Breaking News:

Uniknya Budaya Kebersamaan Kurban di Pante Gajah

KEWAJIBAN berkurban berawal dari kisah Nabi Ibrahim yang bermimpi mendapat perintah Allah untuk menyembelih anaknya semata wayang

Uniknya Budaya Kebersamaan Kurban di Pante Gajah
CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chaper Bireuen, melaporkan dari Matangglumpang Dua, Bireuen

OLEH CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim Peusangan dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chaper Bireuen, melaporkan dari Matangglumpang Dua, Bireuen

KEWAJIBAN berkurban berawal dari kisah Nabi Ibrahim yang bermimpi mendapat perintah Allah untuk menyembelih anaknya semata wayang, Ismail. Dengan mukjizat dari Allah pada saat perintah itu dijalankan Allah menggantikan Ismail dengan seekor kibas. Maka sejak saat itulah setiap umat muslim yang mampu diwajibkan untuk berkurban, baik itu seekor domba/kambing, sapi, kerbau, maupun unta.

Perayaan Iduladha 1441 Hijriah tahun ini dalam masa pandemi Covid-19. Meski tidak semeriah tahun lalu tapi tetap berjalan, terutama di Provinsi Aceh hampir setiap desa/gampong melaksanakan kurban, baik masyarakat biasa secara pribadi atau kelompok, termasuk juga instansi negeri dan swasta, bahkan anak sekolah. Kurban bagi masyarakat Aceh sangatlah istimewa.

Salah satu gampong yang melaksanakan kurban adalah masyarakat di Gampong Pante Gajah, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen. Desa berpenduduk ± 3.078 jiwa dengan KK sejumlah 257 ini termasuk dalam kategori desa maju atau berkembang. Rata-rata pendapatan penduduknya mampu menyejahterakan anggota keluarganya, sebagaimana yang disampaikan salah seorang perangkat desa, yaitu Bapak Kaspul Mahdi.

Mayoritas penduduk Pante Gajah berprofesi aparatur sipil negara (ASN), karyawan swasta, dan hanya sebagian kecil yang berprofesi sebagai pedagang, petani kebun, tukang, dan lain-lain.

Pelaksanaan kurban di gampong ini tergolong unik, di mana setiap warga diajak untuk ikut serta dengan cara menabung dana setiap tahunnya selama sepuluh bulan. Upaya ini dikoordinir oleh petugas khusus (semacam kolektor) yang dipercayakan oleh perangkat desa untuk mengumpulkan dana setiap bulan dengan jumlah yang tidak ditentukan, tetapi pada bulan kesepuluh harus lunas seluruhnya sesuai dengan harga pasaran sapi untuk kurban. Demikian, diungkapkan Pak Zakir, salah satu tokoh Pante Gajah yang juga mantan asisten III Pemerintah Kabupaten Bireuen.

Gampong Pante Gajah memiliki lima dusun, yaitu Dusun Bale Kuneng, Cot Gerundung, Meunasah Kulam, Meunasah Barat, dan Paya Beunyot, Di setiap dusun ada orang kepercayaan yang bertugas sebagai penampung dana. Untuk tertibnya tata laksana kurban, setiap dusun juga memiliki panitia yang andal dalam menangani kegiatan kurban, yakni dengan melibatkan seluruh pemuda, tokoh, dan juga warga biasa. Mereka saling bahu-membahu untuk suksesnya kegiatan kurban. Adapun hewan yang ditetapkan untuk kurban berjamaah ini hanya sapi, yakni satu ekor untuk tujuh orang.

Kurban berjamaah ini sudah dimulai sejak 13 tahun lalu dan berlangsung selama dua hari, yakni hari pertama Iduladha dan hari kedua. Pencetus pertamanya adalah perangkat Dusun Bale Kuneng dan Cot Geurundung, yang awalnya mereka mulai hanya dengan dua ekor sapi. Untuk tahun ini, Pak Ardian dipercaya sebagai ketua pelaksana kurban untuk kedua dusun bertetangga itu.  Sementara itu, bendahara kegiatan kurban, Pak Saiful Izhar mengatakan, bergulirnya kegiatan kurban berjamaah ini dimulai dengan pengumpulan dana, pengadaan, pemeliharaan, dan penyembelihan oleh petugas khusus yang memiliki pengalaman dan keahlian di bidang ini.

Menurut aparatur desa dan panita, petugas khusus pengadaan yang ditunjuk memegang amanah   dan bertanggung jawab terhadap hewan kurban, dalam hal ini sapi yang dibeli haruslah memenuhi syarat dan ketentuan, yaitu sehat dengan ciri-ciri: bulu bersih dan mengilap, gemuk dan lincah, bermuka cerah, nafsu makannya baik, lubang kumlah (mulut, mata hidung, telinga, dan anus) harus bersih dan normal, suhu badan 37 derajat Celsius dan tidak dalam keadaan demam, serta tidak kurus. 

Syarat lainnya adalah tidak cacat, misalnya tidak buta, tidak pincang, pendengarannya baik, jantan yang tidak dikebiri, testis (buah zakar)-nya masih lengkap, bentuk dan letaknya simetris, kemudian cukup umur yang ditandai dengaan tumbuhnya gigi tetap dan harus berumur lebih dari dua tahun.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved