Breaking News:

Opini

Ancaman Resesi

Virus corona telah menggemparkan dunia. Hampir semua sendi kehidupan terpukul. Beberapa negara di dunia telah mengalami resesi ekonomi

Ancaman Resesi
IST
Hendri Achmad Hudori, S.ST, M.Si, PNS di BPS Aceh

Hendri Achmad Hudori, S.ST, M.Si

Kasi Neraca Produksi Badan Pusat Statistik Aceh

Virus corona telah menggemparkan dunia. Hampir semua sendi kehidupan terpukul. Beberapa negara di dunia telah mengalami resesi ekonomi. Akankah Indonesia bernasib serupa atau bisa melewati badai tersebut?

Virus corona diduga pertama kali muncul pada akhir 2019 di kota Wuhan, Cina. Setelah itu menyebar cepat ke banyak negara di dunia, sehingga pada 11 Maret 2020, World Health Organization (WHO) mengumumkan virus corona (Covid-19) sebagai pandemi global. Jumlah korban Covid-19 terus bertambah. Menurut WHO, sampai saat ini (4 Agustus 2020) jumlah orang yang terinfeksi mencapai 18.142.718 orang dengan korban meninggal dunia 691.013 orang. Di Indonesia, jumlah terinfeksi mencapai 113.134 orang dengan korban meninggal 5.302 orang. Di Aceh, menurut data Dinas Kesehatan Aceh,  jumlah terinfeksi mencapai 440 orang dengan korban meninggal 17 orang.

Untuk mencegah penyebaran Covid-19, beberapa negara melakukan lockdown. Ini dilakukan untuk menyelamatkan banyak nyawa karena Covid-19 menular sangat cepat dan terbukti mematikan. Di satu sisi, lockdown dapat mengurangi jumlah kematian akibat pandemi, namun di sisi lain bisa mematikan aktivitas ekonomi dan membuat banyak orang kehilangan pekerjaan, bahkan bisa menyebabkan resesi.

Apa itu resesi? Biro Riset Ekonomi Nasional Amerika Serikat (NBER) mendefinisikan resesi yaitu periode penurunan total output, pendapatan, pekerjaan dan perdagangan, biasanya berlangsung enam bulan hingga satu tahun, dan ditandai oleh kontraksi luas di banyak sektor ekonomi. Para ahli ekonomi sepakat, suatu negara dikatakan mengalami resesi jika Produk Domestik Bruto (PDB) mengalami kontraksi atau minus dalam 2 triwulan beruntun secara tahunan (year-on-year/ y-on-y).

Beberapa negara yang telah mengalami resesi akibat pandemi Covid-19 antara lain: Prancis, Italia, Spanyol, Jerman, dan Singapura. Hal itu terlihat dari pertumbuhan ekonominya yang minus dalam 2 triwulan beruntun (y-on-y). Pada triwulan I 2020, ekonomi masing-masing negara tersebut minus 5,7 persen, 5,5 persen, 4,1 persen, 2,3 persen dan 0,3 persen. Kemudian turun semakin dalam pada triwulan II menjadi minus 19 persen, 17,3 persen, 22,1 persen,  11,7 persen dan 12,6 persen (tradingeconomic.com).

Amerika Serikat (AS) sebagai negara ekonomi terbesar di dunia juga mengalami penurunan ekonomi yang sangat tajam. Pada triwulan II tahun ini, pertumbuhan ekonomi AS minus 9,5 persen, sementara pada triwulan I masih tumbuh positif 0,3 persen.

Bagaimana dengan Indonesia? Seperti halnya AS, Indonesia juga mengalami penurunan ekonomi pada triwulan II tahun ini, yaitu minus 5,32 persen (y-on-y), sementara pada triwulan I masih menunjukan pertumbuhan positif sebesar 2,97 persen. Sementara ini, tampaknya Indonesia belum dapat dikatakan mengalami resesi, kecuali pada triwulan III kembali mengalami penurunan ekonomi.

Dari angka-angka tersebut, terlihat bahwa Covid-19 mempunyai dampak yang jauh lebih besar pada triwulan II dibandingkan triwulan I 2020, karena kebijakan lockdown atau Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) baru diterapkan pada triwulan II.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved