Breaking News:

Salam

Corona di Aceh Sudah Meledak, Masih Bendel?

Jumlah warga yang positif terjangkit Covid‑19 di Aceh terus meningkat tajam. Dalam sehari pada Senin (17/8/2020), tambahan kasus mencapai 168 orang

FOR SERAMBINEWS.COM
Jumlah warga yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Aceh terus meningkat tajam. Hari ini, Senin (17/8/2020), tambahan kasus mencapai 168. Ini rekor yang belum pernah terjadi di Aceh sejak Maret lalu 

Jumlah warga yang positif terjangkit Covid‑19 di Aceh terus meningkat tajam. Dalam sehari pada Senin (17/8/2020), tambahan kasus mencapai 168 orang. Menurut catatan, ini rekor yang belum pernah terjadi di Aceh sejak Maret lalu. Dengan tambahan sebanyak itu, maka total warga yang terjangkit virus Corona di Aceh, sampai Minggu 17 Agustus 2020, mencapai 1039 orang.

Tambahan 168 kasus positif Covid itu berasal dari Aceh Besar 54 orang, Banda Aceh 50 orang, Aceh Tengah dan Kota Langsa masing‑masing 7 orang, Aceh Selatan, Aceh Timur, Aceh Utara, dan Lhokseumawe masing‑masing 6 orang, Pidie 4 orang, Aceh Tamiang, Nagan Raya, Subulussalam, dan Aceh Singkil masing‑masing 2 orang, Aceh Barat Daya (Abdya) dan Bireuen masing‑masing 1 orang, serta dari luar daerah 12 orang. Hasil swab tersebut hampir seluruhnya keluar dari Laboratorium Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (FK Unsyiah).

Bagi sebagian orang yang peduli terhadap pencegahan penularan virus Corona, angka 168 orang positif dalam sehari adalah fakta yang sangat menakutkan. Akan tetapi, yang lebih menakutkan lagi, masih banyak warga Aceh yang tidak peduli pada wabah yang telah mencabut nyawa beribu-ribu korbannya.

Banyaknya orang yang “mencueki” Corona, membuat situasi semakin sulit di tengah pergerakan virus yang kian masif. Ini tentu memerlukan suatu penanganan pencegahan penularan yang komprehensif baik dari pemerintah dan lainnya. Sebab, bagi pemerintah –apalagi dalam suasana peringatan Hari Proklamasi– melindungi segenap bangsa merupakan suatu kewajiban sebagaimana yang diamanatkan kontistusi.

Pengelolaan kesehatan dari serangan berbagai wabah penyakit memang sudah menjadi perhatian penting pemerintah sebagai sektor utama pemenuhan hak asasi masyarakat. Langkah cepat dan tepat Pemerintah Aceh serta koordinasi yang efektif dengan banyak pihak, sejak Februari hingga medio Juni, Aceh termasuk provinsi yang berhasil mencegah penularan virus Corona. Namun, setelah pertengahan Juni 2020, Aceh seolah kebobolan hingg terjadi “ledakan” seperti sekarang ini. Terjadi klaster-klaster Covid di beberapa tempat, termasuk rumah sakit, puskesmas, dan perkantoran.

Kita tidak ingin menyalahkan siapapun, cuma kita ingin mengatakan bahwa, siapapun yang tidak disiplin mematuhi protokol kesehatan, maka merekalah yang berpotensi menjadi media penyebaran virus mematikan yang berasal dari Tiongkok itu. Banyak orang sekarang tak berusaha menghindari keramaian. Banyak orang beraktivitas di luar rumah tidak menggunakan masker. Banyak orang tak mau cuci tangan pakai sabun meski wastafel dan sabun sudah disediakan di banyak tempat.

Di sisi lain, di tengah perkembangan wabah Corona yang kian meningkat di Aceh, pastilah diperlukan langkah-langkah jatu yang lebih baik, lebih tepat, dan tentu saja lebih tegas dari sebelumnya. Jika memang harus bersikap tegas terhadap mereka yang melanggar protokol kesehatan, maka persiapkan secepatnya landasan hukum untuk menindak orang-orang yang “menyediakan diri” menjadi media penularan virus Corona.

Bagi Aceh, hal yang juga harus tercipta adalah kekompakan eksekutif dan legislatif menghadapi pandemi ini. Jika ini berjalan-sendiri-sendiri, maka tak bisa lahir landasan hukum yang kuat untuk pencegahan Corona di Aceh. Tanpa landasan hukum yang kuat, kita melihat pihak yudikatif kebingungan berkontribusi mencegah Corona.

Dalam kasus membengkaknya jumkah orang yang positif Corona di Aceh bisa jadi juga berkaitan dengan komunikasi yang tidak efektif. Dampaknya, implementasi kebijakan untuk mengubah perilaku di tengah masyarakat menjadi lamban atau gagal. Untuk itu, ke depannya sistem sosialisasi protokol kesehetan kepada masyarakat Aceh mungkin harus diubah atau diperbaiki.

Hal penting lainnya adalah konsistensi antarpihak, antarwaktu, serta antara ucapan dan prilaku pelaksana kebijakan itu sendiri. Jangan sampai mengajak orang pakai masker kita malah tak pakai masker. Mengimbau orang di rumah aja, kita malah keluyuran siang malam. Nah?!

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved