Kamis, 4 Juni 2026

Berita Aceh Tamiang

Aceh Tamiang Terima Beko dari KKP, Bupati Mursil Bicara Kebangkitan Perekonomian Pesisir

Mursil pun mewanti-wanti agar koperasi yang dipercaya mengelola excavator tersebut tidak menyalahgunakan alat berat bantuan pemerintah pusat itu.

Tayang:
Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Saifullah
Serambi Indonesia
Bupati Aceh Tamiang, Mursil menyerahkan bantuan excavator atau beko dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kepada koperasi, Senin (10/8/2020). 

Laporan Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Bupati Aceh Tamiang, Mursil berharap, bantuan satu unit excavator atau beko dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI bisa dimanfaatkan maksimal untuk membangkitkan perekonomian wilayah pesisir.

“Sekarang petambak tidak perlu mengeluh lagi mengeluarkan biaya yang besar dengan menyewa ekskavator untuk memperbaiki kerusakan tambaknya. Silahkan kepada kelompok-kelompok masyarakat ajukan permohonan untuk menggunakan alat berat ini,” kata Mursil saat menyaksikan serah terima alat berat itu di UPTD Pengelolaan Aset Daerah Alat Berat, Karangbaru, Senin (10/8/2020).

Mursil pun mewanti-wanti agar koperasi yang dipercaya mengelola excavator tersebut tidak menyalahgunakan alat berat bantuan pemerintah pusat itu.

Pasalnya, tegas Bupati, alat berat ini diperuntukkan untuk mendukung usaha perikanan budidaya sebagai program percepatan peningkatan infrastruktur tambak. “Jadi tidak dibenarkan untuk kegiatan lain di luar sektor perikanan,” tegasnya.

Selain menerima bantuan beko, Pemkab Aceh Tamiang melalui Dinas Pangan, Kelautan dan Perikanan juga menerima bantuan paket irigasi Pitap senilai Rp 225 juta.

Sekda Haili Yoga : 90 Persen Masyarakat Bener Meriah Menjalankan Program Ketahan Pangan  

Seorang Personel Bhabinkamtibmas Polsek Ketol Aceh Tengah Bantu Masyarakat Salurkan Air Bersih

Kerusakan Tambak di Aceh Tamiang Diprediksi Mencapai 10 Ribu Hektare

Bantuan ini juga tidak kalah penting, mengingat kondisi jaringan irigasi terintregasi sudah banyak yang dangkal.

Pengerjaan irigasi itu akan dilakukan secara manual dan melibatkan para pembudidaya ikan dan udang serta masyarakat di sekitar tambak. Sistem manual ini diperlukan untuk menghindari keruakan habitat hutan mangrove.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved