Breaking News:

Opini

Budaya Pop "Hasanah"  

Beberapa bulan terakhir terjadi tren cukup menghebohkan di dunia fashion Aceh. Namun, fenomena ini tidak berhubungan dengan fashion

Budaya Pop
IST
Teuku Kemal Fasya, Dosen Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh

Oleh Teuku Kemal Fasya, Dosen Antropologi FISIP Universitas Malikussaleh

Beberapa bulan terakhir terjadi tren cukup menghebohkan di dunia fashion Aceh. Namun, fenomena ini tidak berhubungan dengan fashion perempuan atau sosialita yang berharga mahal nan modern, seperti tas, abaya, atau sepatu.

Tren itu ialah munculnya fenomena massal menggunakan kupiah meukeutop atau kopiah yang digunakan Teuku Panglima Polim dan last emperor of Aceh, Sultan Muhammad Daudsyah di masa lalu. Tentu pada masa kini, kopiah yang digunakan tidak menjulang seperti era akhir abad 19 atau awal abad 20 itu. "Stupa"nya dipangkas sehingga lebih nyaman dan fungsional saat digunakan bersantai, kegiatan resmi, atau salat. Kopiah ini diproduksi oleh pengrajin tradisional asal Aceh Besar dan Pidie.

Di pesisir timur Aceh, muncul pula model kopiah serupa dengan menggunakan motif pintu (pinto) Aceh dan ornamen tipikal Samudera Pasai. Namun baik model Aceh Rayeuk dan Pasee, keduanya menggunakan motif etnografis "Sumutrah", yaitu mengeksploitasi penggunaan warna merah, kuning, dan hijau, dengan kombinasi warna hitam dan putih secara instrumental.

Menurut Rahmi Fajri, seorang pemuda yang menjual kopiah ini, gerakan penggunaan kupiah Aceh lahir dari sekelompok akademisi yang ingin menggugah kegemilangan masa lalu Aceh dengan bergaya vintage. Tapi demi melihat bagaimana industri ini berkembang, akademisi yang dianggap sebagai pelopor kupiah meukeutop itu bukan tokoh sentral komersialisasi, karena mereka tak ikut kaya raya seperti Mark Zuckerberg dan Eric Yuan dari facebook dan zoom. Mereka masih menjadi sosok sederhana, hanya menjadi pengiklan sosial.

Kini kelompok yang dianggap sebagai pencetus itu seperti Dr. Teuku Muttaqin Mansur dan kawan-kawan sedang berjuang untuk memunculkan gerakan satu juta kupiah Aceh. Kopiah ini pun mulai megah di pasar nasional karena diproduksi oleh pengrajin di pulau Jawa dengan daya edar di kota-kota besar.

"Cultuur volk"

Apa yang terjadi dalam fenomena kupiah meuketop itu dikenal sebagai budaya populer di dalam industri massal. Sebenarnya Aceh sudah cukup terlambat jika melihat bagaimana upia karanji dari Gorontalo yang telah populer lebih dulu setelah digunakan Gus Dur dan Sandiaga Uno, atau kupiah jangang khas Banjar yang terbuat dari akar-akar yang terdapat di hutan Kalimantan. Para turis suka sekali dengan bahan alam non-plastik ini. Apa yang dilakukan oleh tokoh elite itu tak lain mengangkat cultuur volk: budaya dari rakyat kebanyakan, dari sendal-sendal kehidupan sosial-ekonomi yang beralas di mana-mana.

Namun berkembangnya kupiah Aceh di tahun resesi akibat Covid-19 patut disyukuri. Kupluk ini tidak lagi dianggap sebagai simbol pakaian kerajaan dan uleebalang, yang dipakai pada momen resmi dan adat, serta sangat selektif dan berbiaya mahal. Kini kopiah itu mampu diproduksi dan dijual dengan harga murah. Rata-rata para reseller menjual dengan harga Rp. 80-90 ribu. Beberapa pusat kerajinan pakaian di Jawa bisa memproduksi lebih murah, sehingga harga jual terpangkas 10-30 persen dari harga produksi di Aceh.

Demikianlah budaya populer ini berkembang dengan pesat karena pola mimicry. Tidak perlu memahami filosofi orang Aceh untuk bisa memproduksi songkok itu. Cukup dengan skill lihat, teliti, replikasi, dan produksi! Bisa saja ada sentuhan inovatif, tapi sebagian besar hidup dari budaya menjiplak. Seperti masyarakat konsumtif di era sekarang, tidak perlu membeli produk apple, iphone,  atau Samsung yang mahal dan tidak kompatibel dengan banyak gadget lainnya. Cukup membeli produksi buatan Tiongkok, Taiwan, atau India. Harga lebih bersaing dan terjual semudah kacang rebus di musim hujan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved