Luar Negeri
Irak Masih Butuh Bantuan Pasukan AS Melawan ISIS, PM Segera Temui Donald Trump
Perdana Menteri Irak, Senin (17/8/2020) mengatakan negaranya masih sangat membutuhkan bantuan AS. Dia mengatakan bantuan bukan hanya berbentuk pasukan
SERAMBINEWS.COM, BAGHDAD - Perdana Menteri (PM) Irak, Senin (17/8/2020) mengatakan negaranya masih sangat membutuhkan bantuan AS.
Dia mengatakan bantuan bukan hanya berbentuk pasukan keamanan dan peralatan militer, tetapi juga perekonomian.
Dia akan segera melakukan perjalanan ke Washington, AS untuk menemui Presiden AS, Donald Trump.
Dikatakan, bantuan AS untuk melawan ancaman yang ditimbulkan oleh kelompok Negara Islam (ISIS).
Dia menegaskan pemerintahannya berkomitmen memperkenalkan reformasi sektor keamanan, termasuk mengakhiri kelompok milisi nakal.
Karena melakukan serangan hampir setiap hari terhadap kursi pemerintahannya.
“Pada akhirnya, kami masih tetap membutuhkan kerjasama dan bantuan pada tingkat yang mungkin memerlukan dukungan langsung dan militer, dan lapangan,” kata Mustafa al-Kadhimi.
Tetapi, katanya, bergantung pada sifat perubahan ancaman yang ditimbulkan oleh kelompok teroris.
• Lebanon Tangkap Kepala Bea Cukai, 30 Orang Masih Dinyatakan Hilang Akibat Ledakan Dahsyat Beirut
• Puluhan Warga Binaan Lapas Calang Terima Remisi
• Wali Kota Subulussalam Perintahkan Semua Instansi Terapkan Protokol Kesehatan Covid-19
Al-Kadhimi dijadwalkan bertemu dengan Presiden Donald Trump di Washington minggu ini.
Untuk menyelesaikan dialog strategis yang diluncurkan pada Juni 2020 untuk mengkonfigurasi ulang hubungan AS-Irak.
Dalam wawancara eksklusif Senin (17/82020) dengan Associated Press (AP), dia mengatakan pasukan Irak mampu memerangi ISIS tanpa pasukan tempur asing.
Tapi, katanya, tahap kerjasama selanjutnya dengan AS akan membutuhkan pelatihan lanjutan dan dukungan senjata.
Disumpah sebagai perdana menteri pada Mei 2020 setelah protes anti-pemerintah yang bersejarah, pemerintahan al-Kadhimi mewarisi banyak sekali krisis.
Pundi-pundi di negara yang bergantung pada minyak mentah itu dipangkas menyusul penurunan tajam harga minyak.
Sehiangga, menambah kesengsaraan ekonomi yang sudah berjuang dengan serangan pandemi virus Corona global.
Meskipun demikian, pemerintahannya menetapkan agenda yang tinggi termasuk reformasi ekonomi.
Memerangi korupsi, dan membawa senjata di bawah kewenangan negara.
Yang terakhir dengan kelompok milisi nakal yang didukung Iran.
Pembunuhan baru-baru ini terhadap komentator Irak terkemuka Hisham al-Hashimi dan penculikan kurator seni Jerman, Hella Mewis membuat orang mempertanyakan batas-batas kepemimpinannya.
Tapi al-Kadhimi mengatakan ini dilakukan oleh mereka yang berkepentingan untuk mengambil untung dari kekacauan.
“Tindakan kriminal ini adalah hasil dari konflik bertahun-tahun,” katanya.
Dia menyalahkan kebijakan buruk dan manajemen yang tidak tepat dari para pendahulunya yang telah merusak otoritas negara.
“Tidaklah mengherankan jika para penjahat bekerja di sana-sini untuk mengacaukan keamanan.”
“Kami berkomitmen mereformasi keamanan dan meningkatkan kemampuan untuk menghadapi tantangan semacam ini.'
"Kami juga meminta pertanggungjawaban yang gagal melindungi warga sipil dan mengakhiri kelompok-kelompok terlarang ini,” katanya.(*)