Breaking News:

Salam

Napi Narkoba Kabur Lagi, Mengapa LP Kecolongan?  

Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas II A Banda Aceh di Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, kecolongan lagi

Napi Narkoba Kabur Lagi, Mengapa LP Kecolongan?   
SERAMBINEWS.COM/DEDE ROSADI
Napi kabur di Rutan Singkil

Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas II A Banda Aceh di Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, kecolongan lagi. Pada Selasa (4/8/2020) sekitar pukul 04.30 Wib tiga narapidana (napi) kasus narkoba yang sedang menjalani hukuman 4 sampai 16 tahun berhasil melarikan diri dari penjara itu. Polisi menduga, ketiga napi tersebut sudah merencanakan pelariannya secara matang agar  berjalan mulus.

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Trisno Riyanto SH mengatakan, para napi itu kabur ketika petugas jaga sedang berusaha menyalakan genset di ruang dapur, karena lampu PLN saat itu padam. "Kami selain terus mengejarnya, foto ketiga napi tersebut sudah kami sebarkan ke Polres jajaran Polda Aceh. Kita juga berharap ketiganya segera menyerahkan diri."

Kaburnya napi dari lembaga pemasyarakat itu sudah sangat sering terjadi. Pelarian napi dari lapas itu yang paling menggempasrkan terjadi pada akhir November 2018. Napi membuat kerusuhan kemudian 113 napi yang umumnya kasus narkoba berhasil melarikan diri dari Lapas Kelas II A Banda Aceh yang berlokasi di kawasan Aceh Besar. Pasca kerusuhan polisi berhasil menangkap sebagiannya, sedangkan yang lain kabir hingga saat ini.

Dirjen Pemasyarakatan (PAS) Sri Puguh Budi Utami saat itu menduga, kerusuhan yang menyebabkan kaburnya lebih dari 100 napi tersebut sebagai bentuk perlawanan akibat ketatnya aturan yang diterapkan kalapas dan jajarannya. "Kami memprediksi karena SOP yang diterapkan sedemikian ketat yang dilaksanakan Kalapas dengan jajaran. Mungkin ini bentuk perlawanan karena sebelumnya relatif longgar."

Saat itu profil lapas juga dievaluasi. Ternyata penjara tidak kelebihan kapasitas, dari kapasitas 800 hanya terisi 726 narapidana. “Dari kondisi itulah, ia menilai kerusuhan yang terjadi saat salat magrib tersebut bukan karena penjara kelebihan kapasitas,” kata Dirjen PAS itu.

Menyusul kasus-kasus pelarian napi dari penjara itu, ada petugas di sana yang sudah dihukum penjara, ada yang dipecat. Demikian juga pernah ada pula pejabat-pejabat LP itu yang dicopot atas kelalaiannya yang membuat napi kabur. Akan tetapi, sanksi-sanksi atau hukuman-hukuman yang pernah dikenakan itu seperti tak menjadi pelajaran bagi sipir-sipir di sana untuk bertugas lebih disiplin dan tidak lalai.

Padahal, menjadi petugas pengawas di tahanan memang diharuskan selalu waspada setiap saat. Selain itu, setiap shift penjagaan anggotanya harus lengkap, bahkan perlu tenaga ekstra. Hal tersebut untuk meminimalisir adanya tahanan atau napi yang kabur. Celakanya, di Indonesia pernah ditemukan ada petugas berjaga sembari membawa minuman beralkohol, sehingga membuat mereka mabuk dan lalai saat bertugas. Mudah-mudahan ini tidak terjadi Aceh. Tapi kalau ada indikasi mereka menenggak minuman beralkohol atau bahkan mengonsumsi narkoba, maka ini akan ketahuan pada saat tes narkoba secara berkala terhadap petugas LP. Pertanyaannya apakah tes ini masih rutin dilakukan atau sudah dilupakan?

Jangan lupa bahwa ada sejumlah bandar sabu kelas internasional yang sedang menjalani hukuman di sana. Mereka bukan hanya bisa menyuap oknum petugas untuk bisa leluasa keluar masuk lapas, tapi juga bisa memerangkap oknum-oknum sipir menjadi bagioan dari sindikat perdagangan sabu. Ini bukan lagiu rahasia umum, tapi sudah terbukti di sejumlah lembaga pemasyarakatan.

Beberapa catatan hasil investigasi di sejumlah lapas menyimpulkan, Kementerian Hukum dan Ham terkesan tidak serius dan tidak berdaya dalam melakukan pembenahan total terhadap buruknya sistem lapas. Tak heran komitmen Menteri Hukum dan Ham dalam melakukan evaluasi menyeluruh  terhadap tatakelola lapas hanya menjadi macan kertas. Sedangkan bawahannya selalu mengabaikan dan cenderung mengamputasi setiap kebijakan. Adanya ketidaksinkronan dan ketidakpatuhan antara atasan dan bawahan sudah pastik mengganggu sistem kontrol atau pengawasan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved