wilayah Idonesia. Dari jumlah itu, 13 titik di antaranya dibangun di Aceh.
• Asrizal H Asnawi Calonkan Diri dalam Tim Formatur DPW PAN Aceh pada Muswil V PAN Aceh
• Kecanduan Kencani Artis Hollywood dan Bayar Mahal, Hidup Milyader Ini Berakhir Tragis
Dengan sensor-sensor itu, kata Djati, memungkinkan mendeteksi gempa dengan intensitas kecil dan paling lokal sekalipun.
“Di Sabang, sensor itu ditempatkan di kawasan Sabang Fair,” katanya.
Selain di Sabang, sensor pendeteksi gempa juga ditempatkan di Kabupaten Pidie yaitu di Tangse, Manee, dan Geumpang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/djati-cipto.jpg)