Opini
Aceh Terkepung Tiga Darurat Covid-19
Kecuali Covid-19, semua bencana itu punya status yang jelas secara linear, siaga bencana, tanggap bencana, transisi
Miskinnya informasi, miskinnya pemetaan, dan minimnya prediksi telah mengaburkan langkah menghadapi ledakan kasus. Padahal, melihat dari perkembangan terakhir saja menurut kaedah ilmu dan pengalaman di tempat lain, ini barulah fase awal sekali dari "transmisi komunitas". Percepatan penularannya meningkat tajam dan akan menghasilkan jumlah penderita yang jumlahnya tidak biasa, apalagi bila upaya-upaya pencegahan yang signifikan di lapangan tidak dilakukan.
Mencontoh Taiwan, Vietnam, apalagi Jerman adalah sesuatu yang terlalu tinggi buat Aceh, walaupun ada beberapa ilmuwan kampus yang dapat mengadopsi prinsip mereka untuk kemudian "dilokalkan" menurut kondisi Aceh. Untuk ukuran paling sederhana ambil saja contoh Sumbar yang mampu membuat yang rumit dan mungkin juga mahal menjadi sederhana dan murah.
Mungkin publik Aceh belum tahu, kampus Aceh juga mempunyai ilmuwan kesehatan yang tangguh. Bagaimana pertanggungjawaban sejarah akan dibuat oleh para ilmuwan FKM Universitas Muhamadiyah, Aceh, dua Fakultas Kedokteran kebanggaan daerah-Universitas Syiah Kuala, dan Universitas Malikus Saleh, ketika ada pertanyaan tentang peristiwa Covid-19 di Aceh.
Yang menjadi ironi adalah ketika pertanyaan tentang "tiga darurat" sekaligus, untuk Aceh yang punya waktu empat bulan persiapan. Apa peran ilmuwan kesehatan Universitas Syiah Kuala lulusan Australia, Jerman, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Taiwan, Thailand, dan Malaysia, dan juga dari dalam negeri? Kena
pa Aceh yang APBD-nya Rp 17,2 triliun dengan angka refocusing untuk Covid Rp 1,7 triliun, jauh lebih tinggi dari APBD Sumatera Barat dan Sulawesi Selatan mengalami "tiga darurat" sekaligus? Uangnya banyak, ilmuwan ahli juga cukup banyak. Apa yang salah rupanya? Jawabannya pasti ada, tetapi siapa yang cukup siap menjawabnya?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/prof-dr-ir-ahmad-humam-hamid-ma-guru-besar-fakultas-pertanian-unsyiah.jpg)