Hammam Riza Yusuf, BPPT Siapkan Model Simulasi Skenario Penanganan Covid -19 untuk Aceh
Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Dr. Hammam Riza Yusuf siapkan “Model Simulasi Skenario dan Prediksi Pandemi Covid 19 Provinsi..
Penulis: Fikar W Eda | Editor: Jalimin
Laporan Fikar W Eda | Jakarta
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Dr Hammam Riza Yusuf siapkan “Model Simulasi Skenario dan Prediksi Pandemi Covid 19 Provinsi Aceh." Model tersebut disampaikan pada saat acara Silaturrahim Hijriah Taman Iskandar Muda bersama ratusan tokoh masyarakat Aceh dari seluruh penjuru dunia membahas topik “Hikmah Covid 19 dan Tantangan Bagi Aceh.”
Silaturrahim virtual itu sebagai bagian dari kegiatan menyambut tahun baru 1442 H, merayakan 75 Tahun Kemerdekaan RI, 70 Tahun Taman Iskandar Muda, serta peringatan 15 tahun perdamaian Aceh.
Kepala BPPT, Dr Hammam Riza Yusuf yang merupakan putra asli Aceh, menyampaikan bahwa BPPT saat ini sedang intensif mengembangkan peralatan untuk mendukung penanganan Covid 19 dari sisi teknologi dengan melakukan inovasi dalam bidang kesehatan.
Pembangunan sistem inovasi nasional inipun, sudah dicontohkan BPPT dalam pembentukan Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan Pandemi Covid-19 (TFRIC-19) yang menghasilkan Rapid Diagnostic Test (RDT) kit, PCR (swab) test kit, Mobile Laboratory Biosafety Level 2 (BSL-2), Emergency Ventilator, dan sistem deteksi Covid-19 dengan menggunakan pencitraan medis berbasis kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligences (AI).
Peralatan itu sudah diluncurkan oleh Presiden RI Joko Widodo pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional Tahun 2020, awal Agustus yang lalu.
Terkait penanganan Covid 19 di Aceh, BPPT juga sudah membuat sebuah kajian mulai dari pemberlakuan jam malam pada 31 Maret 2020, PSBB dan kemudian pola New Normal (adaptasi kebiasaan baru) ternyata memperlihatkan bahwa mobilitas masyarakat berkorelasi positif terhadap peningkatan kasus positif Covid 19 di Aceh.
• Hari Ini, Bertambah Lagi 30 Kasus Positif Covid-19 di Aceh, yang Meninggal Sudah 37 Orang
• Ketum TP PKK Pusat, Jangan Anggap Remeh Covid-19, Tertular tak Kenal Jabatan
• VIDEO Polisi Tangkap Dua Pemuda yang Mencekoki Minuman Keras pada Bocah di Luwu Timur
"Kondisi ini mengharuskan Aceh menerapkan pola pencegahan (menurunkan yang tidak terdeteksi agar tidak menularkan) dan pola penyembuhan (meningkatkan laju penyembuhan dan menurunkan angka kematian)," ujar Hammam.
Untuk menumbuhkan pemulihan ekonomi pasca Covid ini, Aceh sebagai daerah pertanian yang kaya sejak zaman dahulu, lanjut Hammam, perlu mencoba menggabungkan kegiatan perekonomian pada masa pandemi tetapi pada waktu yang sama harus melakukan protokol kesehatan Covid-19 yang ketat, dan ini bisa terjadi pada para petani di pedesaan.
"Pada aktivitas perekonomian tradisional, ada hyperconnectivity yang melibatkan banyak orang agar dapat melakukan kegiatan perekonomian. Selama pandemi Covid-19, hyperconnectivity tidak dapat dilakukan dan diganti dengan teknologi informasi dan komunikasi (ICT)," sarannya.
Dalam konsep kegiatan minim kontak, ada kegiatan di pedesaan yang menarik di Aceh. Karena itu, BPPT telah melakukan kerjasama dengan Unsyiah, mendirikan “Pilot Plant Fraksinasi”, untuk memberi nilai tambah nilam Aceh.
Hasil fraksinasi dapat langsung dijual ke pemakai akhir, bukan sebagai produk antara. Penguatan inovasi ini dilakukan sebagai “Pilar Penguatan Sistem Inovasi Minyak Atsiri Aceh”.
Ia mengatakan, Penguatan ini bermakna bagi ekosistem inovasi untuk lingkungan kondusif bagi inovasi dan bisnis industri minyak atsiri, antara lain infrastruktur, regulasi, budaya.
Tindakan yang dilakukan antara lain mengidentifikasi dan memetakan rantai nilai minyak atsiri dalam membentuk klaster industri unggulan untuk menciptakan/ meningkatkan nilai tambah minyak atsiri, dalam rangka dukungan iptek dan inovasi bidang minyak atsiri, dibentuk kerjasama IPTEKIN melalui jaringan INOVASI TRIPLE HELIX (akademisi, bisnis, dan pemerintah) dimana salah satu bentuknya dapat berupa kawasan sains dan teknologi (technopark) yang bisa dibangun di Darussalam.
"Kegiatan ini tentu diharapkanakan bermunculan bisnis-bisnis inovatif minyak atsiri dan menjadi penghela ekonomi pemula berbasis teknologi (teknopreneur) minyak atsiri dan turunannya yang ditujukan untuk melengkapi rantai nilai (hulu-hilir) industri," jelas Hammam.